Selasa, 01/09/2026
Selasa, 01/09/2026
Suasana langit Kota Samarinda yang tampak diselimuti asap tipis di tengah musim kemarau. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Selasa, 01/09/2026

Suasana langit Kota Samarinda yang tampak diselimuti asap tipis di tengah musim kemarau. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Kemarau panjang dan kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu kenyamanan warga Kota Samarinda.
Kondisi tersebut tidak hanya mengusik aktivitas harian masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Agustus 2026 mengalami peningkatan sebesar 22 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih menyampaikan, ISPA sejauh ini memang menjadi penyakit yang mendominasi deretan kasus kesehatan masyarakat.
Meski demikian, lonjakan pada Agustus tetap perlu diwaspadai karena bertepatan dengan kondisi lingkungan yang kian mengering.
Kenaikan kasus tersebut berpotensi besar dipicu oleh paparan asap dan debu karhutla yang melanda sejumlah wilayah di Kaltim, termasuk Kota Tepian.
“Terjadi peningkatan 22 persen dibandingkan Juli. Artinya, kemungkinan besar ada potensi keterkaitan dengan kondisi karhutla,” kata Ismed.
Sementara itu, data Dinkes Kaltim mencatat akumulasi kasus ISPA di Samarinda sejak Januari hingga Agustus mencapai 48.230 kasus.
Angka tersebut menempatkan Samarinda sebagai daerah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi kedua di Kalimantan Timur (Kaltim).
Tingginya kasus juga perlu dilihat dari jumlah penduduk Samarinda yang tercatat sebanyak 893.385 jiwa, salah satu yang terbesar di Kaltim.
“Perlu diingat bahwa ada maupun tidak ada kemarau, ISPA merupakan penyakit yang memang selalu mendominasi angka kesakitan,” tuturnya.
Kendati tren kasus meningkat, Ismed memastikan belum terjadi lonjakan kasus berat yang memerlukan rujukan ke rumah sakit.
Mayoritas pasien masih dapat ditangani secara optimal di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), seperti puskesmas dan klinik.
Deteksi dini pun penting dilakukan agar gangguan pernapasan tidak memburuk hingga membutuhkan perawatan intensif. Masyarakat diimbau tidak mengabaikan gejala yang muncul dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Semakin cepat terdeteksi, semakin cepat pula langkah pencegahan dilakukan agar tidak berkembang menjadi penyakit berat,” jelasnya.
Sementara itu Wali Kota Samarinda, Andi Harun meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Sebab, paparan debu dan partikel halus di udara dapat mengancam kesehatan saluran pernapasan secara mendalam.
“Langkah penanganan yang paling efektif saat ini adalah kembali disiplin menggunakan masker,” imbau Andi Harun.
Penggunaan masker dinilai sebagai langkah paling praktis selama kualitas udara belum pulih sepenuhnya.
Selain ancaman ISPA, Pemkot Samarinda juga mengingatkan potensi peningkatan penyakit lain selama musim kemarau, seperti diare dan penyakit kulit yang dipicu keterbatasan serta penurunan kualitas air.
Oleh karena itu, warga diimbau untuk menampung air secara bijaksana, terutama di wilayah yang mulai terdampak penurunan pasokan maupun intrusi air laut.
“Tampunglah air secukupnya dan jangan berlebihan, agar warga lainnya juga tetap mendapatkan kebagian pasokan air bersih,” pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur
Selasa, 01/09/2026
Suasana langit Kota Samarinda yang tampak diselimuti asap tipis di tengah musim kemarau. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER