Jumat, 25/07/2025

Teknologi Militer Jerman Gunakan Kecoak jadi Mata-Mata Saat Perang

Jumat, 25/07/2025

Kecoak dengan perlengkapan khusus di punggung mereka dalam misi mematai-matai musuh saat perang terjadi. (Foto: Reuters)

Share
Join Grup Telegram Koran Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/+SsC4jer3I5syZWU1 atau klik tombol dibawah ini.

Grup Telegram Koran Kaltim

kemudian join. Anda harus instal aplikasi Telegram terlebih dahulu di ponsel.

Berita Terkait

Teknologi Militer Jerman Gunakan Kecoak jadi Mata-Mata Saat Perang

Jumat, 25/07/2025

logo

Kecoak dengan perlengkapan khusus di punggung mereka dalam misi mematai-matai musuh saat perang terjadi. (Foto: Reuters)

KORANKALTIM.COM – Dulu ada lebah mata-mata, sekarang ada kecoak yang siap tempur. Teknologi terus berubah dan karena itu peperangan pun berubah.

Mungkin terasa seperti diambil dari fiksi ilmiah, tetapi perusahaan teknologi militer Jerman, SWARM Biotactics, sedang mengembangkan hewan kecil yaitu kecoak menjadi cyborg yang dapat memata-matai dibalik garis pertahanan musuh.

Serangga ini yang dipuji karena daya tahannya yang luar biasa, dilengkapi ransel mini berisi kamera dan alat lain untuk mengumpulkan data musuh secara langsung (real-time). Operator manusia akan dapat mengendalikan mereka dengan menyetrum otak kecil kecoak itu dengan pulsa listrik.

Seekor kecoa mata-mata yang dikendalikan manusia dapat menjalankan misi rahasia untuk mengungkap informasi tentang posisi musuh.

Dengan aliran listrik memungkinkan manusia untuk mengendalikan pergerakan serangga dari jarak jauh, yang berarti mereka tidak perlu memasuki lingkungan yang berbahaya untuk mengumpulkan informasi.

"Bio-robot kami yang berbasis serangga hidup dilengkapi dengan stimulasi saraf, sensor dan modul komunikasi yang aman," ujar CEO Swarm Biotactic Stefan Wilhelm, kepada Reuters Jumat (25/7/2025) hari ini. "Mereka dapat dikemudikan secara individual atau beroperasi secara otonom dalam kawanan," imbuhnya.

Startup bio-robotik ini mendapatkan pendanaan awal sebesar €10 juta bulan lalu, hampir mencapai Rp200 Miliar, yang akan membantu membawa serangga ke medan perang.

"Sistem konvensional gagal di tempat yang paling membutuhkan kendali seperti zona terlarang, infrastruktur yang runtuh, medan yang kompleks secara politis," kata Wilhelm.

“SWARM adalah perusahaan pertama yang membangun kategori robotika yang sepenuhnya baru. Sistem yang terintegrasi secara biologi, berkemampuan AI dan dapat disebarkan secara massal untuk kecerdasan persisten di tempat-tempat yang tidak dapat dijangkau oleh drone atau robot darat,” tegasnya.

Tapi SWARM bukan satu-satunya yang mencoba meretas serangga secara biologis. Sebuah tim ilmuwan di Tiongkok mengklaim mereka telah menciptakan perangkat pengendali pikiran paling ringan di dunia untuk lebah.

Saat perangkat diikatkan ke punggung lebah, tiga jarum ditusukkan ke otak lebah. Operator kemudian dapat mengirimkan pulsa elektronik ke otak lebah dan memerintahkannya untuk terbang ke arah mana pun yang mereka inginkan.

Selama uji coba, yang dipublikasikan di Jurnal Teknik Mesin Tiongkok awal bulan ini, lebah-lebah tersebut mematuhi perintah operator dengan akurasi 90 persen.

Editor: Aspian Nur

Teknologi Militer Jerman Gunakan Kecoak jadi Mata-Mata Saat Perang

Jumat, 25/07/2025

Kecoak dengan perlengkapan khusus di punggung mereka dalam misi mematai-matai musuh saat perang terjadi. (Foto: Reuters)

Share

Berita Terkait