Kamis, 02/04/2026
Kamis, 02/04/2026
Kepala BI Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan (Istimewa).
Kamis, 02/04/2026

Kepala BI Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan (Istimewa).
Penulis: M Rafik
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Arah ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menunjukkan perubahan signifikan pada akhir 2025. Ketergantungan terhadap sektor pertambangan batu bara perlahan bergeser, seiring menguatnya peran industri pengolahan sebagai motor baru pertumbuhan daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia, Kaltim, Jajang Hermawan menilai kondisi ini sebagai bagian dari proses transformasi ekonomi yang tengah berlangsung. Ia menyebut, sektor industri pengolahan berhasil mencatatkan kinerja paling menonjol dibandingkan sektor lainnya.
“Perbaikan industri pengolahan didorong meningkatnya aktivitas pengolahan migas, terutama setelah kapasitas kilang mengalami peningkatan pada triwulan IV 2025,” ujarnya.
Secara tahunan, industri pengolahan memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 2,53 persen (yoy), jauh melampaui sektor pertambangan yang hanya menyumbang 0,21 persen. Capaian ini menandai perubahan penting dalam struktur pertumbuhan, meskipun secara keseluruhan pertambangan masih menjadi sektor dominan dalam perekonomian.
Dari sisi pangsa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pertambangan tetap memimpin dengan kontribusi 33,19 persen. Sementara itu, industri pengolahan berada di posisi kedua dengan porsi 20,61 persen.
Di tengah pergeseran tersebut, sektor pertambangan masih mencatat pertumbuhan moderat. Kinerja ini ditopang oleh meningkatnya permintaan dari negara mitra dagang, khususnya untuk memenuhi kebutuhan energi saat musim dingin.
Sektor perdagangan besar dan eceran turut memberikan dorongan dengan kontribusi 0,78 persen (yoy). Aktivitas masyarakat yang meningkat, terutama saat momen Hari Besar Keagamaan Nasional, menjadi faktor utama penggeraknya. Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 0,48 persen terhadap pertumbuhan ekonomi.
Namun, tidak semua sektor bergerak positif. Lapangan usaha konstruksi justru mencatatkan kontraksi sebesar -0,25 persen (yoy). Kondisi ini dipengaruhi normalisasi pembangunan Ibu Kota Nusantara, setelah sebelumnya mengalami percepatan signifikan.
Bank Indonesia mencatat, lima sektor utama pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, pertanian, serta perdagangan masih mendominasi struktur ekonomi Kaltim dengan total kontribusi mencapai 82,88 persen terhadap PDRB. Sementara sektor lainnya, termasuk jasa keuangan dan asuransi, secara agregat hanya menyumbang sekitar 11,10 persen dan bahkan mengalami kontraksi tipis.
Perubahan komposisi ini menjadi sinyal awal bahwa fondasi ekonomi Kaltim mulai bergeser, dari yang selama ini bertumpu pada sumber daya alam menuju sektor bernilai tambah yang lebih berkelanjutan.
Editor: Erwin
Kamis, 02/04/2026
Kepala BI Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan (Istimewa).
TERPOPULER