Jumat, 24/04/2026

Destinasi Wisata Alam Larang Wisatawan Selfie di Taman Safari

Jumat, 24/04/2026

Harimau di taman safari yang terus menerus jadi obyek wisatawan hingga mengancam kehidupan mereka di alam bebas. (alamy)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Destinasi Wisata Alam Larang Wisatawan Selfie di Taman Safari

Jumat, 24/04/2026

logo

Harimau di taman safari yang terus menerus jadi obyek wisatawan hingga mengancam kehidupan mereka di alam bebas. (alamy)

KORANKALTIM.COM - Beberapa wisatawan menaiki mobil Jeep melintasi hutan yang diterangi sinar matahari di India, ketika tiba-tiba dihadapan mata mereka seekor harimau muncul dari semak-semak. 

Para pelancong dari beberapa negara itu langsung meraih ponsel, mengatur sudutnya agar dapat mengabadikan wajah yang takjub dan harimau perkasa itu dalam satu bingkai. Berhasil, mereka berhasil mengambil foto tepat sebelum predator itu menghilang. 

Mengabadikan gambar seperti itu adalah impian setiap wisatawan. Namun, berkat putusan Mahkamah Agung India, pemandangan ini tak akan lagi terlihat di hutan-hutan negara tersebut dalam waktu dekat. 

Putusan Mahkamah Agung yang dikeluarkan pada November 2025 telah melarang penggunaan ponsel di zona wisata inti beberapa cagar harimau di India dengan alasan perangkat tersebut serta perilaku wisatawan safari saat menggunakannya, terlalu berbahaya bagi manusia dan satwa liar.

Pada bulan Februari 2026 lalu, sebuah video viral yang mengejutkan menggambarkan betapa buruknya keadaan saat ini. Dalam video tersebut, seekor harimau liar di Taman Nasional Ranthambore, Rajasthan, dikelilingi oleh banyak kendaraan safari dan terpaksa berjalan di antara kendaraan-kendaraan tersebut untuk melarikan diri ke hutan, sementara beberapa meter dari sana, para wisatawan mengambil foto dan berteriak. 

Harimau tersebut tampak terpojok dan stres. Di India, momen-momen satwa liar yang dipenuhi orang seperti ini, yang disebut "kemacetan safari", semakin umum terjadi.

Keputusan tersebut terasa seperti respons terhadap masalah yang semakin memburuk, dimana wisatawan kini tidak hanya ingin melihat satwa liar, tetapi juga ingin mendokumentasikan momen saat mereka melihatnya.

"Orang-orang sudah bertindak sembrono saat berfoto bersama hewan-hewan tersebut, dan telah terjadi insiden di mana ponsel terjatuh sehingga pemandu harus melompat dari jip untuk mengambilnya," kata jurnalis India Charukesi Ramadurai melansir dari laman bbc.com Jumat (24/4/2026) hari ini. 

"Ada insiden dimana seorang anak terjatuh dari jip karena ibunya sedang mengambil foto selfie dan anak itu tersenggol hingga terlempar. Pemandu harus melompat dan mengangkat anak itu,  sementara harimau berada hanya beberapa meter di depan," sebutnya.

India menjadi rumah bagi lebih dari 3.600 harimau Bengal liar, yang mewakili sekitar 75 persen populasi harimau liar di dunia. Sebagian besar dari mereka hidup di satu dari 58 cagar harimau resmi di negara tersebut, seperti Taman Nasional Ranthambore di Rajasthan dan Taman Nasional Jim Corbett di Uttarakhand. Meskipun harimau Bengal masih tergolong spesies yang terancam punah, upaya konservasi di India telah berhasil menggandakan jumlahnya antara tahun 2010 dan 2022.

Namun seiring dengan peningkatan populasi tersebut, permintaan akan safari harimau pun meningkat, tanpa disertai rasa hormat yang semestinya terhadap satwa liar atau pemahaman akan betapa liarnya mereka. Harimau telah menyebabkan 418 kematian akibat kecelakaan di India selama lima tahun terakhir.

Bagi Sharad Kumar Vats, CEO Nature Safari India, ponsel telah memengaruhi perilaku safari di segala tingkatan. Menurutnya, komunikasi via WhatsApp antarpengemudi membuat mereka lebih cepat berbagi informasi tentang penampakan satwa, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya kemacetan di jalur safari. Postingan media sosial yang dilengkapi geotag menimbulkan masalah lain.

"Jika orang-orang menandai foto mereka, lokasi tertentu menjadi dikenal sebagai tempat minum harimau bersama anak-anaknya dan semua orang pun berbondong-bondong ke sana," ujar Vats. 

"Namun kita harus menjaga area tersebut tetap seaman mungkin, harus menjaga jarak dan dengan adanya ponsel, hal itu menjadi masalah," tegasnya.

Bagi Vats, harimau harus menjadi prioritas. "Jika kita tidak peka terhadap mereka, mereka akan punah. Dan jika tidak ada harimau, tidak akan ada wisata harimau," jelas Vats lagi.

Peraturan baru Mahkamah Agung juga melarang safari malam karena mengganggu harimau serta membatasi pembangunan di kawasan pinggiran sekitar cagar alam harimau di seluruh negeri. 

Putusan tersebut juga memprioritaskan pariwisata berkelanjutan, dengan fokus pada dukungan terhadap penginapan rumah tangga dan fasilitas yang dikelola masyarakat, serta mengurangi prioritas terhadap segala bentuk pariwisata massal. Operator pariwisata diberi waktu tiga hingga enam bulan untuk menerapkan langkah-langkah tersebut, dengan dampak nyata diperkirakan akan terlihat akhir tahun ini ketika cagar alam dibuka setelah musim hujan. 

Bagi konsultan pariwisata berkelanjutan yang berbasis di Mumbai, Ritu Makhija, perubahan tersebut menuntut adaptasi skala penuh dari industri pariwisata.

"Prinsipnya sederhana dan penting: konservasi adalah yang utama. Operator harus merancang pengalaman siang hari yang dikelola dengan baik, tidak hanya berfokus pada penampakan harimau. Penginapan harus sepenuhnya sesuai dengan norma lingkungan dan berinvestasi pada infrastruktur yang berdampak rendah, dan perencana perjalanan harus menyesuaikan kembali ekspektasi pengunjung ke arah pengalaman satwa liar yang lebih lambat dan lebih mendalam," paparnya.

India bukanlah satu-satunya negara yang memperketat peraturan terkait satwa liar. Menyusul rekaman video yang mengkhawatirkan yang diambil selama migrasi rusa kutub tahun lalu, dimana para wisatawan menghalangi jalur hewan-hewan yang sedang bermigrasi, Kementerian Pariwisata dan Satwa Liar Kenya mengumumkan standar perilaku baru bagi operator tur, yang mewajibkan mereka untuk mematuhi aturan yang lebih ketat atau menghadapi konsekuensi disiplin atau hukum. 

Peraturan baru seputar pengamatan beruang kutub di Svalbard juga mulai berlaku tahun lalu, yang mewajibkan kapal pesiar satwa liar untuk tetap berada pada jarak 300 hingga 500 meter dari predator tersebut, tergantung musimnya. 

Di Sri Lanka, kepadatan pengunjung di taman nasional telah mendorong operator tur lokal untuk menyerukan intervensi pemerintah yang lebih kuat dan regulasi yang lebih baik.

Ini merupakan sinyal yang jelas kalau perubahan signifikan diperlukan dalam pariwisata satwa liar untuk memikirkan kembali bagaimana konservasi dan pariwisata dapat bekerja sama. Meskipun industri pariwisata India secara umum menyambut baik perubahan tersebut, muncul pertanyaan apakah pendekatan India sudah cukup jauh dan apakah beberapa intervensi memerlukan pertimbangan yang lebih cermat.

Di Kenya, pemandu safari swasta Zarek Cockar berpendapat bahwa masalah ini melampaui sekadar ponsel dan perilaku individu; ini menyangkut penyesuaian ulang terhadap apa yang kita harapkan dari sebuah safari.

"Fotografer dengan lensa besar yang berdesak-desakan untuk turun ke tanah demi sudut pandang yang lebih baik bisa jadi pelanggar yang jauh lebih parah daripada seseorang yang diam-diam mengambil foto dengan ponsel," kata Cockar. "Masalah yang lebih mendalam seringkali adalah penetapan ekspektasi yang buruk sejak awal. Jika tamu datang dengan keyakinan pertemuan dengan satwa liar adalah tentang mendekati satwa selagi mungkin atau mengambil foto dramatis dengan cara apa pun, pemandu kemudian berada di bawah tekanan besar untuk memenuhi ekspektasi tersebut," paparnya.


Editor: Aspian Nur

Destinasi Wisata Alam Larang Wisatawan Selfie di Taman Safari

Jumat, 24/04/2026

Harimau di taman safari yang terus menerus jadi obyek wisatawan hingga mengancam kehidupan mereka di alam bebas. (alamy)

Share

Berita Terkait