Kamis, 20/08/2026

A Beautiful Obsession, Kisah Perceraian, Bentrok dengan Haaland dan Kepergian Josep Guardiola dari Manchester City

Kamis, 20/08/2026

Josep Guardiola (tengah), mengungkap sisi pribadi dirinya dalam film dokumentar A Beautiful Obsession. (Foto: Gettyimages)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

A Beautiful Obsession, Kisah Perceraian, Bentrok dengan Haaland dan Kepergian Josep Guardiola dari Manchester City

Kamis, 20/08/2026

logo

Josep Guardiola (tengah), mengungkap sisi pribadi dirinya dalam film dokumentar A Beautiful Obsession. (Foto: Gettyimages)

KORANKALTIM.COM - Sebuah film dokumentar berjudul A Beautiful Obsession mengungkap bagaimana  kondisi pribadi Josep Guardiola membuatnya akhirnya memutuskan untuk meninggalkan klub Liga Inggris Manchester City.

Film yang tayang di Amazon Prime Video sejak 19 Agustus kemarin menceritakan dampak perceraian dan musim 2024/2025 terhadap Manchester City, dalam sebuah tayangan audiovisual yang menunjukkan diskusi di ruang ganti, air mata dan pengumuman kepergiannya dari klub yang menurut Guardiola merupakan respons terhadap keyakinan kalau waktunya telah tiba.

Fokus utamanya adalah bagaimana perpisahan dengan istri Cristina Serra dari tim berdampak pada ruang ganti dan mempengaruhi pelatih asal Catalan Spanypl tersebut serta lingkungan kerjanya. 

Dalam dua episode pertama, krisis pribadi ini berulang kali disebutkan sebagai bagian dari konteks musim terburuknya, seperti yang terungkap dalam sebuah artikel oleh media Amerika The Athletic, yang memiliki akses ke seluruh serial tersebut.

Dalam sebuah adegan yang difilmkan di ruang ganti tim tamu di Stadion Allianz Juventus, Guardiola mengatakan kepada para pemainnya: “Guys, saya ingin mengakui sesuatu. Saya bercerai dari wanita tercantik di planet ini, istri saya, mantan istri saya. Saya sangat mencintainya, tetapi kami telah kehilangan gairah. Apakah saya mencintainya? Ya, tentu saja. Apakah dia mencintai saya? Ya, tetapi kami telah kehilangan gairah,”  

Dari pengakuan ini, ia menghubungkan kehidupan pribadinya dengan tuntutan kompetitif untuk skuadnya: “Dalam hidup kalian, apa pun yang kalian lakukan, lakukanlah dengan penuh gairah. Saya tidak menginginkan pemain yang bagus, saya menginginkan pemain yang penuh gairah,” tegas Guardiola dalam tayangan itu.

Manel Estiarte, seorang kolaborator dekat sang pelatih, menceritakan dalam serial tersebut ia berbicara kepada tim karena ia merasakan kekhawatiran tentang perilaku Guardiola.

“Saya tidak pernah pergi ke ruang ganti untuk berbicara dengan para pemain, hanya sekali. Mereka khawatir karena Pep gugup, sedih, berbeda dan hanya saya yang tahu alasannya. Saya mengatakan kepada tim “Kalian sedang melihat seorang manusia. Dia sedang bercerai,” ungkapnya.

Salah satu pidato terkerasnya disampaikan setelah kekalahan kandang 2-0 dari Bayer Leverkusen , dalam pertandingan musim sebelumnya dimana ia memilih susunan pemain yang banyak dirotasi. “Mungkin saya harus meminta maaf karena melakukan sepuluh perubahan,” katanya kepada pemain.

“Saya merasa sangat bodoh. Saya datang ke sini jam 8 pagi dan menghabiskan berjam-jam mencoba menemukan sesuatu yang akan menyentuh hati kalian. Ketika saya menyapa, kalian membalas sapaan. Ketika saya menyapa dan memeluk kalian, kalian membalas pelukan saya. Karena saya bekerja untuk kalian, saya menjalani hidup saya, perceraian saya, keluarga saya jauh, semuanya, untuk kalian semua. Dan apa yang kalian berikan kembali kepada saya? Penampilan buruk yang kalian tunjukkan. Ini memalukan, kawan-kawan. Sialan!”  tegasnya kala itu.

Film dokumenter itu juga menunjukkan dia hancur sebelum berbicara di Turin, di mana dia berbicara kepada skuad dan mengambil tanggung jawab, bahkan menawarkan untuk pergi.

“Ini kekalahan saya; jika saya menjadi masalah, Anda harus memberi tahu saya. Saya tidak akan tinggal di sini karena uang atau hanya untuk bertahan, saya tidak ingin merasa harus melarikan diri dari Anda,” paparnya di depan para pemain City.

Satu diantara momen paling menegangkan di episode pertama terjadi di Anfield , setelah kekalahan 2-0 dari Liverpool pada Desember 2024.

Disana ditampilkan pertengkaran antara Guardiola dan Kyle Walker ketika bek tersebut mengkritiknya karena mengulang namanya di setiap pertemuan: “Anda terus menyebut nama saya di setiap pertemuan,” kata Walker.

Guardiola menjawab: “Mungkin karena Anda kapten.”

Walker membalas: “Anda tidak ingin saya menjadi kapten. Saya bereaksi terhadap orang lain, saya kehilangan bola, dan entah bagaimana Anda menyebut nama saya.”

Dalam episode ketiga, Guardiola menghadapi Erling Haaland saat jeda final Piala FA. “Apakah kamu lelah?” teriaknya. Ketika sang striker menjawab tidak, ia melanjutkan: “Mengapa kamu tidak berjuang merebut bola?” Teguran berlanjut, campuran antara celaan dan kasih sayang:

“Aku tetap menyayangimu, Erling, seperti seorang ayah, aku tetap menyayangimu. Tapi ini bukan tentang itu. Tidak lebih dari itu. Tunjukkan padaku kamu ingin menang.” 

Serial ini juga menyertakan cuplikan lain tentang kelelahan emosional sang manajer. Setelah kekalahan dari PSG di babak penyisihan grup Liga Champions, ia menjelaskan ia tidak ingin makan, minum atau tidur.

Episode terakhir berfokus pada kepergiannya. Episode ini mengungkapkan bahwa Guardiola ingin mengumumkannya dalam konferensi pers, tetapi Ferran Soriano (kepala eksekutif City) memperingatkannya media luar tidak boleh menjadi yang pertama memberitakan kabar tersebut. 

Serial tersebut menyertakan cuplikan Guardiola menangis saat mencoba merekam video perpisahan yang menyertai pengumuman resmi.

“Jangan tanya mengapa saya pergi. Tidak ada alasan, tetapi jauh di lubuk hati saya tahu ini adalah waktu saya,” ucapnya kala itu.

Beberapa pekan setelah akhir musim, dalam sebuah wawancara yang difilmkan di Barcelona dengan sutradara Kevin MacDonald, sang manajer menguraikan gagasan tersebut.

“Kemenangan memberi Anda kesempatan untuk memperpanjang kontrak, untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi itu bukanlah kunci kebahagiaan,” pungkasnya.

Editor: Aspian Nur

A Beautiful Obsession, Kisah Perceraian, Bentrok dengan Haaland dan Kepergian Josep Guardiola dari Manchester City

Kamis, 20/08/2026

Josep Guardiola (tengah), mengungkap sisi pribadi dirinya dalam film dokumentar A Beautiful Obsession. (Foto: Gettyimages)

Share

Berita Terkait