Selasa, 20/01/2026

Ekonomi Hijau Dinilai Belum Nyata, Pengamat Sebut Hanya Slogan

Selasa, 20/01/2026

Pengamat Ekonomi Unmul, Purwadi (Dok/KK).

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Ekonomi Hijau Dinilai Belum Nyata, Pengamat Sebut Hanya Slogan

Selasa, 20/01/2026

logo

Pengamat Ekonomi Unmul, Purwadi (Dok/KK).

Penulis: M Rafik

KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Wacana pengembangan ekonomi hijau yang selama ini digaungkan pemerintah dinilai belum sepenuhnya terwujud dalam kebijakan nyata. 

Pengamat Ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, menilai konsep tersebut masih lebih banyak hadir sebagai jargon dibandingkan implementasi di lapangan, terutama di daerah yang ekonominya masih bertumpu pada sektor ekstraktif.

Menurut Purwadi, ekonomi hijau semestinya menjadi jalan keluar dari ketergantungan jangka panjang terhadap sumber daya alam yang rentan terhadap fluktuasi harga global. Namun, hingga kini, transisi menuju model ekonomi yang lebih berkelanjutan belum berjalan optimal.

“Ekonomi hijau itu bukan sekadar bicara lingkungan, tapi juga soal menciptakan nilai tambah ekonomi, lapangan kerja baru, dan keberlanjutan fiskal,” ujarnya.

Ia menilai, daerah seperti Kaltim memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi hijau melalui energi terbarukan, pengelolaan hutan berkelanjutan, pertanian modern, hingga industri berbasis lingkungan. Sayangnya, potensi tersebut belum diikuti dengan kebijakan yang konsisten dan terintegrasi.

Purwadi menyoroti, orientasi pembangunan masih kuat pada investasi padat modal yang minim serapan tenaga kerja. Kondisi ini dinilai bertolak belakang dengan semangat ekonomi hijau yang seharusnya inklusif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Kalau investasi hanya mengejar angka dan tidak menciptakan pekerjaan, maka ekonomi hijau hanya akan jadi slogan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, tanpa pergeseran kebijakan yang serius, ketergantungan pada komoditas seperti batu bara dan sawit akan terus membuat perekonomian daerah rentan terhadap gejolak global, termasuk konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi negara mitra dagang.

Purwadi mendorong pemerintah untuk menjadikan ekonomi hijau sebagai arus utama pembangunan, bukan program tambahan. Menurutnya, dibutuhkan peta jalan yang jelas, insentif bagi pelaku usaha, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia lokal agar transisi ekonomi dapat berjalan efektif.

“Ekonomi hijau harus dieksekusi, bukan sekadar dikampanyekan. Kalau ini berhasil, dampaknya bukan hanya pada lingkungan, tapi juga pada ketahanan ekonomi jangka panjang,” pungkasnya.


Editor: Erwin 

Ekonomi Hijau Dinilai Belum Nyata, Pengamat Sebut Hanya Slogan

Selasa, 20/01/2026

Pengamat Ekonomi Unmul, Purwadi (Dok/KK).

Share

Berita Terkait