Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutim yang telah menginisiasi kegiatan tersebut dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Peringatan Hari Santri bukan hanya agenda seremonial untuk mengenang sejarah perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
"Momentum tersebut harus menjadi dorongan untuk melanjutkan perjuangan melalui kontribusi nyata bagi bangsa," ujarnya.
Peringatan Hari Santri ini memberikan semangat untuk kembali mengingat perjuangan para ulama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tidak cukup hanya mengenang sejarah, melainkan harus ikut memperkuat negeri ini.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap penampilan ribuan pemain rebana dan bedug yang mampu menghasilkan irama salawat secara harmonis. Penampilan tersebut membutuhkan kekompakan, koordinasi serta kepemimpinan yang baik.
Ke depan ia berharap agar Santri Kutim Berselawat dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu agenda rutin dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kutim.
Ketua PCNU Kutim Susmanto menjelaskan, parade rebana yang melibatkan ribuan peserta merupakan hasil pengembangan kegiatan peringatan Hari Santri yang telah dimulai sejak dua tahun sebelumnya. Sejak 2024, parade rebana mulai diperkenalkan sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
"Seiring berjalannya waktu, konsep tersebut terus dievaluasi dan dikembangkan hingga mampu menghadirkan sekitar lima ribu rebana dan bedug pada pelaksanaan tahun ini," ujarnya.
Penggunaan rebana bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari tradisi dakwah Islam yang berkembang melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal masyarakat.
“Hal yang perlu kita jaga keberlangsungan tradisi nasional ini. Rebana menjadi salah satu warisan budaya yang patut kita banggakan dan lestarikan bersama,” ungkapnya.
Pelaksanaan mendatang dapat dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak kesenian tradisional lainnya. Kegiatan tersebut tidak hanya semakin semarak, tetapi juga menjadi sarana menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
"Kami diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat semangat kebersamaan, kecintaan terhadap selawat serta penghargaan terhadap perjuangan ulama dan santri," pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kutim yang telah menginisiasi kegiatan tersebut dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Peringatan Hari Santri bukan hanya agenda seremonial untuk mengenang sejarah perjuangan ulama dan santri dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
"Momentum tersebut harus menjadi dorongan untuk melanjutkan perjuangan melalui kontribusi nyata bagi bangsa," ujarnya.
Peringatan Hari Santri ini memberikan semangat untuk kembali mengingat perjuangan para ulama dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Tidak cukup hanya mengenang sejarah, melainkan harus ikut memperkuat negeri ini.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap penampilan ribuan pemain rebana dan bedug yang mampu menghasilkan irama salawat secara harmonis. Penampilan tersebut membutuhkan kekompakan, koordinasi serta kepemimpinan yang baik.
Ke depan ia berharap agar Santri Kutim Berselawat dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan pada tahun-tahun mendatang. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi salah satu agenda rutin dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kutim.
Ketua PCNU Kutim Susmanto menjelaskan, parade rebana yang melibatkan ribuan peserta merupakan hasil pengembangan kegiatan peringatan Hari Santri yang telah dimulai sejak dua tahun sebelumnya. Sejak 2024, parade rebana mulai diperkenalkan sebagai bagian dari rangkaian perayaan.
"Seiring berjalannya waktu, konsep tersebut terus dievaluasi dan dikembangkan hingga mampu menghadirkan sekitar lima ribu rebana dan bedug pada pelaksanaan tahun ini," ujarnya.
Penggunaan rebana bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga bagian dari tradisi dakwah Islam yang berkembang melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal masyarakat.
“Hal yang perlu kita jaga keberlangsungan tradisi nasional ini. Rebana menjadi salah satu warisan budaya yang patut kita banggakan dan lestarikan bersama,” ungkapnya.
Pelaksanaan mendatang dapat dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak kesenian tradisional lainnya. Kegiatan tersebut tidak hanya semakin semarak, tetapi juga menjadi sarana menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
"Kami diharapkan terus tumbuh di tengah masyarakat semangat kebersamaan, kecintaan terhadap selawat serta penghargaan terhadap perjuangan ulama dan santri," pungkasnya. (Adv)
Editor: Aspian Nur