Pria yang akrab disapa Ustaz Hamdi itu meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD AM Parikesit.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi Direktur RSUD AM Parikesit, Mauritz Silalahi, kepada Korankaltim.com pada Rabu sekitar pukul 20.39 Wita.
“Iya, benar. Beliau sudah meninggal dunia,” kata Mauritz saat dikonfirmasi.
Mauritz menjelaskan, Ustaz Hamdi mengalami luka bakar lebih dari 75 persen akibat kebakaran yang terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam. Sejak tiba di rumah sakit, pasien langsung mendapatkan penanganan medis intensif dan dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).
Namun, kondisi pasien tergolong berat. Tim medis telah melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk memasang alat bantu pernapasan. Meski mendapat perawatan intensif, kondisi Ustaz Hamdi terus mengalami memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
“Dari awal datang, beliau langsung ditangani secara intensif di ICU. Kondisinya cukup berat dan tadi sudah dipasang alat bantu pernapasan. Sore harinya kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia,” jelas Mauritz.
Terkait informasi rencana operasi yang sempat beredar, Mauritz menerangkan bahwa tindakan pembersihan luka bakar memang diperlukan. Akan tetapi, kondisi pasien tidak memungkinkan untuk menjalani prosedur operasi dengan pembiusan karena risiko yang dinilai terlalu tinggi. Karena itu, penanganan dilakukan sebatas tindakan pembersihan luka secara lokal sesuai kondisi medis pasien.
Mauritz menegaskan, jajaran dokter dan tenaga medis RSUD AM Parikesit telah berupaya memberikan penanganan maksimal selama pasien menjalani perawatan.
“Kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Dokter spesialis juga siaga memberikan penanganan. Kami tentu turut berduka atas kejadian ini,” ungkapnya.
Meninggalnya Ustaz Hamdi menambah panjang daftar duka keluarga yang sebelumnya kehilangan dua putranya, Ali (7) dan Husin (3), dalam kebakaran yang melanda kawasan permukiman padat penduduk tersebut.
Peristiwa kebakaran terjadi sekitar pukul 23.50 Wita, Selasa (13/10/2026). Api diduga bermula dari korsleting listrik di bagian meteran rumah milik keluarga korban. Namun, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian.
Saat api mulai membesar, Hamri Noor yang akrab disapa Ustaz Hamdi berusaha memadamkan kobaran api menggunakan peralatan seadanya. Situasi berubah semakin mencekam ketika ia mengetahui kedua anaknya masih berada di dalam rumah.
Tanpa menghiraukan bahaya, ia berusaha menerobos kobaran api untuk menyelamatkan kedua buah hatinya. Namun, api yang cepat membesar dan material bangunan yang terbakar membuat upaya penyelamatan tersebut sangat sulit dilakukan. Dalam kejadian itu, Ustaz Hamdi mengalami luka bakar serius.
Kedua anaknya kemudian ditemukan meninggal dunia di dalam rumah yang terbakar pada Rabu dini hari. Keduanya telah dimakamkan di Pemakaman Muslimin Kelurahan Baru, Tenggarong, pada Rabu (14/10/2026).
Kepergian Ali dan Husin sebelumnya telah menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga. Keduanya dikenal sebagai anak yang rajin mengaji dan mengikuti kegiatan majelis taklim bersama keluarga.
Kenangan tentang keseharian mereka, termasuk keinginan sederhana untuk menjalani khitan bersama, menjadi cerita yang kini melekat di tengah duka keluarga.
Kebakaran tersebut juga menghanguskan 11 unit bangunan, termasuk rumah warga, fasilitas asrama atau rumah singgah Kecamatan Tabang, serta sejumlah bangunan sewaan. Kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp3 miliar.
Di tengah musibah yang merenggut tiga nyawa tersebut, doa dan dukungan bagi keluarga yang ditinggalkan terus mengalir. Warga berharap keluarga diberi kekuatan untuk menghadapi cobaan berat ini.
Editor: Erwin
Pria yang akrab disapa Ustaz Hamdi itu meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di RSUD AM Parikesit.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi Direktur RSUD AM Parikesit, Mauritz Silalahi, kepada Korankaltim.com pada Rabu sekitar pukul 20.39 Wita.
“Iya, benar. Beliau sudah meninggal dunia,” kata Mauritz saat dikonfirmasi.
Mauritz menjelaskan, Ustaz Hamdi mengalami luka bakar lebih dari 75 persen akibat kebakaran yang terjadi pada Selasa (13/10/2026) malam. Sejak tiba di rumah sakit, pasien langsung mendapatkan penanganan medis intensif dan dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU).
Namun, kondisi pasien tergolong berat. Tim medis telah melakukan berbagai upaya penanganan, termasuk memasang alat bantu pernapasan. Meski mendapat perawatan intensif, kondisi Ustaz Hamdi terus mengalami memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
“Dari awal datang, beliau langsung ditangani secara intensif di ICU. Kondisinya cukup berat dan tadi sudah dipasang alat bantu pernapasan. Sore harinya kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia,” jelas Mauritz.
Terkait informasi rencana operasi yang sempat beredar, Mauritz menerangkan bahwa tindakan pembersihan luka bakar memang diperlukan. Akan tetapi, kondisi pasien tidak memungkinkan untuk menjalani prosedur operasi dengan pembiusan karena risiko yang dinilai terlalu tinggi. Karena itu, penanganan dilakukan sebatas tindakan pembersihan luka secara lokal sesuai kondisi medis pasien.
Mauritz menegaskan, jajaran dokter dan tenaga medis RSUD AM Parikesit telah berupaya memberikan penanganan maksimal selama pasien menjalani perawatan.
“Kami sudah berupaya semaksimal mungkin. Dokter spesialis juga siaga memberikan penanganan. Kami tentu turut berduka atas kejadian ini,” ungkapnya.
Meninggalnya Ustaz Hamdi menambah panjang daftar duka keluarga yang sebelumnya kehilangan dua putranya, Ali (7) dan Husin (3), dalam kebakaran yang melanda kawasan permukiman padat penduduk tersebut.
Peristiwa kebakaran terjadi sekitar pukul 23.50 Wita, Selasa (13/10/2026). Api diduga bermula dari korsleting listrik di bagian meteran rumah milik keluarga korban. Namun, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan kepolisian.
Saat api mulai membesar, Hamri Noor yang akrab disapa Ustaz Hamdi berusaha memadamkan kobaran api menggunakan peralatan seadanya. Situasi berubah semakin mencekam ketika ia mengetahui kedua anaknya masih berada di dalam rumah.