Kamis, 24/09/2026

F&B Kaltim Tumbuh 13,79 Persen, Bisnis Kuliner Balikpapan Didorong Perkuat Operasional Multi-Outlet

Kamis, 24/09/2026

Co-Founder dan CEO ESB, Gunawan sebelah kiri dalam kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan berlangsung di salah satu Hotel Balikpapan, Kalimantan Timur pada Kamis (24/9/2026). (La Eko-Korankaltim)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

F&B Kaltim Tumbuh 13,79 Persen, Bisnis Kuliner Balikpapan Didorong Perkuat Operasional Multi-Outlet

Kamis, 24/09/2026

logo

Co-Founder dan CEO ESB, Gunawan sebelah kiri dalam kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan berlangsung di salah satu Hotel Balikpapan, Kalimantan Timur pada Kamis (24/9/2026). (La Eko-Korankaltim)

Penulis: La Eko

KORANKALTIM.COM, BALIKPAPAN – Pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Kalimantan Timur mendorong pelaku usaha kuliner memperkuat sistem pengelolaan bisnis, terutama dalam menghadapi ekspansi dari satu outlet menjadi jaringan restoran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Kalimantan Timur tumbuh 13,79 persen pada triwulan II 2026 secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan sektor yang sama secara nasional yang mencapai 10,60 persen. 

Pertumbuhan sektor ini didorong oleh meningkatnya aktivitas pariwisata, perhotelan, dan bisnis kuliner di Kalimantan Timur. Bank Indonesia (BI) Kalimantan Timur juga mendorong sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru daerah. 

Selain itu, aktivitas industri dan investasi terus berkembang, termasuk perluasan kapasitas kilang minyak dan gas (migas) di Balikpapan. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha makanan dan minuman (food and beverage/F&B). Namun, pertumbuhan bisnis dari satu menjadi beberapa outlet menghadirkan tantangan baru. Pelaku usaha tidak hanya dituntut meningkatkan penjualan, tetapi juga memastikan transaksi, persediaan bahan baku, harga pokok penjualan (HPP), pembelian, pembayaran, dan laporan operasional antar-outlet dapat dikendalikan secara konsisten. 

Kebutuhan terhadap sistem operasional yang terintegrasi pun semakin relevan. Bagi bisnis F&B multi-outlet, penggunaan aplikasi kasir saja dinilai belum cukup untuk memantau keseluruhan aktivitas usaha. Sistem point of sale (POS) perlu terhubung dengan pengelolaan inventaris, enterprise resource planning (ERP), back-office, pemesanan pelanggan, operasional dapur, hingga analisis data. Integrasi tersebut memungkinkan pemilik usaha memperoleh informasi yang lebih menyeluruh mengenai kinerja setiap outlet. 

PT Esensi Solusi Buana (ESB), perusahaan penyedia ekosistem teknologi operasional F&B, mencatat pertumbuhan aktivitas transaksi merchant di Balikpapan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Berdasarkan data internal ESB, sebanyak 100 merchant dengan 185 outlet aktif tercatat bertransaksi menggunakan sistem ESB di Balikpapan. Pada outlet yang sama dalam periode perbandingan setara (same-store), jumlah transaksi tumbuh 16,5 persen secara tahunan, sedangkan omzet meningkat 3 persen. 

Data tersebut juga menunjukkan bahwa 37,8 persen merchant ESB di Balikpapan telah memiliki lebih dari satu outlet. Dalam 12 bulan terakhir, sejumlah merchant yang telah menggunakan layanan ESB kembali melakukan ekspansi dengan membuka outlet baru. 

Perkembangan tersebut menandakan adanya perubahan kebutuhan pengelolaan bisnis F&B. Tantangan pelaku usaha tidak lagi sebatas menjalankan satu restoran, tetapi juga menjaga konsistensi operasional dan pengendalian biaya pada sejumlah outlet. Co-Founder dan CEO ESB Gunawan mengatakan, fase ekspansi menjadi tahap krusial yang perlu dipersiapkan secara matang oleh pemilik usaha. 

“Ketika bisnis masih satu outlet, semua bisa dipantau langsung oleh pemiliknya sendiri. Begitu outlet kedua dan ketiga mulai beroperasi, cara kerja seperti itu tidak lagi memadai,” kata Gunawan Kamis (24/9/2026). Ia menyoroti pertumbuhan transaksi F&B di Balikpapan sebesar 16,5 persen, sementara omzet hanya meningkat 3 persen. Menurutnya, perbedaan tersebut perlu dianalisis secara serius oleh pelaku usaha. “Data Balikpapan menunjukkan hal ini dengan jelas, transaksinya tumbuh 16,5 persen, tetapi omzetnya hanya naik 3 persen. Itu adalah sinyal yang perlu dibaca secara serius, bukan sekadar dirayakan,” ucapnya. 

Kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan digelar untuk mendorong pelaku usaha mengevaluasi kinerja bisnis berdasarkan data sebelum membuka outlet berikutnya. “Kopdar Racik Bisnis F&B ini kami hadirkan agar pelaku usaha Balikpapan dapat berhenti sejenak, melihat datanya sendiri, dan mencari tahu apa yang perlu dibenahi sebelum membuka outlet berikutnya,” jelasnya. Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan membahas kesiapan operasional dan manajemen dalam menghadapi pertumbuhan usaha. 

Diskusi tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan dan jumlah cabang, tetapi juga pada kemampuan bisnis membangun sistem kerja yang dapat diterapkan secara konsisten. 

Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan berlangsung pada Kamis (24/9/2026) di Hotel Balikpapan, dihadiri para pelaku usaha F&B lokal yang mengikuti diskusi mengenai penguatan fondasi manajemen dan operasional bisnis. 

Keterlibatan ESB dalam kegiatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pengenalan teknologi, tetapi juga upaya memahami secara langsung tantangan yang dihadapi pelaku usaha kuliner di daerah. 

“Saya selalu percaya, bisnis F&B adalah salah satu bisnis paling jujur yang ada. Pelanggan datang, mencicipi, dan penilaiannya langsung terasa pada hari itu juga. Tidak ada yang bisa disembunyikan dalam waktu lama,” paparnya. Dalam kegiatan tersebut, ESB memperkenalkan sejumlah solusi teknologi untuk mendukung pengelolaan operasional F&B secara terintegrasi, meliputi. 

ESB POS, Sistem kasir berbasis cloud untuk mengelola transaksi secara real-time, memantau penjualan, mengontrol stok bahan baku, dan membantu menghitung HPP. ESB Order, sistem pemesanan digital berbasis kode QR yang memungkinkan pelanggan memesan dan membayar secara mandiri, baik untuk layanan makan di tempat (dine-in) maupun takeaway. 

ESB Core ERP, sistem ERP F&B yang menyediakan informasi stok dan inventaris secara real-time, membantu mengendalikan pemborosan bahan baku, serta mendeteksi penurunan margin. 

OLIN by ESB, teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menganalisis data transaksi dan operasional, memberikan wawasan bisnis, rekomendasi promosi, serta prediksi kebutuhan stok bahan baku. Gunawan menilai pertumbuhan sektor F&B di Kalimantan Timur perlu diikuti dengan peningkatan kemampuan pelaku usaha dalam membaca data bisnis. 

Pengusaha perlu memperhatikan indikator seperti stok, biaya, dan kinerja setiap outlet, bukan hanya jumlah produk yang terjual. Perhatian terhadap pengelolaan biaya, persediaan, dan performa outlet menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan usaha serta mendukung ekspansi bisnis F&B. 

“Kalimantan Timur sedang tumbuh, namun yang membuat saya optimistis justru bukan angka pertumbuhannya, melainkan cara pelaku usahanya menyikapi hal tersebut,” tandasnya. 

Sementara itu, F&B Educator dan Management Consultant, Agung Haryadi, mengatakan persoalan operasional sering kali mulai terlihat setelah sebuah restoran membuka outlet kedua atau ketiga. 

“Banyak pemilik restoran baru menyadari operasionalnya mulai keteteran setelah outlet kedua atau ketiga berjalan, padahal ekspansi seharusnya direncanakan sejak sebelum outlet pertama mencapai keuntungan,” jelas Agung. 

Editor: Aspian Nur

F&B Kaltim Tumbuh 13,79 Persen, Bisnis Kuliner Balikpapan Didorong Perkuat Operasional Multi-Outlet

Kamis, 24/09/2026

Co-Founder dan CEO ESB, Gunawan sebelah kiri dalam kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan berlangsung di salah satu Hotel Balikpapan, Kalimantan Timur pada Kamis (24/9/2026). (La Eko-Korankaltim)

Share

Berita Terkait