Jumat, 18/09/2026
Jumat, 18/09/2026
Masyarakat melintas di tengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Mahakam Ulu. Dinkes P2KB mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat beraktivitas. (Foto: Julika/Korankaltim.com)
Jumat, 18/09/2026

Masyarakat melintas di tengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Mahakam Ulu. Dinkes P2KB mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat beraktivitas. (Foto: Julika/Korankaltim.com)
Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Hasil pengukuran Surveilans Kualitas Udara Dalam Ruang (SKUDR) yang dilakukan Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Pengukuran dilakukan pada Jumat (18/9/2026) di wilayah kerja Puskesmas Tiong Ohang, Long Pahangai, Ujoh Bilang, Mamahak Besar, Laham, dan Long Hubung saat kondisi cuaca mendung berkabut.
Berdasarkan hasil pengukuran udara luar ruangan, konsentrasi PM2.5 tertinggi tercatat di Tiong Ohang sebesar 134 mikrogram per meter kubik (µg/m³), disusul Ujoh Bilang 86 µg/m³ dan Long Hubung 83 µg/m³.
Sementara untuk PM10, nilai tertinggi berada di Ujoh Bilang sebesar 292 µg/m³, Tiong Ohang 267 µg/m³, dan Laham 237 µg/m³.
Secara rata-rata, kadar PM2.5 udara luar mencapai 88 µg/m³ dan PM10 sebesar 223 µg/m³.
Angka tersebut masuk kategori tidak sehat berdasarkan standar kualitas udara yang digunakan dalam surveilans.
Kepala Dinkes P2KB Mahulu, dr. Petronela Tugan, mengatakan kondisi kualitas udara di Mahulu sangat dipengaruhi oleh aktivitas kebakaran hutan dan lahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
“Iya mbak, kita menyesuaikan keadaan udara kita. Karena kebakaran hutan dapat terjadi kapan saja, sehingga kualitas udara juga menyesuaikan dengan keadaan tersebut,” ujarnya saat dikonfirmasi Korankaltim.com, Jumat (18/9/2026).
Menurutnya, masyarakat perlu tetap waspada meski kondisi cuaca dapat berubah dari hari ke hari. Langkah paling penting saat ini adalah menjaga kesehatan dan mengurangi paparan asap.
“Lebih baik tetap menjaga kesehatan dengan mengurangi aktivitas yang tidak perlu di luar rumah. Kalaupun harus keluar, usahakan untuk selalu memakai masker,” katanya.
Dalam laporan SKUDR, Dinkes juga mencatat kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.
Temuan surveilans menunjukkan polusi udara luar ruangan umumnya lebih tinggi dibandingkan udara dalam ruangan, yang mengindikasikan sumber pencemar berasal dari luar ruangan.
Partikel PM10 juga masih mendominasi di hampir seluruh lokasi pemantauan.
Dinkes merekomendasikan penggunaan masker N95 saat beraktivitas di luar rumah, membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak, menutup pintu dan ventilasi rumah, serta menggunakan penyaring udara dalam ruangan jika memungkinkan.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga diperlukan untuk memperkuat pemantauan kualitas udara dan penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan di Mahulu.
Editor: Erwin
Jumat, 18/09/2026
Masyarakat melintas di tengah kabut asap yang menyelimuti wilayah Mahakam Ulu. Dinkes P2KB mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker saat beraktivitas. (Foto: Julika/Korankaltim.com)
TERPOPULER