Selasa, 09/09/2025
Selasa, 09/09/2025
Aspakusa Makmur Boyolali turut memberdayakan siswa SMK dan mahasiswa untuk magang sekaligus mempelajari teknik grading dan packing sayuran segar dari petani. (Foto: Hendra/Korankaltim.com)
Selasa, 09/09/2025

Aspakusa Makmur Boyolali turut memberdayakan siswa SMK dan mahasiswa untuk magang sekaligus mempelajari teknik grading dan packing sayuran segar dari petani. (Foto: Hendra/Korankaltim.com)
Penulis: Hendra
KORANKALTIM.COM, BOYOLALI - Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan berkualitas, Aspakusa Makmur tampil sebagai model bisnis pertanian modern yang menjanjikan. Berbasis di Kabupaten Boyolali, kelompok tani ini tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga mengelola rantai pasok yang efisien, berorientasi pasar, dan siap menembus peluang ekspor.
Korankaltim.com bersama jurnalis dari berbagai media dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kota Balikpapan berkesampatan mengunjungi Aspakusa Makmur dalam program Capacity Building, Senin (8/9/2025). Aspakusa merupakan singkatan dari Asparagus, Kucai dan Sayuran.
Cabai, asparagus, bayam merah, rosemary, hingga daun mint dipanen sesuai jadwal permintaan. Strategi ini memastikan stok terjaga, harga stabil, dan petani mendapatkan keuntungan yang lebih baik.
“Kami harus menanam sepanjang tahun karena permintaan supermarket datang setiap minggu, bahkan ada yang dua minggu sekali,” kata Dwi Lestari Puji Astuti, Pengelola Aspakusa Makmur, Senin (8/9/2025) kemarin.
MODEL BISNIS BERBASIS PERMINTAAN PASAR
Aspakusa sudah mengantongi kontrak dengan sejumlah retail modern seperti Lotte Mart Solo, Carrefour Paragon, Transmart Maguwo Yogyakarta, hingga Hokky Surabaya. Pola bisnis ini memutus rantai distribusi yang panjang sehingga margin keuntungan berpihak pada petani, bukan pengepul.
“Kami memangkas jalur distribusi agar petani bisa menerima harga bagus. Ini sekaligus mendukung pengendalian inflasi melalui pasokan yang stabil,” tegas Dwi.
Aspakusa juga akan mengembangkan produk frozen vegetables sebagai bentuk diversifikasi dan peningkatan nilai tambah. Produk beku ini menargetkan pasar online dan ekspor, yang masuk dalam program kerja jangka panjang.
INOVASI TEKNOLOGI DAN INFRASTRUKTUR
Untuk menjaga kualitas, Aspakusa mengadopsi teknologi ozon dalam proses pencucian sayur. Teknologi hasil riset Universitas Diponegoro ini membuat sayuran lebih awet, bebas pestisida, dan aman untuk konsumen.
Selain itu, Aspakusa telah memiliki fasilitas cold storage dan armada distribusi khusus. Langkah ini merupakan kunci untuk menjaga kesegaran produk dari lahan hingga rak supermarket.
ROADMAP BISNIS MENUJU PASAR GLOBAL
Aspakusa menyusun roadmap pengembangan dalam tiga tahap:
1. Jangka Pendek (1 tahun): Perbanyak kontrak dengan retail modern, tingkatkan kapasitas petani, dan promosi melalui pameran serta media sosial.
2. Jangka Menengah (2 tahun): Pelatihan SDM, inovasi kemasan, perluasan lahan, dan penetrasi ke hotel, restoran, serta e-commerce.
3. Jangka Panjang (5 tahun): Ekspansi ke pasar ekspor, pemasaran online skala nasional, dan kerja sama dengan universitas untuk riset serta magang.
DUKUNGAN BI JADI KUNCI KEBERLANJUTAN
Sejak 2019, Aspakusa menjadi mitra binaan Bank Indonesia Solo. Dukungan yang diberikan meliputi penguatan kelembagaan, pelatihan digital marketing, dan penyediaan sarana pendukung.
Bahkan pengembangan kelompok tani seperti Aspakusa menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah. Stabilitas pasokan pangan dan menjaga daya beli masyarakat.
Dengan model bisnis yang berorientasi pasar, didukung inovasi teknologi dan akses ke ritel modern, Aspakusa bukan hanya mengangkat kesejahteraan petani, tetapi juga membuka ruang investasi di sektor pangan yang terus tumbuh.
PELUANG MODEL ASPAKUSA DI BALIKPAPAN
Balikpapan memiliki pertumbuhan penduduk dan konsumsi pangan yang tinggi, terutama dari segmen menengah ke atas. Pasar modern seperti Hypermart, Transmart, Lotte Mart, dan jaringan hotel internasional membutuhkan pasokan sayur berkualitas secara konsisten.
Dengan lahan pertanian di kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) serta akses ke pelabuhan laut, konsep seperti Aspakusa dapat dikembangkan oleh kelompok tani setempat.
Sistem tanam bergilir, kontrak dengan retail, dan pemanfaatan teknologi penyimpanan dingin akan mengurangi ketergantungan pasokan dari Jawa. Kemudian menekan biaya logistik dan menjaga harga stabil, membuka peluang investasi UMKM di sektor pertanian modern, dan mendukung pengendalian inflasi pangan di Kalimantan Timur. (*)
Selasa, 09/09/2025
Aspakusa Makmur Boyolali turut memberdayakan siswa SMK dan mahasiswa untuk magang sekaligus mempelajari teknik grading dan packing sayuran segar dari petani. (Foto: Hendra/Korankaltim.com)
TERPOPULER