Upaya pemadaman dari udara tersebut mulai dilakukan sekitar pukul 14.30 Wita. Sebelum menjatuhkan air, sebuah pesawat kecil jenis Cessna terlebih dahulu melakukan pemetaan untuk memastikan titik-titik kebakaran yang menjadi sasaran penyiraman.
Pengawas Bencana BPBD Kota Samarinda wilayah Sambutan Maulana Firdaus mengatakan, berdasarkan pemantauan di lapangan, luasan area yang terbakar akibat karhutla di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 20 hektare.
“Alhamdulillah, sampai saat ini tepat pukul 14.30 tadi water bombing sudah melakukan penyiraman di area yang terbakar dengan luasan kisaran 20 hektare,” ujar Maulana.
Dia menjelaskan, terdapat dua pesawat yang terlibat dalam operasi tersebut dengan tugas berbeda. Pesawat Cessna bertugas melakukan pemetaan udara untuk melihat kondisi lapangan sekaligus menentukan titik yang memungkinkan dilakukan pengeboman air.
Sementara pesawat Hercules C-130 dari Australia bertugas membawa dan menjatuhkan air ke lokasi kebakaran. Meski demikian, pemadaman tidak hanya mengandalkan bantuan udara. Petugas gabungan juga tetap melakukan penanganan melalui jalur darat bersama relawan, pemadam kebakaran, dan BPBD.
“Untuk dampaknya terpantau mengurangi kebakaran. Namun, kita juga tidak berhenti sampai di situ. Pemadaman darat tetap dilakukan bersama teman-teman relawan, Damkar, dan BPBD,” jelasnya.
Di sisi lain, operasi waterbombing menghadapi kendala terkait keberadaan masyarakat di sekitar lokasi. Sebab, berdasarkan hasil koordinasi dan pengarahan sebelum operasi, area dalam radius 700 meter harus dipastikan steril dari aktivitas warga.
Namun, saat pesawat melakukan penyiraman, masih ditemukan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut, bahkan anak-anak. Kondisi ini dikhawatirkan membahayakan keselamatan karena pesawat harus terbang pada ketinggian rendah dengan membawa muatan air dalam jumlah besar.
Maulana menyebut, pihaknya telah memberikan imbauan dan melakukan pembatasan akses di pintu masuk maupun keluar kawasan kebakaran.
“Pesawat ini terbangnya rendah dan muatannya cukup berat, sekitar 15 ton. Jadi, radius yang sudah disepakati harus steril untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan pesawat Hercules tersebut bertolak dari Balikpapan dengan membawa pasokan air yang telah diisi di darat. Kapasitas angkut air mencapai 15.000 liter.
“Pesawat ini mampu terbang hingga empat jam. Namun, untuk proses penyiraman di lokasi kebakaran, kemungkinan sekitar 30 menit. Airnya sendiri diisi terlebih dahulu di darat, di Balikpapan, dengan kapasitas angkut mencapai 15.000 liter,” tutupnya.
Editor: Erwin
Upaya pemadaman dari udara tersebut mulai dilakukan sekitar pukul 14.30 Wita. Sebelum menjatuhkan air, sebuah pesawat kecil jenis Cessna terlebih dahulu melakukan pemetaan untuk memastikan titik-titik kebakaran yang menjadi sasaran penyiraman.
Pengawas Bencana BPBD Kota Samarinda wilayah Sambutan Maulana Firdaus mengatakan, berdasarkan pemantauan di lapangan, luasan area yang terbakar akibat karhutla di kawasan tersebut diperkirakan mencapai 20 hektare.
“Alhamdulillah, sampai saat ini tepat pukul 14.30 tadi water bombing sudah melakukan penyiraman di area yang terbakar dengan luasan kisaran 20 hektare,” ujar Maulana.
Dia menjelaskan, terdapat dua pesawat yang terlibat dalam operasi tersebut dengan tugas berbeda. Pesawat Cessna bertugas melakukan pemetaan udara untuk melihat kondisi lapangan sekaligus menentukan titik yang memungkinkan dilakukan pengeboman air.
Sementara pesawat Hercules C-130 dari Australia bertugas membawa dan menjatuhkan air ke lokasi kebakaran. Meski demikian, pemadaman tidak hanya mengandalkan bantuan udara. Petugas gabungan juga tetap melakukan penanganan melalui jalur darat bersama relawan, pemadam kebakaran, dan BPBD.
“Untuk dampaknya terpantau mengurangi kebakaran. Namun, kita juga tidak berhenti sampai di situ. Pemadaman darat tetap dilakukan bersama teman-teman relawan, Damkar, dan BPBD,” jelasnya.
Di sisi lain, operasi waterbombing menghadapi kendala terkait keberadaan masyarakat di sekitar lokasi. Sebab, berdasarkan hasil koordinasi dan pengarahan sebelum operasi, area dalam radius 700 meter harus dipastikan steril dari aktivitas warga.
Namun, saat pesawat melakukan penyiraman, masih ditemukan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut, bahkan anak-anak. Kondisi ini dikhawatirkan membahayakan keselamatan karena pesawat harus terbang pada ketinggian rendah dengan membawa muatan air dalam jumlah besar.
Maulana menyebut, pihaknya telah memberikan imbauan dan melakukan pembatasan akses di pintu masuk maupun keluar kawasan kebakaran.
“Pesawat ini terbangnya rendah dan muatannya cukup berat, sekitar 15 ton. Jadi, radius yang sudah disepakati harus steril untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan pesawat Hercules tersebut bertolak dari Balikpapan dengan membawa pasokan air yang telah diisi di darat. Kapasitas angkut air mencapai 15.000 liter.
“Pesawat ini mampu terbang hingga empat jam. Namun, untuk proses penyiraman di lokasi kebakaran, kemungkinan sekitar 30 menit. Airnya sendiri diisi terlebih dahulu di darat, di Balikpapan, dengan kapasitas angkut mencapai 15.000 liter,” tutupnya.