Pasiter Kodim 0912/KBR Kapten Inf Moch Wahyudi mengatakan, sebagian besar bangunan yang masih dikerjakan telah menunjukkan progres cukup tinggi. Dari 17 titik tersebut, 16 diantaranya sudah mencapai progres 51 hingga 99 persen. Sementara satu titik lainnya masih berada di bawah 50 persen, yakni KDKMP Kampung Bekokong Makmur dengan progres 47,71 persen.
Beberapa lokasi bahkan telah mendekati penyelesaian. KDKMP Kampung Ngenyan Asa tercatat mencapai progres 98,37 persen, Linggang Amer 98,06 persen, Jengan Danum 96,94 persen, dan Gunung Bayan 96,88 persen. Seluruh 47 titik pembangunan fisik tersebut ditargetkan rampung pada akhir November 2026. Namun, penyelesaian pekerjaan masih menghadapi sejumlah hambatan, terutama dalam pengadaan bahan bangunan.
Sebagian besar material harus didatangkan dari luar Kubar, seperti Pulau Jawa, Samarinda dan Banjarmasin. Selain proses pengiriman, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut berdampak pada meningkatnya harga material.
“Material harus kami datangkan dari luar daerah. Ada yang dari Jawa, Samarinda, maupun Banjarmasin. Dengan kenaikan BBM, harga material juga ikut meningkat,” jelas Wahyudi kepada Korankaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Persoalan lain muncul dalam penyiapan lahan. Sejumlah kampung masih mencari lokasi untuk pembangunan, sementara sebagian lahan yang tersedia memiliki luas kurang dari 700 meter persegi. Dalam pemetaan kebutuhan lokasi, terdapat 21 titik yang masih dalam proses pencarian lahan dan 31 titik dengan luas lahan di bawah 700 meter persegi.
Kondisi geografis juga menjadi pertimbangan. Terdapat tujuh lokasi yang masuk kategori rawan banjir, sembilan lokasi yang jauh dari permukiman penduduk, serta 30 lokasi yang belum memiliki jaringan listrik. Pemetaan tersebut juga mencatat 48 lokasi dengan jumlah penduduk kurang dari 500 jiwa.
Pembangunan di kawasan rawan banjir, terutama yang berada di sekitar bantaran sungai, membutuhkan rancangan konstruksi berbeda dari lokasi lainnya. Penyesuaian desain diperlukan agar bangunan dapat mengikuti kondisi wilayah.
“Untuk daerah yang rawan banjir, tentu konstruksi bangunannya harus berbeda dengan daerah lainnya. Nantinya akan ada desain tersendiri dari Agrinas, khususnya untuk wilayah yang berada di bantaran sungai,” ujarnya.
Berbagai kendala tersebut turut membuat waktu pengerjaan sejumlah bangunan melampaui target. Wahyudi menyebut pembangunan KDKMP dirancang selesai dalam waktu 92 hari. Namun, rata-rata pengerjaan di Kubar melewati batas waktu tersebut karena sejumlah faktor, mulai dari pengadaan material, pematangan lahan, hingga ketersediaan tenaga kerja terampil.
Untuk mengatasi hambatan itu, Kodim 0912/Kubar mengatur penyediaan dan distribusi material, salah satunya dengan memusatkan pengerjaan bahan bangunan di workshop wilayah Barong Tongkok. Distribusi material juga diatur berdasarkan wilayah pekerjaan agar kebutuhan setiap lokasi dapat dipenuhi secara bertahap.
Di luar pekerjaan fisik, kesiapan pengelola juga masih berproses. Wahyudi menyebut terdapat 22 manajer yang telah ditunjuk untuk KDKMP di Kubar. Namun, hingga saat ini baru 10 orang yang tiba, sedangkan lainnya masih menunggu surat keputusan atau proses relokasi penempatan.
Sementara itu, 30 bangunan yang telah rampung secara fisik tercatat siap menerima sarana dan prasarana pendukung. Meski demikian, penyelesaian bangunan belum berarti koperasi langsung beroperasi. Hingga saat ini, belum ada satu pun titik KDKMP di Kubar yang tercatat melakukan transaksi.
Editor: Aspian Nur
Pasiter Kodim 0912/KBR Kapten Inf Moch Wahyudi mengatakan, sebagian besar bangunan yang masih dikerjakan telah menunjukkan progres cukup tinggi. Dari 17 titik tersebut, 16 diantaranya sudah mencapai progres 51 hingga 99 persen. Sementara satu titik lainnya masih berada di bawah 50 persen, yakni KDKMP Kampung Bekokong Makmur dengan progres 47,71 persen.
Beberapa lokasi bahkan telah mendekati penyelesaian. KDKMP Kampung Ngenyan Asa tercatat mencapai progres 98,37 persen, Linggang Amer 98,06 persen, Jengan Danum 96,94 persen, dan Gunung Bayan 96,88 persen. Seluruh 47 titik pembangunan fisik tersebut ditargetkan rampung pada akhir November 2026. Namun, penyelesaian pekerjaan masih menghadapi sejumlah hambatan, terutama dalam pengadaan bahan bangunan.
Sebagian besar material harus didatangkan dari luar Kubar, seperti Pulau Jawa, Samarinda dan Banjarmasin. Selain proses pengiriman, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) turut berdampak pada meningkatnya harga material.
“Material harus kami datangkan dari luar daerah. Ada yang dari Jawa, Samarinda, maupun Banjarmasin. Dengan kenaikan BBM, harga material juga ikut meningkat,” jelas Wahyudi kepada Korankaltim.com, Jumat (30/10/2026).
Persoalan lain muncul dalam penyiapan lahan. Sejumlah kampung masih mencari lokasi untuk pembangunan, sementara sebagian lahan yang tersedia memiliki luas kurang dari 700 meter persegi. Dalam pemetaan kebutuhan lokasi, terdapat 21 titik yang masih dalam proses pencarian lahan dan 31 titik dengan luas lahan di bawah 700 meter persegi.
Kondisi geografis juga menjadi pertimbangan. Terdapat tujuh lokasi yang masuk kategori rawan banjir, sembilan lokasi yang jauh dari permukiman penduduk, serta 30 lokasi yang belum memiliki jaringan listrik. Pemetaan tersebut juga mencatat 48 lokasi dengan jumlah penduduk kurang dari 500 jiwa.
Pembangunan di kawasan rawan banjir, terutama yang berada di sekitar bantaran sungai, membutuhkan rancangan konstruksi berbeda dari lokasi lainnya. Penyesuaian desain diperlukan agar bangunan dapat mengikuti kondisi wilayah.
“Untuk daerah yang rawan banjir, tentu konstruksi bangunannya harus berbeda dengan daerah lainnya. Nantinya akan ada desain tersendiri dari Agrinas, khususnya untuk wilayah yang berada di bantaran sungai,” ujarnya.