KORANKALTIM.COM, SEBATIK - Berjarak 50 meter dari patok perbatasan Indonesia-Malaysia, Nurmega menjalankan usaha camilan. Namanya Jajanan Mega.
Warungnya sederhana di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, perempuan berusia 37 tahun itu memakai LPG 3 kilogram untuk menyalakan api biru di kompornya.
Bagi Nurmega, gas bersubsidi bukan cuma bahan bakar untuk memasak. Harganya turut menentukan modal yang harus ia keluarkan untuk menjalankan usaha kecil dekat perbatasan.
Sebelum menggunakan LPG 3 kilogram, Nurmega memakai gas asal Malaysia yang tabungnya berkapasitas 14 kilogram. Namun, naiknya harga komoditas energi negeri jiran itu membuatnya beralih ke produk dalam negeri, yang menurutnya lebih ekonomis.
“Alasannya pakai 3 kilo? Murah, hemat, agak mudah juga didapat,” ujar Nurmega.

( Nurmega mengemas jajanan otak-otak ikan layang yang ia goreng menggunakan bahan bakar LPG 3 kilogram. Ia beralih ke produk dalam negeri karena harga jual gas negeri jiran kian mahal. (Hendra/Korankaltim.com)
Ia menyebut harga gas Malaysia sebelumnya berkisar Rp200 ribu. Kini naik menjadi Rp280 ribu per tabung. Selain lebih mahal, ketersediaannya juga semakin susah.
Sebaliknya, LPG 3 kilogram ia dapatkan melalui pangkalan maupun warung. Nurmega menyebut harga yang ia bayar di warung sekitar Rp35 ribu per tabung.
"Beda lima ribu aja dari pangkalan," ungkapnya sembari menggorek camilan otak-otak ikan layang pesanan anak-anak perbatasan.
KETIKA HARGA MENENTUKAN PILIHAN
Di Sebatik, produk energi Indonesia dan Malaysia hadir dalam kehidupan masyarakat. Namun harga menjadi pertimbangan utama. Terutama bagi warga yang menggantungkan penghasilan pada usaha kecil dan pekerjaan dengan biaya operasional tinggi.
Habriani, pemilik Pangkalan LPG 3 kilogram Muhammad Khaidir, mengatakan masyarakat semakin memilih tabung bersubsidi Indonesia sejak layanan itu tersedia di Sebatik.
Menurut dia, LPG 3 kilogram lebih terjangkau dan lebih ringan untuk dibawa dibandingkan tabung gas Malaysia.
“Alhamdulillah, semenjak ada LPG 3 kilogram ini, masyarakat memilih yang 3 kilogram karena gas Malaysia selain harganya mahal, juga berat,” ujarnya.
Habriani menjelaskan, pasokan LPG untuk pangkalannya berasal dari Tarakan. Tabung diangkut kapal menuju pelabuhan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik, kemudian dipindahkan ke truk milik agen untuk didistribusikan ke setiap pangkalan.
Ia mengatakan pengiriman LPG 3 kilogram berlangsung satu kali setiap sepekan. "Sudah dua tahun pasokannya lancar," ungkapnya.
Pengalaman serupa disampaikan Nurbaya, warga Desa Sungai Pancang, Kecamatan Sebatik Utara. Ibu rumah tangga ini mengaku tidak susah mendapatkan LPG 3 kilogram.
( Nurbaya menenteng tabung gas bersubsidi yang ia tukarkan di Pangkalan Muhammad Khaidir, Kecamatan Sebatik Utara. Tampak ia juga membawa Kartu Keluarga sebagai syarat mendapatkan LPG 3 Kg. (Hendra/Korankaltim.com) )
Bahkan sebelum tersedia gas bersubsidi, ia hanya mengandalkan kayu bakar agar tungkunya berasap ketika memasak makanan untuk keluarga.
Nurbaya mendapatkan tabung hijau seharga Rp30 ribu, dan ia membawa kartu keluarga sebagai syarat utama. “Kalau gas habis, ya saya datang lagi,” ujarnya.
Namun, menjaga pasokan di perbatasan bukan perkara sederhana. LPG harus menempuh perjalanan antarpulau sebelum sampai ke pangkalan dan konsumen.
PERJALANAN PANJANG LPG MENUJU SEBATIK
Pemilik agen LPG dari PT Sebatik Island Flowers, Abdullah, mengatakan penyaluran gas bersubsidi adalah upaya menjaga ketahanan energi di kawasan perbatasan.
Ia mengungkapkan masyarakat perbatasan cenderung mempertimbangkan harga. LPG 3 kilogram menjadi prioritas karena mendapat subsidi pemerintah.
“Wilayah kami ini berbatasan dua negara, masyarakat tidak melihat produk yang mana. Mereka tahunya murah,” kata Abdullah.

( Pendistribusian LPG 3 kilogram oleh Agen ke Pangkalan Muhammad Khaidir yang juga merupakan outlet Bright Gas. (Hendra/Korankaltim.com) )
Meski demikian, ia mengatakan keterlambatan pasokan dapat memengaruhi pilihan konsumen. Cuaca buruk, persoalan transportasi, dan kelengkapan administrasi kapal bisa menghambat pengiriman.
Abdullah menyebut harga eceran tertinggi LPG 3 kilogram di Sebatik sebesar Rp30 ribu per tabung, berdasarkan keputusan gujbernur bernomor 100.33.1/18/2025. Harga tersebut meningkat dari Rp16.500 karena tidak ada lagi subsidi biaya angkut.
"Keberadaan agen dan pangkalan bukan cuma untuk berdagang. Kami juga menopang upaya pemerintah supaya bahan bakar bersubsidi sampai ke wilayah terluar," imbuhnya.
CUACA MENJADI PENENTU DISTRIBUSI
Salah satu mata rantai penyaluran LPG ke Sebatik adalah KM Mutiara Indah 08. Kapal tersebut dinakhodai Hamsir (54), yang telah delapan tahun bekerja sama dengan Pertamina.
Dalam satu perjalanan, kapal itu dapat mengangkut sekitar 5.500 tabung LPG dari Tarakan menuju Sebatik. "Pelayaran satu malam kalau kondisi normal," ujar Hamsir.
Kapal yang ia kemudikan biasanya berlayar empat hingga lima kali setiap bulan, tergantung kebutuhan pengiriman dan kondisi operasional. Jumlah perjalanan bahkan bisa berkurang jadi tiga kali ketika menghadapi kendala.
"Tantangannya ya cuaca buruk dan gelombang laut," ungkapnya.

( Bongkar muat tabung gas 3 kilogram dari KM Mutiara Indah 08 ke truk pengangkut milik Agen PT Sebatik Island Flowers di dermaga PLBN. (Hendra/Korankaltim.com))
Penundaan pelayaran akibat cuaca bisa berlangsung hingga tiga malam. Meski menghadapi risiko perjalanan laut, Hamsir bersyukur belum mengalami insiden selama bertugas.
"Jika kondisi cuaca rawan untuk berlayar, saya dan awak kapal harus cari tempat berlindung ke pulau terdekat," sambungnya.
Kondisi ini memperlihatkan ketersediaan energi di wilayah perbatasan bergantung lebih dari sekadar jumlah produk. Kapal, jalur angkutan, kondisi laut, dan ketepatan jadwal pengiriman turut menentukan apakah LPG bisa sampai kepada masyarakat sesuai kebutuhan.
Ketika perjalanan tertunda, dampaknya tidak hanya dirasakan agen dan pangkalan. Konsumen yang menunggu tabung gas untuk memasak maupun menjalankan usaha juga terkena imbasnya.
NELAYAN BERALIH DEMI MENEKAN BIAYA MELAUT
Persoalan keterjangkauan energi tidak hanya muncul di dapur rumah tangga. Bagi nelayan tangkap di Sebatik Barat, harga BBM menentukan apakah kegiatan melaut masih memberikan hasil yang sepadan dengan biaya operasional.
Djoardi, 45 tahun, warga Desa Binalawan, Kecamatan Sebatik Barat telah menjalani pekerjaan sebagai nelayan selama sekitar 15 tahun. Ia mengoperasikan dua mesin berkekuatan masing-masing 30 Gross Tonnage (GT) berbahan bakar Biosolar.
Djoardi kerap mencari ikan di perairan Lakat, hingga Tanjung Haus, mengarah ke wilayah Bulungan. Sebelum melaut, ia mendatangi SPBU Kompak di Jalan Perintis. Menunggangi sepeda motor dan membawa tiga jeriken kapasitas 33 liter.
"Iya, saya juga bawa surat rekomendasi," katanya memperlihatkan kertas putih berkop Dinas Perikanan Kabupaten Nunukan nomor 318 KAB/65/65.03/Perikanan/JBT/VII/2026.
Surat rekomendasi itu kemudian ia serahkan ke petugas SPBU Kompak untuk dipindai kode batangnya. Petugas lalu memasukkan nozel ke mulut jeriken untuk mengisi Biosolar yang harganya Rp6.800 per liter.

(Djoardi berbincang dengan petugas SPBU Kompak sambil menunggu pengisian Biosolar ke jeriken. Ia berharap pemerintah tetap memperhatikan kebutuhan energi bagi nelayan. (Hendra/Korankaltim.com))
Sebelumnya, Djoardi menggunakan Solar Malaysia. Ia mengatakan pengeluaran untuk bahan bakar bisa mencapai Rp600 ribu sehari ketika membeli dua jeriken dengan harga Rp300 ribu per jeriken.
“Kalau kita tidak dapat Rp1 juta dalam satu hari, rugi kami,” ujarnya.
Kenaikan harga BBM Malaysia membuat ia semakin sulit menanggung biaya. Djoardi menyebut harga satu drum bahan bakar pernah mencapai Rp3 juta lebih.
Dengan pengeluaran sebesar itu dan hasil tangkapan yang tidak menentu, membuatnya sulit mempertahankan keuntungan. Ia kemudian beralih menggunakan Biosolar.
“Masih bisa membantu, apalagi pembeliannya dimudahkan, bisa per jeriken,” tuturnya.
Djoardi mengatakan telah menggunakan Biosolar sekitar tiga tahun. Kuota yang ia terima 506 liter per bulan untuk kapalnya yang bernama Altwo.
Ketika kuota habis, Djoardi harus menunggu pasokan atau rekomendasi berikutnya. Ia terkadang menghentikan kegiatan melaut untuk sementara.
“Kalau mereka bilang kuotamu sudah habis, kami menunggu lagi. Kalau pakai bahan bakar Malaysia, kami rugi karena selisih harganya jauh,” ujarnya.
Selama menunggu, ia memperbaiki peralatan dan pukat di rumah. Ia juga menyesuaikan lama perjalanan dengan kondisi cuaca serta persediaan BBM.
MENJAGA PASOKAN DARI TARAKAN

(Armada tangki Pertamina memasuki PLBN Sebatik untuk mengisi BBM sebelum didistribusikan ke SPBU maupun)
Kota Tarakan merupakan simpul distribusi BBM untuk Kalimantan Utara dan sebagian Kalimantan Timur.
Fuel Terminal Manager PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Tarakan, Hario Somapangestu, menjelaskan wilayah layanan mencakup Tarakan, Bulungan, Tana Tidung, Malinau, Nunukan, serta Kabupaten Berau.
"Volume penyaluran atau throughput berkisar 1.400 hingga 2.000 kiloliter per hari," paparnya.
Menurut Hario, sekitar 80 persen penyaluran memanfaatkan moda laut dan multimoda. "Sisanya menggunakan jalur darat untuk Pulau Tarakan," ucapnya.
Untuk menjaga pasokan, Pertamina memantau aliran suplai dari Balikpapan serta memperhitungkan waktu perjalanan dari terminal menuju lembaga penyalur. Sehingga memerlukan perencanaan yang matang supaya BBM dan LPG tiba sebelum persediaan masyarakat berada pada level kritis.
“Suplainya terus bergulir secara rutin. Kami pantau agar suplai itu tetap berjalan dengan baik,” kata Hario.
Sebatik mendapatkan penyaluran Biosolar 290 KL per bulan, dan Pertalite 514 KL per bulan. Sedangkan BBM nonsubsidi jenis Pertamax 237 KL per bulan.
Perjalanan dari Fuel Terminal Tarakan menuju Sebatik memerlukan waktu satu hingga dua hari. "Tergantung kondisi cuaca," terangnya.
Menurut Hario, distribusi ke wilayah kepulauan memiliki karakteristik tersendiri. Bahkan daerah yang harus dijangkau melalui sungai bisa menghadapi waktu tempuh lebih panjang karena kondisi pasang surut.