Selasa, 30/06/2026

PPDB Jalur Prestasi SMPN 1 Tenggarong Diprotes, Wali Murid Sebut Tak Transparan dan Sulit Cabut Berkas

Selasa, 30/06/2026

Ilustrasi. (Foto: Dok. Ai Gemini Flash/Muhammad Anshori)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

PPDB Jalur Prestasi SMPN 1 Tenggarong Diprotes, Wali Murid Sebut Tak Transparan dan Sulit Cabut Berkas

Selasa, 30/06/2026

logo

Ilustrasi. (Foto: Dok. Ai Gemini Flash/Muhammad Anshori)

Penulis: Muhammad Anshori

KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur prestasi di SMP Negeri 1 Tenggarong menuai protes dari orang tua wali murid. 

Sistem penilaian yang tidak transparan serta kendala teknis pada aplikasi pendaftaran daring (online) dituding menjadi pemicu kerugian bagi para calon siswa berprestasi.

Keluhan ini salah satunya disampaikan oleh Didi Tarsidi, seorang wali murid asal Tenggarong Seberang. Ia mempertanyakan akuntabilitas sistem PPDB setelah anaknya, yang merupakan lulusan peringkat pertama di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 006 Tenggarong Seberang, dinyatakan tidak lolos seleksi jalur prestasi di sekolah tersebut.

“Anak saya ini rangking satu di sekolahnya. Secara logika, total SD di Tenggarong itu sekitar 80 sekolah dan di Tenggarong Seberang hanya 98 sekolah. Jika seluruh juara satu dari tiga kecamatan mendaftar ke SMPN 1, totalnya masih di bawah kuota jalur prestasi yang disediakan, yaitu 102 kursi. Pertanyaannya, bagaimana bisa anak yang memegang peringkat pertama kalah bersaing dan tidak lolos,” ujar Didi, Selasa (30/6/2026).

Didi mengungkapkan kejanggalan mulai terlihat saat pengumuman hasil seleksi pasca-penutupan pendaftaran. Di dalam sistem, muncul angka-angka penilaian atau scoring yang sangat tinggi, mulai dari 2.000 hingga menurun ke angka 700, 600 dan 500. Dari total sekitar 186 pendaftar, nilai-nilai tersebut langsung menyusun peringkat kelulusan.

Ia pun mempertanyakan barometer atau formula yang digunakan panitia dalam menetapkan angka tersebut. Pasalnya, sistem sama sekali tidak menampilkan rincian komponen nilai, seperti nilai rata-rata rapor per semester maupun bobot sertifikat prestasi akademik/non-akademik yang telah diunggah dalam format PDF.

“Sistem hanya memunculkan nama pendaftar dan total nilai global saja. Tidak ada penjelasan angka segitu indikatornya dari mana. Akibatnya, muncul kesan seolah-olah nilai tersebut dimasukkan secara sepihak tanpa kejelasan standar,” lanjutnya.

Saat mencoba meminta klarifikasi kepada pihak panitia sekolah, Didi mengaku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. 

Pihak sekolah berdalih bahwa seluruh proses penyeleksian sudah berjalan otomatis secara by system oleh aplikasi. Hal ini disesalkan orang tua karena terkesan menjadikan sistem online sebagai tameng untuk menghindari transparansi publik.

Masalah tidak berhenti di situ. Kerugian yang dialami wali murid kian bertumpuk akibat adanya kendala teknis pada sistem pasca-pengumuman kelulusan.

Setelah dinyatakan tidak lolos, orang tua berniat memindahkan pendaftaran anak mereka ke SMP lain melalui jalur zonasi atau jalur reguler tersisa. Namun, fitur pencabutan berkas di dalam aplikasi PPDB justru mengalami error, tidak bisa diakses, dan hanya mengalami loading terus-menerus.

“Begitu sistem menyatakan tak lulus, ada fitur untuk cabut berkas. Tapi saat dipencet, tidak bisa masuk. Akibatnya data anak kami masih tertahan secara sistem di SMPN 1. Ini jelas menghambat kami untuk mendaftar ke sekolah lain yang juga menggunakan sistem online, karena nomor identitas anak kami masih terkunci di sana,” keluhnya.

Mengingat durasi pendaftaran jalur prestasi yang sangat singkat, hanya berlangsung tiga hari kendala teknis ini dinilai sangat menyandera hak anak untuk mendapatkan sekolah.

Didi meyakini kasus serupa tidak hanya menimpa dirinya, melainkan banyak orang tua murid lain yang memilih diam karena bingung harus mengadu ke mana. 

“Saya harap instansi terkait, khususnya Dinas Pendidikan setempat, segera turun tangan memperbaiki sistem dan membuka posko pengaduan yang responsif demi menjaga integritas dunia pendidikan,” tutupnya.

Hingga kini, Korankaltim.com masih berusaha menghubungi pihak sekolah untuk meminta keterangan terkait keluhan tersebut.

Editor: Erwin

PPDB Jalur Prestasi SMPN 1 Tenggarong Diprotes, Wali Murid Sebut Tak Transparan dan Sulit Cabut Berkas

Selasa, 30/06/2026

Ilustrasi. (Foto: Dok. Ai Gemini Flash/Muhammad Anshori)

Share

Berita Terkait