Senin, 07/09/2026
Senin, 07/09/2026
Lahan gambut yang terbakar di Kecamatan Muara Muntai. (Dok. Pemcam Muara Muntai)
Senin, 07/09/2026

Lahan gambut yang terbakar di Kecamatan Muara Muntai. (Dok. Pemcam Muara Muntai)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dinyatakan padam total setelah penanganan selama hampir satu bulan.
Meski kondisi di lapangan kini sudah tidak terdapat titik api dan asap, petugas gabungan tetap diterjunkan ke lokasi guna melakukan pemantauan demi mengantisipasi potensi munculnya titik api baru.
Camat Muara Muntai, Mulyadi, mengatakan, proses pemadaman yang dilakukan sejak 8-9 Agustus 2026 lalu menghadapi tantangan berat karena lahan gambut yang terbakar memiliki kedalaman lebih dari dua meter.
Karakteristik gambut yang menyimpan api di bawah permukaan tanah, ditambah dengan lokasi yang sulit dijangkau, sempat menyulitkan pergerakan petugas di lapangan.
Kini, seluruh titik api utama yang menjadi perhatian kini telah berhasil dikendalikan secara menyeluruh.
“Semuanya sudah kami tangani. Kondisinya sudah zero atau nol kebakaran,” kata Mulyadi, Senin (7/9/2026).
Mulyadi mengapresiasi dukungan penuh dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar yang menerjunkan personel beserta peralatan lengkap. Bantuan ini sangat krusial mengingat sarana di tingkat kecamatan memiliki keterbatasan jangkauan, terutama saat titik api berada ratusan meter dari sumber air.
Ia menilai, pentingnya pengadaan alat pemadam dengan jangkauan selang yang lebih panjang agar jika terjadi peristiwa kebakaran lahan seperti ini dapat terjangkau dan memudahkan dalam melakukan pemadaman.
“Kalau tidak ada peralatan yang memadai, petugas kita di lapangan juga bisa putus asa,” uarnya.
Sementara itu, Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, menegaskan, status zero asap tidak membuat pihaknya lengah. Dua tim kembali dikerahkan ke area bekas terbakar untuk melakukan pengecekan ulang.
Petugas juga memanfaatkan teknologi drone untuk memetakan sisa titik panas (hotspot), terutama pada malam hari saat radiasi panas lebih mudah terdeteksi dari udara.
“Kami kerahkan tim untuk kembali lagi melihat dan melakukan pantauan lewat drone apakah masih ada titik merah atau tidak. Kalau malam lebih jelas lagi titik apinya,” sebut Fida.
Kata dia, salah satu operasi terberat mengharuskan petugas menggelar selang hingga sepanjang 600 meter dari sumber air terdekat demi menjangkau pusat api. Pengalaman harus menjadi pelajaran ke depan bahwa penanganan karhutla harus dilakukan dengan perhitungan matang mulai dari koordinat, ketersediaan air, akses, hingga status kepemilikan lahan.
“Dalam menangani peristiwa Karhutla ini jangan mengira-ngira, kekuatan alat kita harus dihitung benar-benar. Jangan sampai saat main ke lapangan tugasnya tidak tuntas,” tutupnya.
Editor: Erwin
Senin, 07/09/2026
Lahan gambut yang terbakar di Kecamatan Muara Muntai. (Dok. Pemcam Muara Muntai)
TERPOPULER