Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih menyatakan, berdasarkan hasil penelusuran dan surveilans ke rumah sakit tempat almarhum balita itu terakhir kali dirawat, diagnosis dokter tidak menyebutkan asap karhutla sebagai penyebab kematian.
“Diagnosis dari dokter yang terakhir merawat tidak disebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla,” ujar Ismed dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Dalam ilmu kedokteran, kepastian penyebab kematian harus berpedoman pada diagnosis resmi dari dokter yang menangani pasien di akhir masa perawatan. Karena itu dugaan keluarga mengenai kaitan langsung antara paparan asap karhutla dan gangguan pernapasan korban tidak dapat dipastikan tanpa dukungan diagnosis medis yang valid.
"Penyebab kematian itu adalah berdasarkan diagnosa terakhir dokter yang merawat. Maka kami sudah menelusuri ke rumah sakit terakhir dimana pasien meninggal," papar Ismed.
Dinkes Samarinda mencatat adanya peningkatan signifikan pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data rekapitulasi dari seluruh puskesmas di Kota Tepian, tercatat sebanyak 8.610 kasus pada Juli 2026. Angka tersebut melonjak menjadi 10.681 kasus pada Agustus, dan mencapai puncaknya pada September dengan 12.819 kasus.
Sementara itu, hingga 16 Oktober 2026, tercatat sebanyak 6.709 kasus ISPA. Dengan demikian, total kumulatif kasus yang tercatat sejak Juli hingga pertengahan Oktober 2026 telah menembus angka 38.819 kasus.
Meski kasus meningkat seiring pekatnya kabut asap, Dinas Kesehatan menegaskan angka tersebut tidak serta-merta membuktikan seluruhnya diakibatkan secara langsung oleh paparan karhutla.
Untuk menekan risiko gangguan kesehatan di tengah kondisi udara yang memburuk, masyarakat diimbau memperketat perlindungan diri. Masyarakat diminta konsisten menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengenakan masker layak saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi kegiatan di luar rumah bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
"Masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi kesehatan selama kabut asap berlangsung dan mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan," tutup Ismed.
Editor: Aspian Nur
Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih menyatakan, berdasarkan hasil penelusuran dan surveilans ke rumah sakit tempat almarhum balita itu terakhir kali dirawat, diagnosis dokter tidak menyebutkan asap karhutla sebagai penyebab kematian.
“Diagnosis dari dokter yang terakhir merawat tidak disebutkan bahwa yang bersangkutan meninggal karena karhutla,” ujar Ismed dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).
Dalam ilmu kedokteran, kepastian penyebab kematian harus berpedoman pada diagnosis resmi dari dokter yang menangani pasien di akhir masa perawatan. Karena itu dugaan keluarga mengenai kaitan langsung antara paparan asap karhutla dan gangguan pernapasan korban tidak dapat dipastikan tanpa dukungan diagnosis medis yang valid.
"Penyebab kematian itu adalah berdasarkan diagnosa terakhir dokter yang merawat. Maka kami sudah menelusuri ke rumah sakit terakhir dimana pasien meninggal," papar Ismed.
Dinkes Samarinda mencatat adanya peningkatan signifikan pada kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data rekapitulasi dari seluruh puskesmas di Kota Tepian, tercatat sebanyak 8.610 kasus pada Juli 2026. Angka tersebut melonjak menjadi 10.681 kasus pada Agustus, dan mencapai puncaknya pada September dengan 12.819 kasus.
Sementara itu, hingga 16 Oktober 2026, tercatat sebanyak 6.709 kasus ISPA. Dengan demikian, total kumulatif kasus yang tercatat sejak Juli hingga pertengahan Oktober 2026 telah menembus angka 38.819 kasus.
Meski kasus meningkat seiring pekatnya kabut asap, Dinas Kesehatan menegaskan angka tersebut tidak serta-merta membuktikan seluruhnya diakibatkan secara langsung oleh paparan karhutla.
Untuk menekan risiko gangguan kesehatan di tengah kondisi udara yang memburuk, masyarakat diimbau memperketat perlindungan diri. Masyarakat diminta konsisten menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), mengenakan masker layak saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi kegiatan di luar rumah bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia.
"Masyarakat juga diimbau memperhatikan kondisi kesehatan selama kabut asap berlangsung dan mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan," tutup Ismed.
Editor: Aspian Nur