Jumat, 19/06/2026
Jumat, 19/06/2026
Sutradara dan pemain film Cerita Lila saat perkenalan fim kemarin di Jakarta. (Foto: cinema)
Jumat, 19/06/2026

Sutradara dan pemain film Cerita Lila saat perkenalan fim kemarin di Jakarta. (Foto: cinema)
KORANKALTIM.COM - Ditengah maraknya film horor yang mengangkat kisah mengenai budaya sebuah daerah, Sutradara Bobby Prasetyo justru memilih untuk mengangkat gejolak batin dan beban berat yang dipikul oleh sosok ibu. Perasaan yang lama dipendam oleh seorang ibu justru dapat membawa hal buruk dalam keluarga.
Hal inilah yang ditampilkan secara gamblang dalam sebuah film berjudul “Cerita Lila” yang digarapnya bersama aktris, sekaligus praktisi supranatural Sara Wijayanto.
Bobby ingin cerita yang berasal dari kejadian nyata itu dapat menjadi pengingat bagi penonton bahwa ibu pun merupakan seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan tak melulu bisa bersikap kuat.
Penonton diajak untuk melihat emosi yang kompleks serta melihat masalah dari sudut pandang karakter Tari (Lutesha) dan Rahma (Shareefa Daanish).
Kedua karakter itu mempunyai inti masalah yang sama: tidak beruntung dalam masalah percintaan dan harus bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya.
Baik Tari maupun Rahma mendapatkan tekanan dari sisi pekerjaan dan merasakan kekecewaan terhadap pasangan maupun hidup. Namun keduanya mengambil cara yang berbeda dalam menyelesaikan masalah masing-masing.
Selama film diputar, tim produksi menggunakan alur maju-mundur. Meski demikian, dapat dipastikan alurnya rapih dan tidak membingungkan.
Melansir dari antaranews.com Jumat (19/6/2026) hari ini, film dibuka dengan hari-hari Tari yang mencari pembeli untuk rumah kosong yang diminta atasannya untuk dijual. Rumah itu sudah lama tidak berpenghuni dan selalu sulit untuk dijual. Setiap kali ada calon pembeli yang mampir, rumah itu selalu menunjukkan energi gelap dan mistis.
Nasibnya makin menyedihkan, ketika Tari dan anaknya Nia (Myesha Lin) diusir dari rusun tempatnya tinggal karena menyebabkan kebakaran di unit mereka. Dibanding mendapatkan cemooh dari mantan suaminya, Tari memilih untuk membawa Nia tinggal di rumah kosong itu sementara waktu.
Sejak awal sebenarnya Tari sudah merasakan firasat buruk, namun hal itu diabaikannya dan berusaha mengubah rumah itu menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk Nia.
Ikatan antara Tari dan Nia diperlihatkan secara kuat dan saling pengertian. Meski usia Nia masih terbilang kecil, anak itu digambarkan sebagai sosok yang pengertian, murah senyum dan gemar membantu ibunya.
Semuanya berubah ketika Nia menjalin pertemanan dengan seorang anak kecil bernama Lila (Firzanah Alya), arwah seorang gadis kecil yang masih terikat pada masa lalunya dan terus mencari Lili, saudari kembarnya yang hilang.
Sejak berteman dengan Lila, Nia meminta pada Tari untuk bisa tidur di kamarnya sendiri. Dia juga kerap bermain dengan kursi roda di dekat sumur atau terlihat berbicara sendiri.
Hal ini membuat Tari khawatir dan menjadi tidak peka bahwa ada arwah lain yang perlahan mulai mendekatinya.
Arwah dengan energi gelap itu adalah Rahma yang diketahui semasa hidupnya merupakan seorang penjahit yang juga ibu dari Lila dan Lili.
Berbeda dari Tari yang memilih untuk mengambil jarak sejenak ketika kalut atau bertengkar dengan Nia, Rahma cenderung melakukan kekerasan pada anak-anaknya.
Pernah Lila diseret lalu disiramnya dengan air dari sumur. Rahma juga diperlihatkan mengabaikan Lili ketika batuk-batuk tanpa henti saat duduk di kursi roda.
Rahma juga tidak pernah bercerita masalahnya pada anak-anak dan memilih memendamnya, hingga mengalami stres berkepanjangan. Stres itu yang kemudian mendorongnya mengambil pilihan ekstrem.
Bagi Rahma mungkin keputusan tersebut merupakan yang terbaik untuk lepas dari rasa sakit yang membelenggunya selama ini. Ketidakberdayaan menjadi seorang perempuan maupun ibu ditakutkannya justru membawa petaka pada anak-anaknya.
Emosi intens itu akan sangat nyata dirasakan karena sudut pandang kamera akan mengikuti langkah Rahma ketika memutuskan mengakhiri hidupnya.
Rasa sakit kian menyebar dalam dada Rahma karena tak sempat mengucapkan kata maaf dan memberikan kehidupan yang layak pada Lila dan Lili.
Akhirnya Rahma pun merasuki Tari dan membuatnya hampir melakukan tindakan serupa. Pada adegan ini, penonton akan merasa seperti menaiki roller coaster saking tidak bisa menerka adegan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara Tari beberapa kali akan meluapkan emosinya dengan berteriak pada Nia. Lagi-lagi tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya.
Hingga akhirnya film ditutup dengan kalimat yang cukup menusuk hati. "Maaf ya karena belum bisa jadi mama yang sempurna buat kamu, beri mama waktu ya (untuk memperbaiki semuanya)," kata Tari yang diperankan Lutesha.
Meski menghadirkan suasana yang mencekam dengan alur tak terduga, “Cerita Lila” masih dapat dinikmati dengan nyaman. Tim produksi memasukkan beberapa detail yang memperkuat cerita.
Detail cerita itu, seperti telepon kaleng yang digunakan Lila dan Lili untuk bermain dan saling berkomunikasi. Permainan edukatif itu menggambarkan permainan edukatif yang lekat dengan masyarakat zaman dulu, sebelum adanya gawai canggih seperti masa kini.
Kemudian diselipkan pula adegan dimana mobil polisi yang lewat di depan rumah. Tim produksi seakan memberikan pesan bahwa kekerasan pada anak tetap dapat terjadi meski sudah ada payung hukum yang menekankan akan melindungi kehidupan mereka.
Tekanan sosial yang dirasakan oleh perempuan sampai mati pun juga diperjelas melalui adegan dimana tetangga di sekitar rumah Rahma tetap mencibirnya, meski ia dan anak-anak sudah tiada. Film “Cerita Lila” merupakan jenis film yang hanya dapat dinikmati dengan rasa, bukan kata-kata. Sudah tayang di bioskop per tanggal 18 Juni 2026.
Editor: Aspian Nur
Jumat, 19/06/2026
Sutradara dan pemain film Cerita Lila saat perkenalan fim kemarin di Jakarta. (Foto: cinema)
TERPOPULER