Sebagian besar sekolah di kecamatan lainnya telah kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Pemulihan aktivitas pendidikan ini dilakukan seiring membaiknya kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kutim.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono mengatakan, perkembangan tersebut menjadi kabar baik bagi dunia pendidikan setelah aktivitas belajar mengajar sempat terganggu akibat paparan asap Karhutla.
“Alhamdulillah 16 kecamatan lainnya sudah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka,” ungkapnya, Jumat (30/10/2026).
Keputusan untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka tidak ditentukan secara sepihak oleh Disdikbud. Penetapan status pembelajaran mengacu pada perkembangan kualitas udara yang dipantau Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim melalui puskesmas di masing-masing kecamatan.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi lingkungan sekolah cukup aman bagi peserta didik maupun tenaga pendidik. Hasil pemantauan kualitas udara kemudian menjadi dasar dalam menentukan mekanisme pembelajaran.
"Ada tiga kategori zona kualitas udara yang menjadi acuan yakni zona merah, kuning dan hijau. Zona merah menunjukkan kondisi udara buruk atau berbahaya sehingga pembelajaran harus dilakukan melalui PJJ," akunya.
Sementara zona kuning menandakan kualitas udara mulai membaik, sedangkan zona hijau menunjukkan kondisi udara relatif baik dan aman untuk pelaksanaan PTM. Puskesmas di setiap kecamatan ikut mengawasi kondisi udara sehingga keputusan pembelajaran dapat disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Sejumlah sekolah sudah lebih dahulu kembali membuka pembelajaran tatap muka secara bertahap sejak awal pekan. Mekanisme tersebut menyesuaikan hasil pemantauan kondisi udara di masing-masing wilayah.
Ia mengingatkan, kebijakan PJJ masih berpeluang diberlakukan kembali apabila kualitas udara memburuk. Sebab, kondisi cuaca dan perkembangan kebakaran hutan serta lahan masih sulit dipastikan.
“Pembelajaran tatap muka tetap bergantung pada kondisi udara. Jika sewaktu-waktu kabut asap kembali meningkat bisa diterapkan kembali," pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin
Sebagian besar sekolah di kecamatan lainnya telah kembali melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Pemulihan aktivitas pendidikan ini dilakukan seiring membaiknya kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kutim.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim Mulyono mengatakan, perkembangan tersebut menjadi kabar baik bagi dunia pendidikan setelah aktivitas belajar mengajar sempat terganggu akibat paparan asap Karhutla.
“Alhamdulillah 16 kecamatan lainnya sudah kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka,” ungkapnya, Jumat (30/10/2026).
Keputusan untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka tidak ditentukan secara sepihak oleh Disdikbud. Penetapan status pembelajaran mengacu pada perkembangan kualitas udara yang dipantau Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim melalui puskesmas di masing-masing kecamatan.
Pemantauan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi lingkungan sekolah cukup aman bagi peserta didik maupun tenaga pendidik. Hasil pemantauan kualitas udara kemudian menjadi dasar dalam menentukan mekanisme pembelajaran.
"Ada tiga kategori zona kualitas udara yang menjadi acuan yakni zona merah, kuning dan hijau. Zona merah menunjukkan kondisi udara buruk atau berbahaya sehingga pembelajaran harus dilakukan melalui PJJ," akunya.
Sementara zona kuning menandakan kualitas udara mulai membaik, sedangkan zona hijau menunjukkan kondisi udara relatif baik dan aman untuk pelaksanaan PTM. Puskesmas di setiap kecamatan ikut mengawasi kondisi udara sehingga keputusan pembelajaran dapat disesuaikan dengan situasi di lapangan.
Sejumlah sekolah sudah lebih dahulu kembali membuka pembelajaran tatap muka secara bertahap sejak awal pekan. Mekanisme tersebut menyesuaikan hasil pemantauan kondisi udara di masing-masing wilayah.
Ia mengingatkan, kebijakan PJJ masih berpeluang diberlakukan kembali apabila kualitas udara memburuk. Sebab, kondisi cuaca dan perkembangan kebakaran hutan serta lahan masih sulit dipastikan.
“Pembelajaran tatap muka tetap bergantung pada kondisi udara. Jika sewaktu-waktu kabut asap kembali meningkat bisa diterapkan kembali," pungkasnya. (Adv)
Editor: Erwin