Rabu, 14/02/2024
Rabu, 14/02/2024
Yohanes Avun dengan alat musik sapeq. (Foto: Facebook Yohanes Avun).
Rabu, 14/02/2024

Yohanes Avun dengan alat musik sapeq. (Foto: Facebook Yohanes Avun).
Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Menyukai alat musik sapeq sejak kecil, Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Yohanes Avun ternyata punya penilaian sendiri terdapat alat musik tradisional khas suku Dayak Kalimantan itu yang dianggapnya bisa memberi ketenangan jiwa bagi pendengar.
Selain itu, dia menilai suara musik sapeq bisa membawa seseorang terhanyut dalam setiap alunan nada yang keluar dari setiap senar sapeq saat dipetik penyapeq. "Seperti orang yang pandai menari itu kan kalau dengar suara musik sapeq, badannya langsung seperti apa. Bergerak semua badannya," imbuh pria yang kerap disapa Avun itu.
Sehingga dia menganggap setiap nada yang keluar dari petikan senar sapeq itu seolah mengompori pendengar untuk menari, layaknya burung enggang yang sedang mengepakkan sayapnya di udara.
"Penyatuan alam itu kan sangat tinggi, gitu kan? Dan terkadang ada suara burung Enggang lewat, kok kok gitu kan masuk itu," sebut Avun yang piawai memainkan alam musik tradisional tersebut.
Hal ini yang menurutnya belum dipahami oleh masyarakat masa kini, terlebih kaum muda yang seharusnya terlibat dalam hal mengembang dan melestarikan budaya lokal. Menjadi kabupaten termuda di Kaltim, Mahulu memang rata-rata memiliki penduduk asli yang berasal dari suku Dayak.
Namun, suku-suku Dayak di dalam wilayah Mahulu sendiri juga berbeda-beda, baik suku Bahaw, Kayan, Penihing, Kenyah, Punan dan lain sebagainya.
Sehingga, dengan masyarakat yang multikultural juga memengaruhi jenis-jenis sapeq itu sendiri. Seperti yang disebutnya, bahwa bentuk badan sapeq yang dimiliki suku Kenyah justru agak lebar dan memiliki ujung yang kecil atau runcing. "Kalau yang Dayak Bahaw ini, model aslinya itu seperti ini mentimun, itu yang aslinya. Tapi sekarang tergantung bagaimana variasi orang yang membuatnya saja," imbuhnya.
Perbedaan itu juga ditonjolkan dari alunan nada yang dikeluarkan. Avun menyebut, bahwa alunan nada yang keluar dari sapeq Dayak Bahaw justru sangat berbeda dengan Dayak Kenyah maupun Penihing.
"Memang satu etnis Dayak itu mainkan sapeq, tapi musiknya berbeda-beda. Tapi, nada dasarnya sama. Meski masing-masing orang itu punya versi sendiri," katanya. Sehingga pemain sapeq tidak bisa diklaim secara begitu saja, jika nada yang dikeluarkan dari sapeq-nya itu terdengar sedikit agak berbeda. "Karena memang musiknya begitu," tutupnya.
Editor: Maruly Z
Rabu, 14/02/2024
Yohanes Avun dengan alat musik sapeq. (Foto: Facebook Yohanes Avun).
TERPOPULER