Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim) termasuk Samarinda, belakangan ini mulai sering diguyur hujan meski belum sepenuhnya memasuki peralihan musim.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA – Sejumlah wilayah di Kalimantan Timur (Kaltim) termasuk Samarinda, belakangan ini mulai sering diguyur hujan meski belum sepenuhnya memasuki peralihan musim.
Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini dipicu oleh aktifnya fenomena atmosfer global.
Prakirawan BMKG Samarinda Fiona Alya Hanifah menjelaskan, intensitas hujan yang cukup sering pada awal November dipengaruhi oleh aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), salah satu variabilitas iklim.
“Saat posisinya sedang aktif, fenomena ini memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan yang signifikan di wilayah Kalimantan, khususnya Kaltim,” kata Fiona pada Kamis (5/12/2026).
Selain faktor MJO, Kaltim saat ini berada dalam fase transisi atau pancaroba. Angin dingin dari Asia (Monsun Asia) sudah mulai bergerak masuk ke Indonesia, meski di sisi lain pergerakan angin dari Australia masih terasa.
Memasuki dasarian pertama bulan ini, curah hujan di Kota Tepian diprediksi masih berada pada kategori menengah, yakni berkisar antara 50 hingga 75 milimeter per dasarian.
Angka itu sedikit berbeda dengan Kutai Barat dan Mahakam Ulu yang curah hujannya diprediksi lebih tinggi,mencapai 100 hingga 150 milimeter (mm).
Seringnya intensitas hujan belakangan ini membawa kabar baik bagi kualitas udara. Hujan yang turun dinilai mampu meredam titik panas sekaligus membersihkan polusi udara dari sisa kabut asap.
Asap muncul karena terdapat sumber api. Hujan yang turun akan memadamkan api tersebut terlebih dahulu,baru kemudian terjadi proses pencucian atmosfer.
“Air hujan membantu menurunkan konsentrasi partikel jahat di udara, sehingga secara berangsur-angsur kualitas udara kita membaik,” tambahnya.
Berdasarkan pantauan satelit, sebaran titik panas (hotspot) di Kaltim kini sudah menurun drastis dibanding bulan-bulan sebelumnya.
BMKG mencatat hanya tersisa lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, sementara 246 titik berada pada kategori sedang, dan dua titik pada kategori rendah.
Wilayah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar), dan Paser bahkan terpantau sudah bersih dari titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (zona merah).
Fiona menerangkan, hotspot yang tertangkap satelit merupakan indikator suhu permukaan yang lebih panas dari sekelilingnya, bukan berarti wilayah tersebut pasti mengalami kebakaran atau terdapat titik api.
Mengenai waktu pergantian musim, BMKG memperkirakan awal musim hujan di Samarinda tetap berjalan sesuai prediksi awal, yakni pada pertengahan November. Meski fenomena El Nino kuat diprediksi masih membayangi dan bertahan hingga awal tahun 2027, masyarakat diminta tidak panik.
BMKG memproyeksikan puncak musim hujan di Samarinda dan sekitarnya akan terjadi pada awal tahun depan, tepatnya sekitar Januari hingga Februari dengan intensitas curah hujan yang diperkirakan masih dalam batas normal. Puncak El Nino tersebut tidak sama dengan puncak musim kemarau.
“Wilayah yang memiliki pola musim monsunal seperti kita, musim hujan umumnya tetap dimulai pada November karena dorongan angin monsun yang lebih kuat,” tandasnya.
Editor: Erwin
Berdasarkan keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini dipicu oleh aktifnya fenomena atmosfer global.
Prakirawan BMKG Samarinda Fiona Alya Hanifah menjelaskan, intensitas hujan yang cukup sering pada awal November dipengaruhi oleh aktifnya Madden-Julian Oscillation (MJO), salah satu variabilitas iklim.
“Saat posisinya sedang aktif, fenomena ini memicu peningkatan pertumbuhan awan hujan yang signifikan di wilayah Kalimantan, khususnya Kaltim,” kata Fiona pada Kamis (5/12/2026).
Selain faktor MJO, Kaltim saat ini berada dalam fase transisi atau pancaroba. Angin dingin dari Asia (Monsun Asia) sudah mulai bergerak masuk ke Indonesia, meski di sisi lain pergerakan angin dari Australia masih terasa.

Memasuki dasarian pertama bulan ini, curah hujan di Kota Tepian diprediksi masih berada pada kategori menengah, yakni berkisar antara 50 hingga 75 milimeter per dasarian.
Angka itu sedikit berbeda dengan Kutai Barat dan Mahakam Ulu yang curah hujannya diprediksi lebih tinggi,mencapai 100 hingga 150 milimeter (mm).
Seringnya intensitas hujan belakangan ini membawa kabar baik bagi kualitas udara. Hujan yang turun dinilai mampu meredam titik panas sekaligus membersihkan polusi udara dari sisa kabut asap.
Asap muncul karena terdapat sumber api. Hujan yang turun akan memadamkan api tersebut terlebih dahulu,baru kemudian terjadi proses pencucian atmosfer.
“Air hujan membantu menurunkan konsentrasi partikel jahat di udara, sehingga secara berangsur-angsur kualitas udara kita membaik,” tambahnya.
Berdasarkan pantauan satelit, sebaran titik panas (hotspot) di Kaltim kini sudah menurun drastis dibanding bulan-bulan sebelumnya.
BMKG mencatat hanya tersisa lima titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, sementara 246 titik berada pada kategori sedang, dan dua titik pada kategori rendah.
Wilayah seperti Samarinda, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Barat (Kubar), dan Paser bahkan terpantau sudah bersih dari titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (zona merah).






Fiona menerangkan, hotspot yang tertangkap satelit merupakan indikator suhu permukaan yang lebih panas dari sekelilingnya, bukan berarti wilayah tersebut pasti mengalami kebakaran atau terdapat titik api.
Mengenai waktu pergantian musim, BMKG memperkirakan awal musim hujan di Samarinda tetap berjalan sesuai prediksi awal, yakni pada pertengahan November. Meski fenomena El Nino kuat diprediksi masih membayangi dan bertahan hingga awal tahun 2027, masyarakat diminta tidak panik.
BMKG memproyeksikan puncak musim hujan di Samarinda dan sekitarnya akan terjadi pada awal tahun depan, tepatnya sekitar Januari hingga Februari dengan intensitas curah hujan yang diperkirakan masih dalam batas normal. Puncak El Nino tersebut tidak sama dengan puncak musim kemarau.
“Wilayah yang memiliki pola musim monsunal seperti kita, musim hujan umumnya tetap dimulai pada November karena dorongan angin monsun yang lebih kuat,” tandasnya.
Editor: Erwin
1.226 kali dibaca


Pusat gempa berada di darat 40 km timur laut Sigi
04 Nov 2026, 14:56:34 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG