Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Kebutuhan obat di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) tidak seluruhnya dapat dipenuhi melalui pengadaan berbasis Formularium Nasional (Fornas).
Sejumlah obat yang dibutuhkan untuk menangani kondisi penyakit tertentu di daerah berpotensi tidak tersedia karena tidak tercantum dalam daftar obat nasional tersebut.
Kondisi itu menjadi salah satu persoalan dalam pemenuhan obat di fasilitas pelayanan kesehatan Mahulu.
Pengadaan obat pada dasarnya harus mengacu pada Fornas, sementara kebutuhan pasien di daerah dapat berbeda sesuai karakter penyakit dan kondisi pelayanan kesehatan setempat.
Pejabat Teknis Pelaksana Kegiatan (PPTK) Seksi Kefarmasian Dinas Kesehatan P2KB Mahulu, Sofia Deang Wulun, mengatakan persoalan tersebut telah diantisipasi melalui penyusunan formularium kabupaten.
Menurutnya, formularium tersebut disusun bersama tim formularium kabupaten yang telah dibentuk sejak tahun lalu.
Penyusunan itu menjadi dasar untuk mengakomodasi kebutuhan obat tertentu yang tidak tercantum dalam Fornas, tetapi dinilai dibutuhkan berdasarkan kondisi pelayanan kesehatan di Mahulu.
“Fornas itu kita harus mengikuti obat-obatannya. Tapi kalau obat yang kita butuhkan sesuai jenis penyakit di daerah tidak berdasarkan Fornas, kita tidak bisa mengadakannya. Itu yang sering kosong,” kata Sofia, Jumat (2/10/2026).
Ia menjelaskan, kebutuhan obat di luar Fornas tetap dapat diusulkan melalui formularium kabupaten dengan dilengkapi justifikasi dari dokter.
Justifikasi tersebut menjadi dasar bahwa obat tertentu memang dibutuhkan untuk penanganan pasien di wilayah Mahulu.
Menurut Sofia, mekanisme tersebut penting karena daftar obat nasional tidak secara spesifik menggambarkan seluruh kebutuhan kesehatan di setiap daerah.
“Fornas tidak melihat suatu wilayah ini ada kondisi penyakit tertentu yang mewajibkan atau harus ada obat itu,” ujarnya.
Sofia mengatakan, formularium kabupaten yang telah disusun selanjutnya akan menjadi salah satu dasar penguatan pengadaan obat di daerah.
Ketentuan tersebut juga diarahkan untuk dituangkan dalam keputusan kepala daerah.
Selain itu, Dinkes P2KB Mahulu telah menyusun Rencana Kebutuhan Obat (RKO). Penyusunan RKO dilakukan dengan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk memetakan kebutuhan obat yang diperlukan.
Sofia juga mendorong rumah sakit menyusun formularium sendiri dengan mempertimbangkan kebutuhan dokter dan pelayanan spesialis.
Dengan demikian, kebutuhan obat dapat dipetakan berdasarkan kasus yang benar-benar ditangani di masing-masing fasilitas kesehatan.
“Lebih bagus kalau mereka bikin sendiri, jadi mereka tahu kebutuhan dokter spesialisnya,” katanya.
Ke depan, Dinkes P2KB Mahulu akan lebih memfokuskan pendampingan kepada puskesmas dalam pemetaan kebutuhan obat, terutama terhadap kasus-kasus yang belum terakomodasi dalam daftar obat yang tersedia.
Editor: Erwin
Aturan Formularium Nasional Jadi kendala, Mahulu Kesulitan Pemenuhan Obat di Mahulu
2 menit baca2 kali dibaca











