Jumat, 18/09/2026
Jumat, 18/09/2026
Karhutla di kawasan Muara Ohong, Kecamatan Jempang, yang tercatat sebagai lokasi dengan luasan terbakar terluas di Kubar. (Foto: Dok.BPBD Kubar)
Jumat, 18/09/2026

Karhutla di kawasan Muara Ohong, Kecamatan Jempang, yang tercatat sebagai lokasi dengan luasan terbakar terluas di Kubar. (Foto: Dok.BPBD Kubar)
Penulis: Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) sepanjang 2026 mencapai 6.238,78 hektare. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubar per Jumat (18/9/2026) mencatat terdapat 141 lokasi, dengan luasan terbesar berada di Muara Ohong, Kecamatan Jempang, mencapai 5.392,43 hektare.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kubar, Bambang Pramudito, mengatakan data tersebut masih belum sepenuhnya terpetakan. Beberapa wilayah masih mengalami kendala dalam proses pemetaan akibat kondisi cuaca.
“Data yang masuk saat ini sudah mencapai sekitar 6.238 hektare. Ini belum terpetakan semuanya, masih ada beberapa wilayah yang belum terpetakan karena cuaca,” ujar Bambang kepada Korankaltim.com.
Ia menjelaskan, material yang terbakar di wilayah Kubar cukup beragam. Pada sejumlah lokasi terdapat lahan gambut, sementara di kawasan perkebunan sawit, material yang terbakar salah satunya cover crop atau tanaman penutup tanah dari jenis kacang-kacangan.
Di wilayah rawa dan sekitar danau, rumput-rumputan serta sisa pelapukan dedaunan juga menjadi material yang terbakar. Kondisi tersebut turut membuat asap menjadi lebih tebal.
“Rata-rata material yang terbakar di wilayah Kutai Barat itu ada gambut. Kalau di wilayah sawit atau perkebunan ada cover crop, kacang-kacangan yang terbakar. Kemudian di danau ada rumput-rumputan dan sisa pelapukan dari dedaunan. Itu yang membuat asap menjadi tebal,” jelasnya.
Salah satu lokasi dengan luasan terbesar, yakni Muara Ohong, memiliki karakter wilayah rawa. Bambang menyebut vegetasi berupa rumput yang terdapat di kawasan tersebut juga menjadi salah satu sumber asap.
Penanganan karhutla di lokasi itu tidak mudah. Akses menuju lokasi menjadi salah satu kendala, ditambah kondisi kontur tanah yang basah membuat tim kesulitan menjangkau sejumlah titik untuk melakukan pemadaman.
“Yang terbakar di Muara Ohong itu wilayah rawa. Vegetasinya sejenis rumput gajah, itu juga jadi penyumbang asap. Kemarin memang kita tidak bisa menjangkau untuk pemadaman karena aksesnya. Kondisi kontur tanahnya basah sehingga motor pun tidak bisa masuk,” ujarnya.
Kendala lainnya adalah ketersediaan sumber air. Musim kemarau membuat beberapa titik sumber air di wilayah Kubar mengering, sehingga turut memengaruhi proses penanganan karhutla.
“Untuk ketersediaan sumber air sebenarnya ada kendala juga karena kemarau ini membuat beberapa titik air kering,” katanya.
Untuk penanganan karhutla yang terjadi di wilayah perusahaan, BPBD biasanya mendapat dukungan suplai air dari pihak perusahaan di sekitar lokasi.
Di sisi lain, hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir di Kubar belum memberikan pengaruh signifikan terhadap kondisi kabut asap. Bambang mengatakan kondisi udara di wilayah Kubar juga dipengaruhi asap yang berasal dari luar daerah.
Untuk kondisi karhutla di wilayah Kubar sendiri, kata dia, saat ini BPBD belum menerima informasi mengenai banyaknya titik yang masih menyala. Namun, terdapat kiriman asap dari wilayah Kalimantan Tengah yang berbatasan dengan Kubar, salah satunya dari wilayah Murung Raya.
“Kalau untuk wilayah Kutai Barat saat ini kita tidak menerima informasi untuk titik yang masih menyala banyak. Ada kiriman dari wilayah Kalteng yang berbatasan dengan kita, salah satunya Murung Raya,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Jumat, 18/09/2026
Karhutla di kawasan Muara Ohong, Kecamatan Jempang, yang tercatat sebagai lokasi dengan luasan terbakar terluas di Kubar. (Foto: Dok.BPBD Kubar)
TERPOPULER