Rabu, 19/08/2026
Rabu, 19/08/2026
Pelaku usaha kelapa sawit di Kaltim yang sedang memanen (istimewa)
Rabu, 19/08/2026

Pelaku usaha kelapa sawit di Kaltim yang sedang memanen (istimewa)
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Kalimantan didorong menjadi penyumbang komoditas kelapa sawit terbesar di Indonesia. Potensi lahan, produksi, serta kontribusi sektor sawit terhadap perekonomian dinilai menjadi modal kuat untuk menggeser dominasi Sumatra yang saat ini masih menjadi penghasil sawit terbesar nasional.
Sekretaris GAPKI Kaltim, Nofriansyah, mengatakan penguatan sektor sawit di Kalimantan perlu didukung kebijakan pemerintah yang mampu menjaga iklim investasi sekaligus mendorong hilirisasi.
Menurutnya, sawit memiliki peran strategis terhadap perekonomian nasional karena tidak hanya menghasilkan komoditas ekspor, tetapi juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara.
“Harapan kita dari acara Borneo Forum kemarin ada satu rumusan masalah dan alternatif opsi yang kita tawarkan kepada pemerintah untuk dijadikan pertimbangan dalam membuat peraturan dan kebijakan,” ujar Nofriansyah kepada Korankaltim.com, Rabu (19/8/2026).
Ia menjelaskan, dorongan tersebut turut menjadi pembahasan dalam Borneo Forum yang digelar di Balikpapan pada Agustus 2026. Forum tersebut mempertemukan pelaku usaha, pemerintah, akademisi, lembaga keuangan, petani, serta mitra perusahaan untuk membahas masa depan industri sawit di Kalimantan.
Nofriansyah menegaskan, Kalimantan saat ini memang belum menjadi penghasil sawit terbesar di Indonesia. Posisi tersebut masih ditempati Sumatra. Namun, Kalimantan memiliki peluang besar untuk meningkatkan produksi dan kontribusinya terhadap industri sawit nasional.
“Harapannya Kalimantan khususnya ingin menjadi (yang terbesar), sekarang belum terbesar. Masih Sumatra nomor satu,” katanya.
Untuk mencapai target tersebut, ia menilai pemerintah perlu memberikan dukungan terhadap investasi dan pengembangan industri sawit. Sebab, dalam setahun terakhir pelaku usaha menghadapi sejumlah tantangan kebijakan, mulai dari Satgas PKH, PP 45 terkait ekspor satu pintu, hingga pungutan ekspor yang berkaitan dengan EUDR.
Menurutnya, berbagai kebijakan tersebut perlu diterapkan dengan tata kelola yang baik agar tidak justru mengurangi minat investasi di sektor sawit.
“Kalau investasi berkurang, niat untuk memperbesar atau memperluas wilayah perkebunan kelapa sawit jadi semakin kecil,” jelasnya.
Di sisi lain, penguatan hilirisasi juga dinilai penting agar peningkatan produksi sawit di Kalimantan tidak hanya berhenti pada komoditas mentah. Di Kaltim sendiri, sejumlah refinery telah beroperasi di Balikpapan, Bontang, Kutai Timur dan Berau.
Namun, untuk produk hilir, pengolahannya di Kaltim saat ini baru mencapai minyak goreng. Karena itu, pengembangan industri hilir dinilai masih perlu diperluas agar nilai tambah komoditas sawit lebih banyak dinikmati di daerah.
“Harapan terbesar kita adalah industri ini tetap sustain atau berkelanjutan sehingga pemangku kepentingan, baik petani, pengusaha maupun pemerintah, bisa terus merasakan manfaat dari komoditas kelapa sawit ini,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Rabu, 19/08/2026
Pelaku usaha kelapa sawit di Kaltim yang sedang memanen (istimewa)
TERPOPULER