Rabu, 02/09/2026
Rabu, 02/09/2026
Sejumlah bahan pokok dijual di pasar tradisional Samarinda. Disdag Samarinda menyiapkan pasar murah untuk menekan kenaikan harga sejumlah komoditas selama kemarau. (Ayu/KoranKaltim.com)
Rabu, 02/09/2026

Sejumlah bahan pokok dijual di pasar tradisional Samarinda. Disdag Samarinda menyiapkan pasar murah untuk menekan kenaikan harga sejumlah komoditas selama kemarau. (Ayu/KoranKaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Selama musim kemarau, ancaman lonjakan harga bahan pangan pokok di Kota Samarinda bakal ditekan melalui rencana gelaran pasar murah tematik oleh Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda.
Kendati demikian, jadwal pasti pelaksanaannya masih menunggu kejelasan mekanisme pembiayaan dari anggaran tanggap darurat.
Kepala Disdag Samarinda Nurrahmani menjelaskan, kegiatan pasar murah tersebut dirancang dengan menyesuaikan komoditas yang menyumbang kenaikan inflasi tertinggi pada setiap pekan.
“Kami telah menyusun agenda kegiatan pasar murah tematik dengan melihat komoditas yang menyumbang persentase kenaikan inflasi setiap minggunya,” ujar Nurrahmani yang akrab disapa Yama, Rabu (2/9/2026).
Berdasarkan pemantauan Disdag, cabai tiung mencatatkan kenaikan harga paling tajam dari Rp60.700 menjadi Rp63.000 per kilogram, atau melonjak sekitar 35 persen dibandingkan awal bulan.
Daging ayam di tingkat distributor juga naik 4,1 persen dari Rp35.700 menjadi Rp37.300 per kilogram akibat tingginya biaya pakan ternak dan peningkatan permintaan. Komoditas ikan layang dan tongkol pun sempat melonjak pada pekan kedua sebelum melandai di kisaran Rp45.000 per kilogram.
“Komoditas seperti cabai, beras, jagung, serta ikan tongkol dan layang menjadi bahan evaluasi kami selama beberapa pekan terakhir,” tutur Yama.
Pelaksanaan program saat ini masih menunggu hasil peninjauan Inspektorat Daerah Kota Samarinda. Hal ini terkait skema alokasi pembiayaan yang diusulkan melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT) pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Disdag Samarinda mengusulkan anggaran sebesar Rp20 juta untuk menggelar pasar murah selama 14 hari di 20 titik lokasi, dengan alokasi Rp1 juta per titik.
Meskipun secara umum dirancang dua titik per kecamatan, penetapan lokasi akhir akan mengutamakan kawasan pinggiran yang paling terdampak kemarau dan kebakaran lahan melalui koordinasi bersama pemerintah kelurahan setempat.
“Kami akan berkoordinasi dengan pihak kelurahan. Jika wilayah pinggiran yang terdampak kebakaran membutuhkan bantuan lebih besar, di sana kegiatan pasar murah akan difokuskan,” jelasnya.
Yama menegaskan, pihaknya tetap berkomitmen menggelar pasar murah sekalipun skema alokasi dana BTT tidak mendapatkan persetujuan.
“Kami akan tetap mencari alternatif pembiayaan lain agar pasar murah bisa terus dilaksanakan,” pungkasnya. (adv)
Editor: Erwin
Rabu, 02/09/2026
Sejumlah bahan pokok dijual di pasar tradisional Samarinda. Disdag Samarinda menyiapkan pasar murah untuk menekan kenaikan harga sejumlah komoditas selama kemarau. (Ayu/KoranKaltim.com)
TERPOPULER