Jumat, 19/06/2026
Jumat, 19/06/2026
Kondisi Layanan Cuci darah di RSUD dr Abdul Rivai Saat Pertama Kali diresmikan. (Foto: Indri/Korankaltim.com)
Jumat, 19/06/2026

Kondisi Layanan Cuci darah di RSUD dr Abdul Rivai Saat Pertama Kali diresmikan. (Foto: Indri/Korankaltim.com)
Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB – Keterbatasan ruang pelayanan hemodialisa (HD) di RSUD dr Abdul Rivai menjadi penyebab utama belum bertambahnya kuota pasien cuci darah di Kabupaten Berau.
Akibat kondisi tersebut, puluhan warga Berau yang menderita gagal ginjal hingga kini masih menjalani terapi di luar daerah karena belum dapat tertampung di rumah sakit setempat.
Direktur RSUD dr Abdul Rivai dr Jusram melalui Humas Dani Apriat Maja menjelaskan, rumah sakit saat ini mengoperasikan delapan mesin hemodialisa yang aktif melayani 48 pasien setiap pekan padahal secara fasilitas, rumah sakit masih memiliki lima mesin tambahan yang siap digunakan dan dukungan dari pihak vendor melalui kerja sama operasional (KSO) juga telah tersedia.
Namun penambahan layanan belum dapat dilakukan karena terkendala regulasi dan standar kelayakan ruang yang ditetapkan oleh BPJS Kesehatan.
“Rumah sakit memiliki lima mesin tambahan yang siap digunakan. Namun, aturan BPJS mengharuskan adanya jarak dan kelayakan ruang tertentu. Dengan luas gedung yang ada saat ini, BPJS hanya dapat mengakomodasi klaim untuk delapan mesin,” kata Dani.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap pasien gagal ginjal asal Berau. Berdasarkan data rumah sakit, sekitar 58 warga Berau masih menjalani cuci darah di Tarakan, Balikpapan dan Samarinda karena kuota pelayanan di daerah belum memungkinkan untuk menerima pasien baru.
Situasi ini tidak hanya membebani pasien secara fisik, tetapi juga memberikan tekanan ekonomi bagi keluarga yang harus tinggal sementara di luar daerah demi mendapatkan layanan kesehatan rutin.
“Pasien dan keluarga harus mengontrak atau tinggal di luar Berau. Ini menjadi beban tersendiri sekaligus pekerjaan rumah yang harus segera kami selesaikan,” sebut Dani lagi.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, manajemen RSUD dr. Abdul Rivai mengusulkan percepatan pemenuhan sarana pendukung di Gedung Walet, khususnya pembangunan lift. Langkah itu diperlukan agar ruang ICU lama dapat dipindahkan ke ICU baru sehingga area layanan hemodialisa bisa diperluas dan memenuhi persyaratan penambahan mesin yang ditetapkan BPJS.
Namun melihat tingginya kebutuhan masyarakat, rumah sakit memutuskan mengambil langkah percepatan dengan memanfaatkan Gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) lama sebagai ruang hemodialisa baru.
Gedung yang sebelumnya direncanakan menjadi pusat layanan kesehatan gigi atau dental centre akan dialihfungsikan sementara untuk pelayanan cuci darah. Sementara itu, layanan dental centre akan dipindahkan ke ruang ICU lama hingga fasilitas di Gedung Walet sepenuhnya siap digunakan.
“Manajemen memutuskan melakukan percepatan dengan memanfaatkan Gedung IGD lama sebagai ruang HD agar kebutuhan pasien dapat segera terlayani,” papar Dani.
Dengan langkah tersebut, RSUD dr Abdul Rivai berharap kapasitas layanan hemodialisa dapat segera bertambah sehingga warga Berau yang selama ini menjalani terapi di luar daerah dapat kembali mendapatkan pelayanan di kampung halaman mereka.
“Komitmen kami adalah meningkatkan kapasitas layanan agar pasien yang selama ini cuci darah di luar daerah bisa kembali ke Berau dan berkumpul bersama keluarganya,” pungkas Dani.
Editor: Aspian Nur
Jumat, 19/06/2026
Kondisi Layanan Cuci darah di RSUD dr Abdul Rivai Saat Pertama Kali diresmikan. (Foto: Indri/Korankaltim.com)
TERPOPULER