Realisasi investasi Kukar pada 2025 tercatat sekitar Rp12 Triliun hingga Rp12,5 Triliun. Meski lebih rendah dibandingkan capaian 2024 yang mencapai sekitar Rp16 Triliun, angka tersebut masih melampaui target investasi tahun 2025 yang ditetapkan di kisaran Rp7,3 Triliun.
Capaian ini menunjukkan bahwa ditengah perubahan kondisi ekonomi dan arah investasi, Kukar masih mampu membukukan realisasi penanaman modal di atas target tahunan.
Kepala DPMPTSP Kukar Alfian Noor menjelaskan evaluasi kinerja investasi tidak cukup hanya melihat terpenuhi atau tidaknya target. Pemerintah daerah juga perlu mencermati pertumbuhan realisasi investasi, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi perubahan nilai penanaman modal dari tahun ke tahun.
“Pada 2024 realisasi investasi kita sekitar Rp16 Triliun, sedangkan pada 2025 berada di kisaran Rp12 Triliun sampai Rp12,5 Triliun. Target tahunan masih terlampaui, tetapi dari sisi pertumbuhan memang mengalami penurunan,” jelas Alfian kepada korankaltim.com, Senin (19/10/2026).
Menurut Alfian, salah satu faktor yang memengaruhi realisasi investasi Kukar ialah pergeseran sebagian kegiatan penanaman modal ke kawasan IKN. Wilayah seperti Samboja dan Muara Jawa yang sebelumnya memberikan kontribusi cukup besar kini menghadapi perubahan arah minat investor.
Perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi daerah. Di satu sisi, pembangunan IKN membuka peluang ekonomi baru di Kalimantan Timur. Di sisi lain, Kukar perlu terus memperkuat daya tarik investasi agar potensi wilayahnya tetap menjadi pilihan bagi pelaku usaha.
DPMPTSP Kukar perlu mencermati perkembangan tersebut sebagai bahan evaluasi dalam membaca kebutuhan investor dan arah pertumbuhan ekonomi daerah. Perubahan peta investasi juga menjadi pengingat pentingnya mengembangkan peluang usaha yang sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah Kukar.
Faktor lain yang turut memengaruhi realisasi investasi adalah kondisi sektor pertambangan. Selama ini, sektor tersebut menjadi salah satu penyumbang utama penanaman modal di Kukar.
Alfian menyebut, kendala penerbitan maupun penyesuaian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) berdampak pada sebagian perusahaan. Ada perusahaan yang masih menunggu persetujuan, ada pula yang mengalami pengurangan rencana kerja, sehingga pengembangan usaha tidak berjalan sesuai rencana awal. “Ketika RKAB belum terbit atau mengalami pengurangan, pengembangan usaha perusahaan ikut terhambat. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap realisasi investasi,” ungkapnya.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan investasi daerah tidak hanya ditentukan oleh upaya pemerintah kabupaten. Kebijakan sektoral, kepastian rencana usaha, serta dinamika ekonomi yang lebih luas juga memengaruhi keputusan perusahaan untuk merealisasikan penanaman modal.
Bagi DPMPTSP Kukar, capaian investasi perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari realisasi terhadap target hingga perubahan nilai investasi dan faktor yang memengaruhinya.
Pada 2024, realisasi investasi sekitar Rp16 Triliun jauh melampaui target Rp7 Triliun. Sementara pada 2025, realisasi sekitar Rp12 Triliun hingga Rp12,5 Triliun tetap berada di atas target Rp7,3 Triliun.
Perbandingan tersebut menjadi bahan penting untuk mengevaluasi perkembangan investasi Kukar. Target tahunan yang terlampaui merupakan capaian yang patut dicatat, sedangkan penurunan nilai realisasi menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui pemetaan peluang dan penguatan strategi investasi.
DPMPTSP memiliki peran penting dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan perizinan dan penanaman modal sesuai kewenangannya, sekaligus membantu pemerintah daerah memperoleh gambaran mengenai dinamika investasi yang berlangsung.
Dengan memahami perubahan minat investor, kendala pengembangan usaha, dan potensi wilayah, pemerintah daerah memiliki landasan untuk menentukan langkah berikutnya dalam menjaga iklim investasi.
Ditengah dinamika pembangunan IKN dan tantangan sektor pertambangan, upaya mempertahankan realisasi investasi Kukar di atas target menjadi bagian dari pekerjaan berkelanjutan. “Tantangan ke depan bukan sekadar memenuhi target, tetapi juga mendorong pertumbuhan investasi yang lebih beragam dan berkelanjutan bagi perekonomian daerah,” tegasnya. (adv)
Realisasi investasi Kukar pada 2025 tercatat sekitar Rp12 Triliun hingga Rp12,5 Triliun. Meski lebih rendah dibandingkan capaian 2024 yang mencapai sekitar Rp16 Triliun, angka tersebut masih melampaui target investasi tahun 2025 yang ditetapkan di kisaran Rp7,3 Triliun.
Capaian ini menunjukkan bahwa ditengah perubahan kondisi ekonomi dan arah investasi, Kukar masih mampu membukukan realisasi penanaman modal di atas target tahunan.
Kepala DPMPTSP Kukar Alfian Noor menjelaskan evaluasi kinerja investasi tidak cukup hanya melihat terpenuhi atau tidaknya target. Pemerintah daerah juga perlu mencermati pertumbuhan realisasi investasi, termasuk faktor-faktor yang memengaruhi perubahan nilai penanaman modal dari tahun ke tahun.
“Pada 2024 realisasi investasi kita sekitar Rp16 Triliun, sedangkan pada 2025 berada di kisaran Rp12 Triliun sampai Rp12,5 Triliun. Target tahunan masih terlampaui, tetapi dari sisi pertumbuhan memang mengalami penurunan,” jelas Alfian kepada korankaltim.com, Senin (19/10/2026).
Menurut Alfian, salah satu faktor yang memengaruhi realisasi investasi Kukar ialah pergeseran sebagian kegiatan penanaman modal ke kawasan IKN. Wilayah seperti Samboja dan Muara Jawa yang sebelumnya memberikan kontribusi cukup besar kini menghadapi perubahan arah minat investor.
Perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi daerah. Di satu sisi, pembangunan IKN membuka peluang ekonomi baru di Kalimantan Timur. Di sisi lain, Kukar perlu terus memperkuat daya tarik investasi agar potensi wilayahnya tetap menjadi pilihan bagi pelaku usaha.
DPMPTSP Kukar perlu mencermati perkembangan tersebut sebagai bahan evaluasi dalam membaca kebutuhan investor dan arah pertumbuhan ekonomi daerah. Perubahan peta investasi juga menjadi pengingat pentingnya mengembangkan peluang usaha yang sesuai dengan potensi dan karakteristik wilayah Kukar.
Faktor lain yang turut memengaruhi realisasi investasi adalah kondisi sektor pertambangan. Selama ini, sektor tersebut menjadi salah satu penyumbang utama penanaman modal di Kukar.