Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Persoalan proyek sodetan penanganan banjir di kawasan Loa Janan, Kutai Kartanegara mulai menemukan titik terang.
2 menit baca4 kali dibaca

Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Persoalan proyek sodetan penanganan banjir di kawasan Loa Janan, Kutai Kartanegara mulai menemukan titik terang.
Pembangunan sodetan dari Sungai Loa Lah menuju Sungai Loa Janan disepakati dikerjakan secara bertahap, disertai pembuatan pintu air sebagai pengendali arus.
Kesepakatan tersebut diambil setelah Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri, dan Wali Kota Samarinda Andi Harun menggelar rapat koordinasi sekaligus meninjau lokasi proyek di Desa Loa Janan Ulu, Kecamatan Loa Janan, Sabtu (3/10/2026).
Pertemuan lintas daerah ini menjadi solusi atas penolakan warga yang khawatir debit air sodetan akan memperparah genangan di wilayah mereka, terutama saat terjadi air pasang.
Wali Kota Samarinda Andi Harun menyatakan, hasil tinjauan ini menghasilkan skema penanganan bertahap, mulai dari jangka pendek, menengah, hingga panjang demi meredam kekhawatiran masyarakat.
“Kita akhirnya berada pada kesimpulan atau titik temu yang kita bisa dapatkan dari pertemuan ini,” kata Andi Harun usai pertemuan.
Melalui skema ini, pengerjaan fisik sodetan tetap dapat berlanjut tanpa perlu mengalirkan limpasan air ke wilayah tetangga sebelum kapasitas sungai ditata.
“Jadi kegiatan tetap jalan tapi fungsinya tidak akan dilakukan sampai kegiatan di sana normal,” tegasnya.
Untuk penanganan jangka menengah dan panjang, fokus utama dialihkan pada normalisasi Sungai Loa Janan Ulu. Tahapan ini terbilang lebih kompleks karena menyangkut persoalan sosial, seperti ganti rugi lahan dan relokasi warga terdampak di area hilir.
“Yang menengah dan panjangnya ini agak sedikit kompleks. Ada masalah sosialnya, yakni relokasi atau pergantian. Karena menyangkut tentang sektor ilir, sungainya harus dinormalisasi,” jelas Andi Harun.
Dalam skema tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) disepakati menjadi penanggung jawab utama (leading sector) dalam merumuskan dan mengeksekusi penanganan lanjutan bersama Balai Wilayah Sungai (BWS).
“Jadi sekarang kami selesaikan dulu yang jangka pendek biar polemik antar masyarakat ini berakhir,” tambah Andi Harun.
Sementara Aulia Rahman Basri mengapresiasi kepekaan Pemkot Samarinda yang turut memperhitungkan dampak pembangunan sodetan terhadap wilayahnya. Ia membeberkan, sekitar 70 persen wilayah Desa Loa Janan Ulu kerap terendam banjir saat air pasang.
Penutupan pintu air dinilai vital untuk memastikan debit air tidak meluap sebelum normalisasi sungai terlaksana.
“Kami akan pasang pintu air sehingga debit air selama belum dinormalisasi Sungai Loa Janan Ulu ini tidak menambah dan tidak menimbulkan dampak ke masyarakat yang ada di sekitar,” ujar Aulia.
Tim gabungan diharapkan dapat mengefektifkan fungsi koordinasi agar pengerjaan fisik maupun penanganan sosial tuntas pada 2027.
“Kami berharap tim yang sudah dibentuk ini bisa menjalani fungsi dengan baik sehingga di 2027 ini bisa kita laksanakan dan bisa kita tangani dengan baik,” ucap Aulia.
Editor: Aspian Nur
63 kali dibaca

Pusat gempa berada di darat 2 km Barat Kolaka
02 Okt 2026, 18:34:10 WIB • Kedalaman 5 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG