Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Memasuki akhir Oktober 2026, perubahan kondisi cuaca mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
2 menit baca5 kali dibaca

Penulis: Muhammad Heriansyah
KORANKALTIM.COM, TENGGARONG – Memasuki akhir Oktober 2026, perubahan kondisi cuaca mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal awal peralihan menuju musim hujan, sekaligus momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar Aspianur Sandi mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menyambut turunnya hujan, tetapi juga memperhatikan perkembangan cuaca dan potensi dampak yang dapat menyertainya.
Menurutnya, hujan yang mulai mengguyur sejumlah kawasan belum terjadi secara merata. Karena itu, kondisi cuaca di setiap wilayah perlu terus dipantau dengan mengacu pada informasi dan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Peralihannya diperkirakan dimulai pada akhir Oktober ini. Kita mulai memasuki masa awal musim hujan, meskipun hujan yang turun belum merata di seluruh wilayah Kukar,” kata Aspianur Sandi.
Ia menjelaskan, musim hujan diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026. Sejumlah wilayah, termasuk Tenggarong Kota dan Tenggarong Seberang, telah mengalami hujan. Sebelumnya, hujan juga dilaporkan turun di beberapa kawasan hulu Kukar.
Bagi BPBD, perubahan musim menjadi hal yang perlu diperhatikan bersama. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan mengikuti informasi resmi agar dapat menyesuaikan aktivitas serta mengambil langkah antisipasi apabila kondisi memburuk.
Sandi menekankan pentingnya menjadikan informasi BMKG sebagai salah satu acuan dalam mengantisipasi perubahan cuaca. Pemantauan tersebut diperlukan karena kondisi hujan dapat berbeda antara satu kecamatan dan kecamatan lainnya.
Masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, terutama saluran drainase dan area yang berpotensi mengalami genangan. Langkah sederhana seperti membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan dapat membantu mengurangi risiko genangan ketika hujan turun.
Kesiapsiagaan juga perlu dibangun melalui kepedulian terhadap lingkungan dan komunikasi antarwarga.
“Dengan memperhatikan kondisi sekitar serta mengikuti informasi resmi, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi kemungkinan dampak cuaca selama masa peralihan musim,” ujar Sandi.
Di sisi lain, hujan yang mulai turun di sejumlah kawasan Kukar diharapkan dapat membantu mengurangi titik panas (hotspot) dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sandi menyebut, turunnya hujan dapat membantu meredam kondisi kering yang berpotensi memicu kebakaran. Namun, karena hujan belum merata, kewaspadaan terhadap karhutla tetap diperlukan, khususnya di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.
“Ini salah satu upaya mengurangi firespot atau titik api agar karhutla yang terjadi tidak semakin parah,” tandasnya.
BPBD Kukar mengharapkan masyarakat tetap berperan aktif dalam menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Dengan pemantauan cuaca, kepedulian lingkungan, dan kesiapsiagaan bersama, masa peralihan menuju musim hujan diharapkan dapat dilalui dengan lebih baik.
“Upaya antisipasi sejak dini menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko bencana sekaligus melindungi keselamatan masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara,” demikian Sandi. (Adv)
Editor: Aspian Nur
Hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal awal peralihan menuju musim hujan, sekaligus momentum bagi masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar Aspianur Sandi mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menyambut turunnya hujan, tetapi juga memperhatikan perkembangan cuaca dan potensi dampak yang dapat menyertainya.
Menurutnya, hujan yang mulai mengguyur sejumlah kawasan belum terjadi secara merata. Karena itu, kondisi cuaca di setiap wilayah perlu terus dipantau dengan mengacu pada informasi dan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Peralihannya diperkirakan dimulai pada akhir Oktober ini. Kita mulai memasuki masa awal musim hujan, meskipun hujan yang turun belum merata di seluruh wilayah Kukar,” kata Aspianur Sandi.

Ia menjelaskan, musim hujan diperkirakan berlangsung hingga Desember 2026. Sejumlah wilayah, termasuk Tenggarong Kota dan Tenggarong Seberang, telah mengalami hujan. Sebelumnya, hujan juga dilaporkan turun di beberapa kawasan hulu Kukar.
Bagi BPBD, perubahan musim menjadi hal yang perlu diperhatikan bersama. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan mengikuti informasi resmi agar dapat menyesuaikan aktivitas serta mengambil langkah antisipasi apabila kondisi memburuk.
Sandi menekankan pentingnya menjadikan informasi BMKG sebagai salah satu acuan dalam mengantisipasi perubahan cuaca. Pemantauan tersebut diperlukan karena kondisi hujan dapat berbeda antara satu kecamatan dan kecamatan lainnya.
Masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, terutama saluran drainase dan area yang berpotensi mengalami genangan. Langkah sederhana seperti membersihkan saluran air dan tidak membuang sampah sembarangan dapat membantu mengurangi risiko genangan ketika hujan turun.







Kesiapsiagaan juga perlu dibangun melalui kepedulian terhadap lingkungan dan komunikasi antarwarga.
“Dengan memperhatikan kondisi sekitar serta mengikuti informasi resmi, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi kemungkinan dampak cuaca selama masa peralihan musim,” ujar Sandi.
Di sisi lain, hujan yang mulai turun di sejumlah kawasan Kukar diharapkan dapat membantu mengurangi titik panas (hotspot) dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Sandi menyebut, turunnya hujan dapat membantu meredam kondisi kering yang berpotensi memicu kebakaran. Namun, karena hujan belum merata, kewaspadaan terhadap karhutla tetap diperlukan, khususnya di wilayah yang masih mengalami kondisi kering.

“Ini salah satu upaya mengurangi firespot atau titik api agar karhutla yang terjadi tidak semakin parah,” tandasnya.
BPBD Kukar mengharapkan masyarakat tetap berperan aktif dalam menjaga lingkungan, tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran.
Dengan pemantauan cuaca, kepedulian lingkungan, dan kesiapsiagaan bersama, masa peralihan menuju musim hujan diharapkan dapat dilalui dengan lebih baik.
“Upaya antisipasi sejak dini menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko bencana sekaligus melindungi keselamatan masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara,” demikian Sandi. (Adv)
Editor: Aspian Nur




Pusat gempa berada di darat 153 km tenggara Oksibil
29 Okt 2026, 10:26:49 WIB • Kedalaman 120 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG