Senin, 15/06/2026
Senin, 15/06/2026
BMKG memperkirakan Kota Tepian berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Senin, 15/06/2026

BMKG memperkirakan Kota Tepian berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan Kota Samarinda masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan, meski awal musim kemarau diperkirakan mulai datang lebih cepat dari biasanya.
Kondisi tersebut dipengaruhi masa peralihan musim yang ditandai dengan pergantian sirkulasi angin dari Monsun Asia menuju Monsun Australia. Pada fase transisi ini, potensi cuaca ekstrem masih perlu diwaspadai.
Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda Wiwi Indasari mengatakan, hingga 20 Juni 2026 curah hujan di Samarinda diperkirakan berada pada kategori menengah dengan intensitas 50 hingga 150 milimeter.
Selain itu, sifat hujan diprediksi berada di atas normal atau lebih basah dibanding kondisi biasanya. “Untuk satu dasarian ke depan, curah hujan diperkirakan berada pada kategori menengah. Sifat hujannya di atas normal atau lebih basah dari biasanya,” ujar Wiwi pada Senin, (15/6/2026).
BMKG memperkirakan musim kemarau mulai terjadi pada awal Juli mendatang. Namun, karena saat ini masih memasuki masa transisi, potensi hujan deras dan cuaca buruk masih terus dipantau.
Masa peralihan musim terjadi akibat perubahan arah angin tersebut yang menjadi penanda datangnya musim kemarau.
Dalam periode ini, pertemuan massa udara juga dapat memicu terbentuknya pusat tekanan rendah yang berpotensi meningkatkan intensitas hujan.
“Di masa peralihan ini, hujan masih sangat mungkin terjadi. Biasanya pertemuan angin juga bisa memicu hujan deras,” katanya.
BMKG memperkirakan periode peralihan berlangsung pada akhir Juni hingga pertengahan Juli. Setelah itu, sebagian wilayah diprediksi mulai memasuki musim kemarau.
Kendati demikian, Wiwi menegaskan musim kemarau tidak berarti wilayah Samarinda akan sepenuhnya bebas dari hujan. Curah hujan masih dapat terjadi, namun dengan intensitas yang lebih rendah.
Maju atau mundurnya musim dipengaruhi berbagai faktor, baik fenomena lokal maupun global. Posisi Kaltim yang berada di sekitar garis khatulistiwa membuat perubahan iklim di wilayah ini cukup dinamis.
Fenomena seperti El Nino, La Nina, hingga berbagai gangguan atmosfer lainnya turut memengaruhi waktu datangnya musim.
“Awal musim kemarau tahun ini diprakirakan lebih maju dibanding biasanya. Salah satu faktor yang diindikasikan memengaruhi kondisi tersebut adalah fenomena El Nino,” jelasnya.
BMKG pun mengimbau masyarakat tetap mewaspadai potensi hujan lebat yang masih dapat terjadi selama masa peralihan tersebut, terutama pada akhir Juni hingga pertengahan Juli mendatang.
Editor: Erwin
Senin, 15/06/2026
BMKG memperkirakan Kota Tepian berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan. (Foto: Ayu/Korankaltim.com)
TERPOPULER