Kamis, 20/08/2026
Kamis, 20/08/2026
Kondisi Kabut Asap di wilayah perkotaan Kabupaten Berau pada Kamis (20/8/2026). (Indri/Korankaltim.com).
Kamis, 20/08/2026

Kondisi Kabut Asap di wilayah perkotaan Kabupaten Berau pada Kamis (20/8/2026). (Indri/Korankaltim.com).
Penulis: Indri
KORANKALTIM.COM, TANJUNG REDEB — Kabupaten Berau menghadapi tekanan serius akibat kondisi cuaca kering yang memicu peningkatan titik panas. Hingga Kamis (20/8/2026), Berau tercatat sebagai daerah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi di Kalimantan Timur (Kaltim), yakni mencapai 619 titik. Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Sepinggan, Balikpapan menunjukkan, secara keseluruhan terdapat 1.202 titik panas yang terdeteksi di Kaltim pada periode 01.00–24.00 Wita.
Sebaran tersebut didominasi wilayah utara dan timur provinsi. Berau berada di posisi teratas dengan 619 titik, disusul Kutai Timur sebanyak 314 titik dan Kutai Kartanegara 135 titik. Selanjutnya, Kutai Barat tercatat 84 titik dan Paser 42 titik.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau, Ade Heryadi, mengatakan tingginya jumlah titik panas tersebut berlangsung bersamaan dengan indikator kekeringan meteorologis yang semakin kuat di Berau. “Berau saat ini menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi di Kalimantan Timur,” ujarnya. Kondisi tersebut diperkuat dengan peningkatan suhu maksimum harian.
Berdasarkan pemantauan Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau, suhu maksimum Berau mencapai 36 derajat Celsius pada 17 Agustus, meningkat menjadi 36,2 derajat Celsius pada 18 Agustus, kemudian melonjak hingga 37,3 derajat Celsius pada 19 Agustus.
Dari 619 titik panas di Berau, konsentrasi terbesar berada di Kecamatan Pulau Derawan dengan 211 titik. Tingginya aktivitas titik panas ini turut berdampak terhadap jarak pandang di sejumlah wilayah. BMKG mencatat jarak pandang di Berau berkisar 1,5 hingga 8 kilometer.
Kondisi terendah mencapai 1,5 kilometer yang diduga berkaitan dengan keberadaan asap akibat kebakaran lahan. Situasi semakin diperberat oleh lemahnya angin permukaan yang hanya berkisar 0–15 kilometer per jam, dengan arah dominan dari timur. Kondisi angin yang relatif lemah berpotensi membuat asap lebih lama bertahan di suatu wilayah. Indikator lainnya terlihat dari Hari Tanpa Hujan (HTH). Pemantauan sejak 1 hingga 19 Agustus menunjukkan Berau telah mengalami 11–20 hari tanpa hujan secara berturut-turut atau masuk kategori menengah. Kombinasi suhu tinggi, minimnya hujan, angin yang relatif lemah, dan tingginya titik panas membuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) perlu mendapat perhatian serius.
BMKG mengingatkan masyarakat maupun pihak terkait agar tidak melakukan pembakaran lahan, termasuk aktivitas lain yang berpotensi menjadi sumber api di tengah kondisi kering.
“Kami mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan,” tegasnya. Selain menghindari aktivitas pembakaran, masyarakat diminta aktif memantau perkembangan cuaca dan kondisi lingkungan, terutama di wilayah yang memiliki potensi kebakaran tinggi.
Ade menegaskan, kondisi cuaca kering harus menjadi perhatian bersama agar peningkatan titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. “Jangan menunggu api membesar, kewaspadaan dan pencegahan harus dilakukan sejak dini,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Kamis, 20/08/2026
Kondisi Kabut Asap di wilayah perkotaan Kabupaten Berau pada Kamis (20/8/2026). (Indri/Korankaltim.com).
TERPOPULER