Kamis, 01/10/2026
Kamis, 01/10/2026
Kondisi tepian sungai Mahakam kawasan Melak yang menyusut saat musim kemarau (Adi/Korankaltim.com)
Kamis, 01/10/2026

Kondisi tepian sungai Mahakam kawasan Melak yang menyusut saat musim kemarau (Adi/Korankaltim.com)
Penulis : Kusmas Riadi
KORANKALTIM.COM, SENDAWAR - Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Barat (Dinkes Kubar) mencatat ada sebanyak 2.364 kasus diare yang terjadi hingga akhir September 2026 ini. Peningkatan kasus menjadi perhatian Dinkes seiring musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.
Pelaksana Tugas (Plt Kepala Dinkes Kubar Barnabas mengatakan, peningkatan kasus cukup terlihat dari Agustus menuju September. “Selain kabut asap, kemarau yang berkepanjangan ini dampaknya adalah penyakit yang meningkat, yaitu diare,” kata Barnabas kepada Korankaltim.com, Kamis (1/10/2026).
Musim kemarau berkaitan dengan ketersediaan air yang digunakan masyarakat. Saat debit air mengecil dan sejumlah sumber air mulai mengering, sebagian masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi ini menjadi perhatian terutama di wilayah yang masyarakatnya masih mengandalkan air sungai. Meski debit air berkurang dan alirannya tidak lagi lancar, sungai tetap dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk mandi, mencuci hingga konsumsi.
“Debitnya kecil dan banyak yang mengering sehingga terputus-putus. Masyarakat masih mengonsumsi, terutama untuk air sungai di daerah tertentu,” jelasnya.
Sanitasi juga turut menjadi perhatian. Disejumlah wilayah masih terdapat masyarakat yang belum memiliki fasilitas pembuangan kotoran atau toilet yang layak. Kondisi tersebut menjadi risiko ketika sungai yang digunakan untuk membuang kotoran juga dimanfaatkan sebagai sumber air untuk kebutuhan sehari-hari. “Cukup signifikan untuk data peningkatan kasus diare di bulan-bulan September. Sebenarnya dari Agustus sampai ke September ini cukup meningkat dari biasanya,” ujar Barnabas.
Meski jumlah kasus telah mencapai 2.364, sejauh ini belum ada laporan kematian akibat diare. Berdasarkan data yang disampaikan Barnabas, kasus cukup tinggi terdapat di Tering Seberang, Kelian, dan Dempar.
Meski sejauh ini belum ada laporan kematian, diare tetap perlu mendapat penanganan yang tepat. Kehilangan cairan dan elektrolit akibat diare dapat menyebabkan dehidrasi berat dan berisiko fatal apabila tidak segera ditangani.
Dinkes Kubar mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan air yang dikonsumsi, terutama untuk kebutuhan minum. Masyarakat yang masih mengambil air dari sungai atau sumber air yang belum dipastikan layak konsumsi diminta untuk mengolahnya terlebih dahulu.
“Kalau ambil dari sungai, ataupun bukan dari tempat yang sudah seperti PDAM, layak diminum kalau sudah direbus sampai mendidih,” ungkap Barnabas.
Editor: Aspian Nur
Kamis, 01/10/2026
Kondisi tepian sungai Mahakam kawasan Melak yang menyusut saat musim kemarau (Adi/Korankaltim.com)
TERPOPULER