Dakon dan ular tangga dibuat dalam ukuran besar sehingga tidak sekadar menjadi hiasan, tetapi dapat dimainkan bersama. Konsep tersebut membuat ruang permukiman menjadi tempat berkumpul lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Lurah Karang Ambun, Muliana, mengapresiasi kreativitas tersebut. Menurutnya, kegiatan warga menunjukkan bahwa peringatan kemerdekaan dapat menjadi momentum memperkuat gotong royong sekaligus mengenalkan kembali kearifan lokal.
“Kami mengapresiasi kreativitas warga yang mengangkat kearifan lokal dan budaya Nusantara,” ujar Muliana.
Ia menilai permainan tradisional perlu kembali dikenalkan kepada generasi muda di tengah semakin tingginya penggunaan gawai. Karena itu, kelurahan mendorong setiap RT memasukkan unsur budaya dan kearifan lokal dalam kegiatan peringatan kemerdekaan.
“Anak-anak sekarang banyak dengan gawai. Jadi, kami mendorong permainan tradisional kembali dikenalkan,” katanya.
Selain perlombaan, Kelurahan Karang Ambun juga menyiapkan penilaian lingkungan paling semarak dari 19 RT. Tim juri melibatkan Babinsa dan Bhabinkamtibmas dengan pendampingan kelurahan. Kreativitas dan keunikan menjadi aspek penilaian, tetapi pemasangan bendera Merah Putih tetap menjadi perhatian utama.
“Dekorasi boleh kreatif, tetapi jangan melupakan bendera Merah Putih,” tegasnya. (*)