Tambahkan 2026 ke daftar 1986 dan 1998 sebagai pertandingan ketika Argentina memadamkan harapan Inggris di Piala Dunia. "Aku sangat sedih untuk tim, staf, dan para penggemar," kata kapten Inggris Harry Kane. "Kami sudah bekerja sangat keras untuk sampai di sini," ungkapnya. Juara bertahan akan menghadapi juara Eropa, Spanyol, di final Senin (20/7/2026) dini hari di East Rutherford, New Jersey. Yang terbaik dari Amerika Selatan melawan yang terbaik dari Eropa.
Kekalahan bagi Inggris akan menyakiti generasi baru penggemar dengan cara yang mirip dengan gol tangan kontroversial Diego Maradona di perempat final Piala Dunia 1986 dan kekalahan adu penalti pada 1998 ketika David Beckham diusir karena menendang Diego Simeone.
Bedanya kali ini tidak ada rasa ketidakadilan, meskipun Inggris sempat berada dalam posisi menang setelah Anthony Gordon mencetak gol pembuka pada menit ke-55. Inggris sempat bertahan seiring berjalannya pertandingan.
Kiper Inggris, Jordon Pickford, membuat penyelamatan penting sementara Mac Allister mengirim sundulan mengenai tiang saat gelombang demi gelombang serangan Argentina datang. Messi sebagian besar dijaga dengan ketat.
Tapi saat dia berada di lapangan, semuanya terasa mungkin. Dia mengoper bola ke Fernandez untuk menyapu gol penyama dari luar kotak di menit ke-85. Dan dua menit memasuki waktu tambahan, Messi mengirim umpan silang untuk Martinez yang menanduk gol kemenangan. Hampir terasa tak terelakkan.
Terutama mengingat berapa kali Argentina menolak untuk menyerah di Piala Dunia tahun ini. Dari Cape Verde hingga Mesir, Messi dan kawan-kawan selalu tampak menemukan caranya.
“Ini adalah pertunjukan kebersamaan, persaudaraan yang kami jalani, perjuangan hingga akhir yang kami miliki. Kami siap untuk pulang, sedih, mengetahui bahwa kami telah memberikan segalanya di lapangan, tapi setelah mereka mencetak gol, kami benar-benar membuktikan diri,” kata pelatih Argentina, Lionel Scaloni.
Sebaliknya, Inggris gagal di semifinal Piala Dunia untuk ketiga kalinya setelah kalah dari Jerman pada 1990 dan Kroasia pada 2018. Dan ini menjadi satu lagi kesempatan dalam beberapa tahun terakhir ketika para pemain Inggris menyia-nyiakan posisi unggul di tahap akhir turnamen besar.
Mereka memimpin 1-0 melawan Kroasia di semifinal delapan tahun lalu dan kalah 2-1. Mereka unggul 1-0 melawan Italia di final Kejuaraan Eropa 2021 dan kalah lewat adu penalti. Pada Rabu, pergantian pemain pelatih Inggris Thomas Tuchel tampaknya lebih dimaksudkan untuk bertahan, daripada menutup pertandingan dengan gol tambahan.
“Argentina bermain dengan lebih berisiko, bermain dengan lebih ritmis, bermain dengan perasaan mungkin bahwa mereka tidak punya apa-apa untuk kehilangan lagi, yang membuat mereka bebas dan menahan kita karena kami tiba-tiba bermain dengan perasaan bahwa kami punya banyak hal untuk kehilangan,” kata Thomas Tuchel, pelatih Inggris.
Argentina kini selangkah lagi menuju sejarah. Messi, yang kini berusia 39 tahun dan kemungkinan bermain di Piala Dunia terakhirnya, tinggal satu kemenangan lagi untuk semakin memperkuat argumennya sebagai pemain sepak bola terbesar sepanjang masa.
“Kami akan mencoba untuk menang, kami akan memberikan segalanya di lapangan. Sangat sulit untuk membuat orang memahami apa yang diperlihatkan para pemain ini. Ini luar biasa. Kami unik, sungguh, dan ini bukan kesombongan, ini dari hati. Kami unik,” sebut Scaloni.
Editor: Aspian Nur