Rabu, 22/07/2026

Amplang Sungai Parit Sulit Tembus Pasar Luar Daerah, Kemasan dan Ongkir Jadi Penghambat

Rabu, 22/07/2026

Salah satu produk amplang PPU. (Dok.AmplangIbuSarnah)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Amplang Sungai Parit Sulit Tembus Pasar Luar Daerah, Kemasan dan Ongkir Jadi Penghambat

Rabu, 22/07/2026

logo

Salah satu produk amplang PPU. (Dok.AmplangIbuSarnah)

Penulis: Dinda Ayu Dwi Meylani

KORANKALTIM.COM, PENAJAM – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) amplang di Kelurahan Sungai Parit, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), masih menghadapi kendala untuk menembus pasar yang lebih luas.

Dua persoalan utama yang dihadapi adalah kualitas kemasan produk yang belum optimal serta tingginya biaya pengiriman atau ongkir.

Lurah Sungai Parit, Jonathan, mengatakan hasil diskusi dengan pelaku usaha, kedua faktor tersebut menjadi hambatan utama. 

Akibatnya, produk UMKM lokal sulit bersaing dengan produk sejenis dari Balikpapan dan Samarinda yang dinilai lebih unggul dari sisi kemasan dan distribusi.

“Mereka mengalami kendala dalam memasarkan produk ke luar daerah, terutama terkait kemasan yang masih perlu ditingkatkan agar lebih siap bersaing di pasar yang lebih luas, serta tingginya ongkos kirim. Sebenarnya ada keinginan menjadikan amplang sebagai salah satu oleh-oleh khas PPU, sehingga penguatan kualitas kemasan menjadi hal yang penting,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Ia menambahkan, para pelaku UMKM masih harus memesan kemasan dari Pulau Jawa karena di PPU belum tersedia fasilitas atau rumah kemasan yang mampu memproduksi kemasan sesuai kebutuhan mereka.

Menurut Jonathan, usulan pembangunan rumah kemasan sebenarnya telah disampaikan kepada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) PPU. Bahkan, rencana pengadaan alat pencetak kemasan sempat diwacanakan, namun belum dapat direalisasikan karena adanya penyesuaian prioritas anggaran daerah.

Di tengah keterbatasan tersebut, dukungan terhadap UMKM tetap berjalan. Jonathan menyebut dua kelompok UMKM amplang di RT 4 dan RT 6 telah menerima bantuan hibah masing-masing sebesar Rp50 juta yang dimanfaatkan untuk pengadaan peralatan produksi, seperti oven dan lemari pendingin.

Selain bantuan peralatan, pembinaan terhadap pelaku usaha juga dilakukan melalui pendampingan dari Disperindagkop PPU yang melibatkan tenaga pendamping UMKM.

Sementara itu, Pemerintah Kelurahan Sungai Parit terus mendukung perkembangan UMKM, terutama dengan membantu proses administrasi dan surat-menyurat untuk pengajuan berbagai bentuk bantuan.

“Ke depan kami berharap persoalan kemasan dapat segera teratasi sehingga produk amplang asal Sungai Parit memiliki daya saing yang lebih baik, semakin dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas PPU, serta dapat mengisi gerai di Ruang Terbuka Hijau (RTH) maupun berbagai ajang promosi daerah,” tuturnya.

Ditambahkannya, berdasarkan data sementara Kelurahan Sungai Parit, saat ini terdapat lima kelompok UMKM olahan amplang yang aktif berproduksi.

Editor: Erwin

Amplang Sungai Parit Sulit Tembus Pasar Luar Daerah, Kemasan dan Ongkir Jadi Penghambat

Rabu, 22/07/2026

Salah satu produk amplang PPU. (Dok.AmplangIbuSarnah)

Share

Berita Terkait