Keduanya dimakamkan di Pemakaman Muslimin Kelurahan Baru, Rabu (14/10/2026) diiringi kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Di antara kenangan yang tersisa, tersimpan cerita sederhana dari kedua bocah itu, yakni keinginan untuk dikhitan/disunat bersama.
Nenek korban, Hikmah, masih mengingat percakapan tersebut. Bagi orang dewasa, permintaan itu mungkin terdengar biasa. Namun, setelah kedua cucunya pergi untuk selamanya, kenangan kecil itu justru terasa begitu menyayat hati.
“Mereka pernah minta, ‘Kapan kami berdua disunat?’ Kami jawab, ‘Belum dulu, Nak. Sebentar lagi, ya.’ Waktu itu kami lihat dulu karena yang kecil masih berusia tiga tahun. Dia juga sudah ingin disunat,” kenang Hikmah dengan mata berkaca-kaca.
Kini, harapan dua bocah itu untuk menjalani khitan bersama hanya tinggal kenangan yang terus membekas di hati keluarga. Sebelum musibah terjadi, Ali dan Husin menjalani aktivitas seperti biasanya. Keduanya dikenal sebagai anak yang rajin mengaji dan penurut. Pada Selasa sore, mereka mengikuti kegiatan mengaji sebelum melanjutkan dengan majelis taklim yang rutin digelar setiap pekan di rumah keluarga mereka Jalan Jafar Semang Kelurahan Baru, Tenggarong. Kegiatan majelis taklim berakhir sekitar pukul 18.00 Wita. Menurut Hikmah, kedua cucunya tampak antusias mengikuti kegiatan keagamaan itu.
“Kemarin sore mereka mengaji, kemudian ikut majelis taklim di sini. Memang setiap Selasa sore ada majelis taklim di rumah yang terbakar itu. Jadi, setelah pulang mengaji, mereka langsung ikut majelis,” tuturnya.
Tak ada tanda yang diketahui keluarga bahwa beberapa jam kemudian kebersamaan itu akan berubah menjadi duka mendalam. Sekitar pukul 23.50 Wita, ketika sebagian besar penghuni rumah tengah terlelap, kebakaran terjadi. Api dengan cepat membesar hingga membuat upaya penyelamatan menjadi sangat sulit.
Ayah korban, Hamri Noor yang akrab disapa Ustaz Hamdi, berusaha menyelamatkan kedua anaknya yang berada di kamar. Namun, kobaran api dan material bangunan yang terbakar menghalangi jalan masuk.
“Bapaknya berusaha menyelamatkan mereka, tetapi saat hendak masuk kembali, sudah ada kayu yang terbakar dan menghalangi jalan masuk. Bagian kamar mereka juga sudah habis terbakar,” cerita Hikmah.
Satu saudara korban yang tidur di dekat televisi berhasil menyelamatkan diri setelah mendengar keributan. Warga kemudian mengamankannya agar tidak kembali memasuki rumah yang terbakar.
Pencarian terhadap Ali dan Husin berlangsung hingga dini hari. Keluarga masih berharap keduanya dapat ditemukan dalam keadaan selamat.
Namun, sekitar pukul 03.00 Wita, pencarian berakhir dengan kabar yang meruntuhkan harapan keluarga. Kedua bocah itu ditemukan di dalam kamar dalam kondisi berpelukan.
“Sekitar pukul 03.00 dini hari, kedua anak itu masih dicari karena dilaporkan belum ditemukan. Mereka akhirnya ditemukan dalam keadaan berpelukan di kamar,” ungkap Hikmah lirih.
Pemandangan tersebut menjadi bagian paling memilukan dari musibah yang merenggut nyawa dua bersaudara itu. Di tengah kehilangan yang begitu besar, keluarga kini harus belajar menerima kenyataan bahwa Ali dan Husin tak akan kembali.
Kenangan tentang keseharian mereka, kebiasaan mengaji, hingga permintaan sederhana untuk disunat bersama menjadi hal-hal yang akan terus hidup dalam ingatan orang-orang terdekat.
Duka atas musibah tersebut turut dirasakan lingkungan sekolah kakak korban, Muhammad Ali Romadhon (11), yang merupakan anak kedua dari empat bersaudara dan bersekolah di SDN 002 Tenggarong. Sementara itu, Ali (7) bersekolah di tempat lain dan Husin (3) belum mengenyam pendidikan.
Salah seorang guru wali kelas di SDN 002 Tenggarong, Melisa, membenarkan bahwa kakak kedua korban merupakan siswa di sekolah tersebut, bahkan kakak pertama atas nama Fatimah Albatul juga merupakan alumni dari SDN 002 Tenggarong
Ia juga menerima informasi bahwa Ali Romadhon (11) sedang menjalani perawatan setelah ikut membantu ayahnya saat kebakaran terjadi.
“Iya, kami turut sedih. Infonya si Ali (11) juga sedang dirawat karena ikut membantu ayahnya tadi malam pas kejadian, namun tidak terluka fisik hanya mengalami shock,” kata Melisa.
Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan menghadapi cobaan berat tersebut.
“Semoga diberi ketabahan dan kekuatan serta segera disembuhkan, ayahnya,” harapnya.
Kini, rumah duka di Jalan H Djafar Seman dan Jalan Kartini Gang Karya menjadi tempat keluarga mengenang dua bocah yang pergi terlalu cepat. Ali dan Husin memang tak sempat mewujudkan keinginan mereka untuk disunat bersama, tetapi kenangan tentang dua bersaudara yang rajin mengaji itu akan tetap melekat di hati keluarga.
Sebuah permintaan sederhana dari masa kecil yang kini menjadi kenangan paling berharga sekaligus paling menyedihkan bagi mereka yang ditinggalkan.
Editor: Erwin
Keduanya dimakamkan di Pemakaman Muslimin Kelurahan Baru, Rabu (14/10/2026) diiringi kesedihan keluarga yang ditinggalkan. Di antara kenangan yang tersisa, tersimpan cerita sederhana dari kedua bocah itu, yakni keinginan untuk dikhitan/disunat bersama.
Nenek korban, Hikmah, masih mengingat percakapan tersebut. Bagi orang dewasa, permintaan itu mungkin terdengar biasa. Namun, setelah kedua cucunya pergi untuk selamanya, kenangan kecil itu justru terasa begitu menyayat hati.
“Mereka pernah minta, ‘Kapan kami berdua disunat?’ Kami jawab, ‘Belum dulu, Nak. Sebentar lagi, ya.’ Waktu itu kami lihat dulu karena yang kecil masih berusia tiga tahun. Dia juga sudah ingin disunat,” kenang Hikmah dengan mata berkaca-kaca.
Kini, harapan dua bocah itu untuk menjalani khitan bersama hanya tinggal kenangan yang terus membekas di hati keluarga. Sebelum musibah terjadi, Ali dan Husin menjalani aktivitas seperti biasanya. Keduanya dikenal sebagai anak yang rajin mengaji dan penurut. Pada Selasa sore, mereka mengikuti kegiatan mengaji sebelum melanjutkan dengan majelis taklim yang rutin digelar setiap pekan di rumah keluarga mereka Jalan Jafar Semang Kelurahan Baru, Tenggarong. Kegiatan majelis taklim berakhir sekitar pukul 18.00 Wita. Menurut Hikmah, kedua cucunya tampak antusias mengikuti kegiatan keagamaan itu.
“Kemarin sore mereka mengaji, kemudian ikut majelis taklim di sini. Memang setiap Selasa sore ada majelis taklim di rumah yang terbakar itu. Jadi, setelah pulang mengaji, mereka langsung ikut majelis,” tuturnya.
Tak ada tanda yang diketahui keluarga bahwa beberapa jam kemudian kebersamaan itu akan berubah menjadi duka mendalam. Sekitar pukul 23.50 Wita, ketika sebagian besar penghuni rumah tengah terlelap, kebakaran terjadi. Api dengan cepat membesar hingga membuat upaya penyelamatan menjadi sangat sulit.
Ayah korban, Hamri Noor yang akrab disapa Ustaz Hamdi, berusaha menyelamatkan kedua anaknya yang berada di kamar. Namun, kobaran api dan material bangunan yang terbakar menghalangi jalan masuk.
“Bapaknya berusaha menyelamatkan mereka, tetapi saat hendak masuk kembali, sudah ada kayu yang terbakar dan menghalangi jalan masuk. Bagian kamar mereka juga sudah habis terbakar,” cerita Hikmah.