Penulis: Yieli Desvin
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Inflasi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Oktober 2026 turun menjadi 0,07 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,18 persen.
2 menit baca3 kali dibaca

Penulis: Yieli Desvin
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Inflasi Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada Oktober 2026 turun menjadi 0,07 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan September yang mencapai 0,18 persen.
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan turut menahan tekanan inflasi, meski tarif angkutan udara dan komoditas hortikultura masih mengalami kenaikan akibat pemberlakuan kembali biaya tambahan bahan bakar serta terbatasnya pasokan dari daerah pemasok.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan memaparkan, perkembangan inflasi Oktober dipengaruhi pergerakan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi serta rekreasi, olahraga, dan budaya menjadi penyumbang inflasi pada periode tersebut.
“Secara umum, inflasi Oktober 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya,” berdasarkan keterangan BI dalam siaran pers, Senin (2/11/2026).
Tekanan pada kelompok transportasi dipengaruhi masih tingginya tarif angkutan udara seiring pemberlakuan kembali fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar dan kenaikan harga avtur. Sementara itu, sejumlah komoditas hortikultura turut mengalami kenaikan harga akibat keterbatasan pasokan dari daerah pemasok selama musim kemarau.
Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas pangan menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara agregat mengalami deflasi. Secara tahunan, inflasi Kaltim tercatat sebesar 4,04 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,90 persen.
“Tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, sehingga kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara agregat mengalami deflasi,” jelas Jajang dalam rilis tersebut.
Secara spasial, perkembangan harga di wilayah pembentuk Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim menunjukkan perbedaan. Kota Samarinda mencatat inflasi sebesar 0,30 persen dan Balikpapan sebesar 0,15 persen. Sebaliknya, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami deflasi 0,18 persen, sedangkan Kabupaten Berau mencatat deflasi sebesar 0,93 persen.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi melalui strategi 4K, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Salah satu upayanya melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Mahakam Ulu.
Dari sisi ketersediaan pasokan, optimalisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bersama Bulog terus dilakukan. Hingga Oktober 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai sekitar 90 persen dari target. Penguatan distribusi juga dilakukan melalui pemantauan stok BBM dan LPG serta dukungan perbaikan akses jalan darat di Kabupaten Mahakam Ulu.
“Ke depan, TPID di wilayah Kalimantan Timur akan terus memperkuat sinergi dan langkah mitigasi dini melalui implementasi strategi 4K secara konsisten,” ucap Jajang.
Penguatan pengendalian inflasi juga akan diarahkan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Koordinasi pasokan dan kelancaran distribusi menjadi perhatian agar stabilitas harga tetap terjaga serta daya beli masyarakat terlindungi.
Editor: Erwin
Penurunan harga sejumlah komoditas pangan turut menahan tekanan inflasi, meski tarif angkutan udara dan komoditas hortikultura masih mengalami kenaikan akibat pemberlakuan kembali biaya tambahan bahan bakar serta terbatasnya pasokan dari daerah pemasok.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan memaparkan, perkembangan inflasi Oktober dipengaruhi pergerakan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok transportasi serta rekreasi, olahraga, dan budaya menjadi penyumbang inflasi pada periode tersebut.
“Secara umum, inflasi Oktober 2026 terutama disumbangkan oleh kelompok transportasi serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya,” berdasarkan keterangan BI dalam siaran pers, Senin (2/11/2026).
Tekanan pada kelompok transportasi dipengaruhi masih tingginya tarif angkutan udara seiring pemberlakuan kembali fuel surcharge atau biaya tambahan bahan bakar dan kenaikan harga avtur. Sementara itu, sejumlah komoditas hortikultura turut mengalami kenaikan harga akibat keterbatasan pasokan dari daerah pemasok selama musim kemarau.

Di sisi lain, penurunan harga sejumlah komoditas pangan menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut membuat kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara agregat mengalami deflasi. Secara tahunan, inflasi Kaltim tercatat sebesar 4,04 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,90 persen.
“Tekanan inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan, sehingga kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara agregat mengalami deflasi,” jelas Jajang dalam rilis tersebut.
Secara spasial, perkembangan harga di wilayah pembentuk Indeks Harga Konsumen (IHK) Kaltim menunjukkan perbedaan. Kota Samarinda mencatat inflasi sebesar 0,30 persen dan Balikpapan sebesar 0,15 persen. Sebaliknya, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengalami deflasi 0,18 persen, sedangkan Kabupaten Berau mencatat deflasi sebesar 0,93 persen.
Untuk menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memperkuat sinergi melalui strategi 4K, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Salah satu upayanya melalui pelaksanaan Gerakan Pangan Murah di Samarinda, Berau, Kutai Kartanegara, Bontang, Kutai Barat, Kutai Timur, dan Mahakam Ulu.
Dari sisi ketersediaan pasokan, optimalisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bersama Bulog terus dilakukan. Hingga Oktober 2026, realisasi penyalurannya telah mencapai sekitar 90 persen dari target. Penguatan distribusi juga dilakukan melalui pemantauan stok BBM dan LPG serta dukungan perbaikan akses jalan darat di Kabupaten Mahakam Ulu.
“Ke depan, TPID di wilayah Kalimantan Timur akan terus memperkuat sinergi dan langkah mitigasi dini melalui implementasi strategi 4K secara konsisten,” ucap Jajang.
Penguatan pengendalian inflasi juga akan diarahkan untuk menghadapi peningkatan kebutuhan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru. Koordinasi pasokan dan kelancaran distribusi menjadi perhatian agar stabilitas harga tetap terjaga serta daya beli masyarakat terlindungi.
Editor: Erwin

1.225 kali dibaca

Pusat gempa berada di darat 40 km timur laut Sigi
04 Nov 2026, 14:56:34 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG