Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan, sejarah panjang Berau meninggalkan kekayaan seni, budaya, adat, dan istiadat yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Kerajaan Berau yang telah berdiri sejak tahun 1400-an kemudian pada abad ke-19 menjadi dua kesultanan, yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung,” ujarnya, Kamis (1/10/2026).
Warisan dari dua kesultanan tersebut masih memiliki banyak potensi yang belum sepenuhnya digali dan dikembangkan. Karena itu, diperlukan ruang yang dapat mempertemukan berbagai tradisi tersebut dalam satu rangkaian kegiatan.
“Ke depan kita perlu lagi menggali potensi apa yang bisa kita tampilkan sehingga menjadi satu kesatuan,” katanya.
Yudha menilai, pengemasan pesta adat menjadi sebuah event terpadu juga dapat memperkuat posisi budaya lokal sebagai daya tarik wisata. Tradisi yang selama ini berlangsung di berbagai wilayah dapat dikemas lebih menarik tanpa menghilangkan nilai sejarah dan kearifan lokal yang melekat di dalamnya.
Konsep tersebut, kata dia, dapat belajar dari pelaksanaan Pesta Adat Erau di Tenggarong yang telah berkembang menjadi salah satu agenda budaya dan pariwisata berskala nasional.
“Kita ingin bagaimana ke depan pesta-pesta adat yang ada di Kabupaten Berau ini dirumuskan kembali untuk menjadi satu,” terangnya.
Namun, pengembangan event budaya tersebut juga dinilai perlu mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk kegiatan yang sudah ada, tetapi juga harus memastikan tradisi tetap relevan dan dapat diterima generasi berikutnya.
“Kalau tidak kita sesuaikan dengan kondisi yang ada sekarang, kemungkinan kita akan mengalami penurunan ataupun kehilangan seni dan budaya itu sendiri,” katanya.
Selain menjadi ruang pelestarian, event tersebut diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi pelaku seni, budaya, dan ekonomi kreatif Berau. Berbagai karya dapat ditampilkan dalam satu panggung, sekaligus mempertemukan tradisi yang selama ini berkembang secara terpisah di sejumlah kampung.
Dia berharap, konsep tersebut nantinya mampu membangun identitas budaya Berau yang lebih kuat sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal warisan daerahnya.
“Dengan cara melestarikan melalui suatu event, mudah-mudahan pelaku seni, budaya, dan kreator bisa menampilkan semua kreasinya dan menjadi satu padu,” tandasnya.
Editor: Erwin