Jumat, 18/09/2026
Jumat, 18/09/2026
Kondisi Tangga Arung Square, Kecamatan Tenggarong. (Dok. Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Jumat, 18/09/2026

Kondisi Tangga Arung Square, Kecamatan Tenggarong. (Dok. Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Aktivitas jual beli di sejumlah pasar di Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), mulai sepi. Kondisi ini menjadi satu indikasi melemahnya daya beli masyarakat yang disebut dipicu oleh tertahannya anggaran pemerintah, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan kekeringan yang menghambat sektor pertanian.
Lesunya aktivitas ekonomi terlihat dari sepinya transaksi di sejumlah pasar, di antaranya Tangga Arung Square dan Pasar Mangkurawang. Plt Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar, Burhanuddin, menyebut ada tiga faktor yang menekan daya beli masyarakat.
Ketiganya yakni tertahannya anggaran pemerintah daerah, tingginya angka PHK, serta dampak kekeringan terhadap sektor pertanian. Menurutnya, belum tersalurkannya dana dari pemerintah pusat berdampak pada penundaan sejumlah proyek dan kegiatan di tingkat organisasi perangkat daerah (OPD), kecamatan, hingga kelurahan.
“Tertahannya anggaran pendanaan untuk lapangan maupun pengadaan juga menjadi salah satu penyebabnya,” kata Burhanuddin, Jumat, (18/9/2026).
Mandeknya proyek dinilai menghilangkan peluang pendapatan bagi tenaga kerja lokal yang biasanya mengandalkan upah harian atau swakelola, sehingga perputaran uang di masyarakat menjadi sangat terbatas. Kebijakan efisiensi dari sejumlah perusahaan pertambangan dan perkebunan yang berujung pada pengurangan karyawan turut jadi pemicu.
Banyak warga Kukar menggantungkan hidup pada dua sektor ini, gelombang PHK langsung memangkas pendapatan rumah tangga secara drastis. Dampaknya kini merembet ke pasar-pasar di berbagai wilayah, termasuk Loa Kulu, Sangasanga, dan Samboja. Masyarakat kini cenderung sangat selektif dan hanya memprioritaskan kebutuhan dasar.
“Kalau mengeluarkan uang, paling untuk kebutuhan dasar seperti makan untuk sehari-hari saja. Untuk kebutuhan lainnya ditunda dulu,” sebutnya. Faktor lain yang turut menghambat aktivitas ekonomi adalah minimnya curah hujan dalam beberapa bulan terakhir.
Kekeringan membuat sebagian petani kesulitan mengolah lahan sehingga aktivitas pertanian ikut terganggu. Kondisi tersebut berdampak pada pergerakan ekonomi di desa karena lahan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya, pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian ikut tertekan.
Editor: Erwin
Jumat, 18/09/2026
Kondisi Tangga Arung Square, Kecamatan Tenggarong. (Dok. Muhammad Anshori/KoranKaltim.com)
TERPOPULER