Senin, 08/06/2026
Senin, 08/06/2026
(ilustrasi)
Senin, 08/06/2026

(ilustrasi)
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Sampai bulan Mei 2026 lalu, daya beli petani di Kalimantan Timur menunjukkan penguatan. Ditengah kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok menjelang Iduladha, Nilai Tukar Petani (NTP) justru meningkat menjadi 150,68 atau naik 0,57 persen dibanding bulan sebelumnya.
Hal ini diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai yang menyebut kenaikan tersebut terjadi karena pendapatan yang diterima petani tumbuh lebih tinggi dibanding pengeluaran yang harus mereka keluarkan. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) tercatat naik 1,30 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) hanya meningkat 0,73 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan posisi tawar petani masih cukup kuat di tengah tekanan inflasi pangan yang mulai terasa menjelang Hari Raya Iduladha. Kenaikan harga komoditas hasil pertanian mampu mengimbangi bahkan melampaui kenaikan biaya konsumsi rumah tangga dan biaya produksi.
“Tekanan harga pangan menjelang Iduladha terlihat pada komoditas seperti beras, minyak goreng, dan cabai merah yang mengalami kenaikan akibat faktor pasokan, distribusi, serta meningkatnya permintaan masyarakat,” ujar Mas’ud.
Secara regional, capaian NTP Kaltim menjadi yang tertinggi kedua di Pulau Kalimantan setelah Kalimantan Barat yang mencapai 178,38. Di bawah Kaltim terdapat Kalimantan Tengah dengan NTP 139,72, Kalimantan Selatan 131,24, dan Kalimantan Utara 117,88.
Subsektor hortikultura menjadi penopang utama kenaikan NTP pada Mei 2026 dengan pertumbuhan sebesar 2,87 persen. Disusul subsektor peternakan yang naik 1,17 persen, tanaman perkebunan rakyat 0,31 persen, serta tanaman pangan 0,27 persen.
Sementara subsektor perikanan menjadi satu-satunya sektor yang mengalami penurunan dengan kontraksi sebesar 0,67 persen. Kondisi ini menunjukkan belum meratanya perbaikan kesejahteraan pelaku usaha di sektor primer.
Data BPS juga mencatat Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Kaltim pada Mei 2026 mencapai 157,02 atau meningkat 0,46 persen dibanding April 2026. Kenaikan NTUP mengindikasikan usaha pertanian masih mampu menghasilkan keuntungan meskipun biaya produksi terus mengalami tekanan.
Tingginya NTP Kaltim, terutama yang ditopang subsektor perkebunan rakyat dengan angka mencapai 211,89, menjadi sinyal bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penyangga ekonomi masyarakat pedesaan. Namun, pemerintah tetap perlu mewaspadai tekanan harga pangan dan biaya produksi agar peningkatan kesejahteraan petani dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Editor: Aspian Nur
Senin, 08/06/2026
(ilustrasi)
TERPOPULER