Ketua Tim Verifikator Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, Prof Mega Fatimah Rosana menjelaskan tim telah melakukan penilaian lapangan selama lima hari di wilayah Kabupaten Kutai Timur hingga Kabupaten Berau. Dari sejumlah geosite yang menjadi sampel penilaian, kesiapan kawasan dinilai menunjukkan perkembangan positif.
“Secara umum kesiapannya sudah cukup bagus, meski masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Menurutnya, pengelolaan kawasan tidak lagi hanya berorientasi pada sektor wisata. Keberhasilan geopark justru ditentukan oleh kemampuan setiap geosite menyampaikan nilai ilmiah yang dimiliki sehingga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat maupun wisatawan.
Ia mencontohkan Labuan Cermin yang selama ini dikenal karena fenomena air asin dan air tawar dalam satu kawasan. Keunikan tersebut dinilai memiliki nilai geologi tinggi, namun informasi ilmiahnya masih perlu diperkuat agar pengunjung memahami proses alam yang melatarbelakanginya.
“Pengunjung tidak hanya menikmati wisata, tetapi juga memahami nilai geologinya,” katanya.
Selain Labuan Cermin, Mega juga mengapresiasi pengelolaan Taman Sungai Dumaring yang dinilai telah memadukan unsur konservasi, pendidikan, pariwisata dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Model pengelolaan tersebut dianggap sejalan dengan konsep pengembangan geopark yang berkelanjutan.
Ia juga menilai keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan menjadi modal penting menuju Geopark Nasional. Menurutnya, pendekatan pengembangan geopark memang mengutamakan inisiatif masyarakat atau bottom-up, sehingga keberhasilan kawasan tidak hanya bergantung pada pemerintah.
“Saya sangat mengapresiasi keterlibatan masyarakat. Itu menjadi modal awal yang sangat baik,” tuturnya. (*/kk)