Minggu, 18/12/2022
Minggu, 18/12/2022
Ilustrasi Kebahagiaan. (Foto: Freepik.com)
Minggu, 18/12/2022

Ilustrasi Kebahagiaan. (Foto: Freepik.com)
Kebahagiaan manusia adalah salah satu hal yang punya standar tak baku. Meski demikian, hal-hal yang menjadi tanda-tanda kebahagiaan, secara umum bisa saja diketahui.
Misal, senyum-senyum tipis alias cengar-cengir yang sulit disembunyikan saat menerima pesan dari gebetan, atau menerima kabar ada orang yang men-transfer sejumlah uang ke rekening.
Hal-hal seperti ini, walaupun bisa dibilang akurat sebagai tanda bahwa orang yang melakukannya sedang bahagia. Tapi tentu tidak bisa dijadikan tolok ukur valid untuk sebuah penelitian tingkat kebahagiaan seseorang atau bahkan sekelompok orang. Badan Pusat Statistik (BPS) pada Januari 2022 lalu merilis survei berjudul Indeks Kebahagiaan Menurut Provinsi 2014- 2021.
Dari survei itu, secara sederhana diketahui pada 2014 hingga 2017 indeks kebahagiaan warga Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami kenaikan dari 71.45 poin menjadi 73.57. Sayangnya, pada tahun 2021, indeks kebahagiaan warga Kaltim, turun menjadi 73.49.
Dari penjelasan di situs resminya, BPS menjelaskan, Indeks Kebahagiaan adalah ukuran tingkat kebahagiaan penduduk, menggambarkan indikator kesejahteraan subyektif dalam 3 dimensi, serta digunakan untuk melengkapi indikator obyektif.
Estimasi tingkat kebahagiaan dihitung berdasarkan data Studi Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK). SPTK 2013 menghasilkan estimasi tingkat kebahagiaan nasional, sementara SPTK 2014 dan 2017 menghasilkan estimasi sampai level provinsi.
Metode pengukuran Indeks Kebahagiaan tahun 2017 mengalami perubahan, karena terdapat penambahan cakupan indeks dibandingkan tahun 2014. Pada tahun 2014, Indeks Kebahagiaan hanya menggunakan Dimensi Kepuasan Hidup. Sedangkan pada tahun 2017, Indeks Kebahagiaan mancakup juga Dimensi Perasaan (Affect) dan Dimensi Makna Hidup (Eudaimonia).
Perubahan lainnya, pada tahun 2017, Dimensi Kepuasan Hidup terbagi menjadi 2 (dua) subdimensi, yaitu: Subdimensi Kepuasan Hidup Personal dan Subdimensi Kepuasan Hidup Sosial.
Dari penjelasan yang cenderung kurang ramah bagi pembaca awam itu, secara sederhana dapat diambil kesimpulan bahwa selama 2014 hingga 2017, Indeks Kebahagiaan warga Kaltim bergerak naik. Sementara pada 2017 hingga 2021, justru turun.
2014 hingga 2017, adalah masa di mana masyarakat melewati tahun-tahun penuh ketegangan karena kontestasi politik pada tahun 2014. Atas asumsi itu, bisa saja indeks kebahagiaan warga Kaltim naik karena akhirnya terbebas dari masa-masa rumit, kala Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 berakhir.
Semakin jauh dari tahun 2014, indeks kebahagiaan semakin naik. Sementara pada tahun 2021, meski tak signifikan, namun adanya penurunan indeks bisa jadi, didorong oleh serangan Pandemi Covid-19, yang pada 2021, bisa dibilang jadi tahun yang cukup berat.
Tapi, di luar asumsi umum tersebut. Data ini bisa juga dibaca sebagai penurunan kebahagiaan warga, yang disebabkan oleh figur yang memimpin provinsi ini. Pasalnya, 2014 hingga 2017, Kaltim masih dalam kepemimpinan Gubernur Awang Faroek Ishak. Politikus kawakan itu, memimpin Kaltim hingga 2018 saat duet Isran Noor - Hadi Mulyadi memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kaltim mengganti posisinya.
Asumsi ini bisa saja benar, dan bisa saja salah. Tapi, pertanyaan apakah warga Kaltim tak bahagia di bawah kepemimpinan Isran Noor - Hadi Mulyadi? Tetap layak dipertanyakan, mengingat duet itu sebentar lagi akan mengakhiri masa kepemimpinan pada 2023 yang hanya menghitung hari lagi, akan datang.
Menurunnya indeks kebahagiaan dari 73.57 di tahun 2017 menjadi 73.49 pada 2021, bisa saja menunjukkan 2 hal. Pertama, angka itu sejatinya menjadi prestasi karena bisa saja, saat Covid-19 menghantam. Indeks kebahagiaan warga Kaltim, bisa jeblok ke level yang jauh dari apa yang bisa dibayangkan.
Namun, karena kebijakan dan faktor-faktor lain yang dilakukan selama kepemimpinan Isran Noor dan Hadi Mulyadi, maka angka indeks kebahagiaan bisa bertahan setidaknya masih di level 73. Atau, ya opsi kedua. Kebahagiaan warga Kaltim turun, saat Isran-Hadi memimpin. Tapi sekali lagi, itu hanya asumsi. (*)
Penulis: Rusdianto
Minggu, 18/12/2022
Ilustrasi Kebahagiaan. (Foto: Freepik.com)
TERPOPULER