Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki strategi baru dalam mengatasi penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
2 menit baca5 kali dibaca

Penulis: Muhammad Anshori
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki strategi baru dalam mengatasi penumpukan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Melalui strategi ini, DLHK mendorong seluruh Rukun Tetangga (RT) di Kukar untuk memilah sampah secara mandiri sejak dari rumah dengan memanfaatkan anggaran lingkungan hidup tingkat RT.
Langkah ini diperkuat dengan mengoptimalkan peran 65 bank sampah aktif yang tersebar di 20 Kecamatan di seluruh Kukar.
“Target utamanya untuk memutus rantai pengelolaan lama dan menekan volume sampah harian yang dibuang ke hilir,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, Jumat (30/10/2026).
Ia menilai, penanganan sampah tidak bisa bertumpu sepenuhnya pada petugas kebersihan dan fasilitas pemerintah.
“Saya ingin dengan anggaran di masing-masing RT bisa mengelola sampahnya sendiri. Dirembukkan saja bersama untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Selama ini, masyarakat dinilai masih terjebak dalam pola penanganan konvensional, yakni menumpuk sampah di bak komunal untuk kemudian diangkut ke TPA. Pola ini justru kerap memicu masalah baru, seperti bau tidak sedap dan protes warga di sekitar bak sampah.
Untuk itu, DLHK Kukar mengampanyekan gerakan perubahan perilaku secara masif. Warga diminta membiasakan diri melakukan pemilahan sejak dari dapur rumah masing-masing. Sampah organik dan anorganik harus dipisahkan sebelum dibuang.
“Kita selama ini untuk menangani sampah masih menggunakan pola kumpul, angkut, buang. Ini kebiasaan kita dan harus di ubah menjadi,” kata dia.
Guna menampung hasil pemilahan dari rumah tangga, DLHK Kukar mengandalkan jejaring bank sampah. Keberadaan 65 unit bank sampah yang aktif saat ini menjadi ujung tombak bernilai ekonomi bagi masyarakat.
“Untuk sampah anorganik yang masih bernilai seperti plastik, kertas, dan logam dapat ditukarkan menjadi uang atau tabungan,” ucapnya.
Pihak DLHK menekankan pentingnya keseimbangan pengelolaan antara hulu dan hilir. Jika pengelolaan di tingkat rumah tangga dan RT berjalan optimal, otomatis beban TPA akan berkurang drastis dan masa pakai lahan pembuangan akhir dapat diperpanjang.
Melalui sinergi anggaran RT, gerakan pilah sampah dari rumah, dan optimalisasi bank sampah, DLHK Kukar berharap kebersihan lingkungan dapat terjaga secara mandiri dan berkelanjutan demi mewujudkan permukiman yang bersih tanpa ketergantungan pada bak sampah komunal. (Adv)
Editor: Erwin
Melalui strategi ini, DLHK mendorong seluruh Rukun Tetangga (RT) di Kukar untuk memilah sampah secara mandiri sejak dari rumah dengan memanfaatkan anggaran lingkungan hidup tingkat RT.
Langkah ini diperkuat dengan mengoptimalkan peran 65 bank sampah aktif yang tersebar di 20 Kecamatan di seluruh Kukar.
“Target utamanya untuk memutus rantai pengelolaan lama dan menekan volume sampah harian yang dibuang ke hilir,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, Jumat (30/10/2026).
Ia menilai, penanganan sampah tidak bisa bertumpu sepenuhnya pada petugas kebersihan dan fasilitas pemerintah.

“Saya ingin dengan anggaran di masing-masing RT bisa mengelola sampahnya sendiri. Dirembukkan saja bersama untuk mencari solusi yang sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Selama ini, masyarakat dinilai masih terjebak dalam pola penanganan konvensional, yakni menumpuk sampah di bak komunal untuk kemudian diangkut ke TPA. Pola ini justru kerap memicu masalah baru, seperti bau tidak sedap dan protes warga di sekitar bak sampah.
Untuk itu, DLHK Kukar mengampanyekan gerakan perubahan perilaku secara masif. Warga diminta membiasakan diri melakukan pemilahan sejak dari dapur rumah masing-masing. Sampah organik dan anorganik harus dipisahkan sebelum dibuang.
“Kita selama ini untuk menangani sampah masih menggunakan pola kumpul, angkut, buang. Ini kebiasaan kita dan harus di ubah menjadi,” kata dia.

Guna menampung hasil pemilahan dari rumah tangga, DLHK Kukar mengandalkan jejaring bank sampah. Keberadaan 65 unit bank sampah yang aktif saat ini menjadi ujung tombak bernilai ekonomi bagi masyarakat.
“Untuk sampah anorganik yang masih bernilai seperti plastik, kertas, dan logam dapat ditukarkan menjadi uang atau tabungan,” ucapnya.
Pihak DLHK menekankan pentingnya keseimbangan pengelolaan antara hulu dan hilir. Jika pengelolaan di tingkat rumah tangga dan RT berjalan optimal, otomatis beban TPA akan berkurang drastis dan masa pakai lahan pembuangan akhir dapat diperpanjang.
Melalui sinergi anggaran RT, gerakan pilah sampah dari rumah, dan optimalisasi bank sampah, DLHK Kukar berharap kebersihan lingkungan dapat terjaga secara mandiri dan berkelanjutan demi mewujudkan permukiman yang bersih tanpa ketergantungan pada bak sampah komunal. (Adv)

Editor: Erwin











Pusat gempa berada di darat 7 km barat daya Samosir
30 Okt 2026, 17:29:39 WIB • Kedalaman 3 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG
