Rabu, 12/08/2026

Tulak Bala Buang Naas jadi Penjaga Jati Diri Talisayan di Tengah Arus Modernisasi

Rabu, 12/08/2026

Gamalis mengikuti prosesi Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas dengan menyiramkan air linjuang kepada perwakilan anak masyarakat Kampung Talisayan, Selasa (12/8/2026). (Foto: Dok.Humas Prokopim Berau)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Tulak Bala Buang Naas jadi Penjaga Jati Diri Talisayan di Tengah Arus Modernisasi

Rabu, 12/08/2026

logo

Gamalis mengikuti prosesi Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas dengan menyiramkan air linjuang kepada perwakilan anak masyarakat Kampung Talisayan, Selasa (12/8/2026). (Foto: Dok.Humas Prokopim Berau)

Penulis: Indri

KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB - Ditengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, masyarakat Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau, tetap mempertahankan tradisi adat bahari Tulak Bala Buang Naas. Tradisi yang digelar di Pendopo Kecamatan Talisayan, Rabu (12/8/2026) menjadi penanda bahwa kemajuan zaman tidak harus menghapus akar budaya masyarakat pesisir.

Mengusung tema “Merawat Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni”, pelaksanaan Tulak Bala Buang Naas dihadiri Wakil Bupati Berau Gamalis, masyarakat, tetua adat, serta unsur pemerintahan setempat.

Tradisi tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kampung Talisayan dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Salah satu prosesi utama dalam kegiatan itu ialah Buang Naas. Prosesi ditandai dengan penyiraman air linjuang kepada perwakilan anak masyarakat kampung. Air tersebut sebelumnya telah disiapkan dan dibacakan doa.

Prosesi diawali oleh tetua adat. Selanjutnya, Gamalis bersama pejabat dan unsur masyarakat yang hadir turut mengikuti prosesi tersebut.

Bagi masyarakat Talisayan, Tulak Bala Buang Naas tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial. Tradisi itu mengandung pesan spiritual dan sosial berupa doa bersama untuk memohon keselamatan serta menjauhkan masyarakat dan kampung dari berbagai marabahaya.

Keberlangsungan tradisi tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan pola kehidupan masyarakat yang dipengaruhi perkembangan teknologi dan media sosial. Jika tidak diperkenalkan kepada generasi muda, tradisi yang diwariskan antargenerasi dikhawatirkan kehilangan penerus.

Wakil Bupati Berau Gamalis mengapresiasi masyarakat Talisayan yang tetap mempertahankan adat bahari tersebut meski pelaksanaan kegiatan tahun ini dilakukan dengan keterbatasan. “Ini bagian dari kebudayaan masyarakat Talisayan yang harus kita jaga,” kata Gamalis.

Pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan. Masyarakat didorong untuk terus berkembang dan memanfaatkan kemajuan teknologi, tetapi tetap memiliki pijakan terhadap nilai-nilai budaya yang menjadi identitas daerah.

“Kami ingin masyarakat terus maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya,” ujar Gamalis lagi.

Gamalis juga menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Sebab, generasi muda harus diberikan ruang untuk mengenal sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan adat.

Pelibatan generasi muda dinilai menjadi salah satu kunci agar tradisi Tulak Bala Buang Naas tidak berhenti sebagai warisan sejarah, tetapi tetap hidup dan relevan dalam kehidupan masyarakat.

Disisi lain Gamalis melihat adat bahari Talisayan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari potensi pariwisata Berau. Keunikan tradisi lokal dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang berkunjung ke kawasan pesisir selatan.

Dirinya mendorong agar pelestarian adat dan pengembangan pariwisata dilakukan secara beriringan. Dengan begitu, budaya tidak hanya dipertahankan sebagai identitas masyarakat, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.

“Tradisi lokal bisa menjadi kekuatan yang membedakan suatu daerah,” katanya.

Gamalis berharap masyarakat, terutama generasi muda, tidak hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan tradisi, tetapi ikut mengambil peran dalam menjaga keberlangsungannya. Keterlibatan generasi penerus akan menentukan apakah adat bahari Talisayan tetap hidup di masa mendatang.

“Jangan sampai kemajuan membuat kita lupa pada budaya yang menjadi identitas kita,” pungkasnya. (*)

Editor: Aspian Nur

Tulak Bala Buang Naas jadi Penjaga Jati Diri Talisayan di Tengah Arus Modernisasi

Rabu, 12/08/2026

Gamalis mengikuti prosesi Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas dengan menyiramkan air linjuang kepada perwakilan anak masyarakat Kampung Talisayan, Selasa (12/8/2026). (Foto: Dok.Humas Prokopim Berau)

Share

Berita Terkait