Kamis, 09/07/2026
Kamis, 09/07/2026
Ketua IHGMA Kaltim, Hendri Kurniawan. (Foto: Rafik/Korankaltim.com)
Kamis, 09/07/2026

Ketua IHGMA Kaltim, Hendri Kurniawan. (Foto: Rafik/Korankaltim.com)
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Industri perhotelan di Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi tantangan menjaga tingkat hunian kamar. Hingga semester pertama 2026, okupansi hotel diperkirakan masih bertahan di kisaran 50 persen, meski menunjukkan perbaikan dibanding beberapa waktu sebelumnya.
Ketua Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kaltim, Hendri Kurniawan, mengatakan tingkat okupansi tersebut masih belum cukup untuk mendorong pertumbuhan industri secara optimal.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperbanyak penyelenggaraan kegiatan berskala nasional di daerah.
“Kalau dalam satu semester ini, okupansi masih sekitar 50 persen. Artinya ada peningkatan. Meski begitu, dibandingkan 2025, tahun ini sebenarnya masih sedikit lebih rendah,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, pihaknya telah menyampaikan usulan tersebut saat beraudiensi dengan pemerintah daerah. Ia menilai agenda nasional, mulai dari kejuaraan olahraga hingga kegiatan kementerian maupun lembaga, mampu mendatangkan peserta dari berbagai daerah dan memberikan dampak langsung terhadap tingkat hunian hotel.
“Kegiatan seperti itu sangat membantu mendongkrak okupansi hotel karena pesertanya datang dari berbagai kabupaten dan kota, bahkan dari Jakarta. Itu yang menggerakkan ekonomi,” katanya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim. Pada April 2026, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang tercatat sebesar 50,26 persen. Angka tersebut meningkat dibanding Maret 2026, namun masih berada di kisaran yang sama dengan kondisi setahun sebelumnya. Pada Juni 2025, TPK hotel berbintang di Kaltim tercatat sebesar 51,69 persen.
Hendri menegaskan, dampak lesunya okupansi hotel tidak hanya dirasakan pelaku usaha perhotelan, tetapi juga memengaruhi mata rantai ekonomi yang lebih luas.
“Hotel itu seperti lokomotif. Di belakangnya ada banyak gerbong. Kami setiap hari membeli beras dari petani, cabai, telur, ayam dari peternak, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Kalau hotel sepi, otomatis permintaan ikut turun dan banyak sektor terdampak,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pelaku UMKM yang menggantungkan penjualan pada aktivitas hotel. Menurutnya, pemerintah perlu melihat industri perhotelan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang saling terhubung.
“UMKM juga bagaimana mau berjualan kalau hotel sepi. Jadi jangan hanya melihat hotelnya saja, tetapi lihat juga ekosistem di belakangnya. Kalau ekosistem ini terganggu, semua ikut terdampak,” tegasnya.
IHGMA berharap agenda-agenda nasional yang dijadwalkan berlangsung di Kaltim dalam beberapa bulan ke depan dapat menjadi momentum meningkatkan okupansi hotel sekaligus menggerakkan sektor perdagangan, kuliner, transportasi, hingga usaha mikro di daerah.
Editor: Erwin
Kamis, 09/07/2026
Ketua IHGMA Kaltim, Hendri Kurniawan. (Foto: Rafik/Korankaltim.com)
TERPOPULER