Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Genangan air di kawasan Jalan Pangeran Antasari dan sekitarnya menjadi salah satu persoalan yang coba diatasi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui optimalisasi sistem pengendalian banjir.
Penulis: Ayu Norwahliyah
KORANKALTIM.COM, SAMARINDA - Genangan air di kawasan Jalan Pangeran Antasari dan sekitarnya menjadi salah satu persoalan yang coba diatasi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui optimalisasi sistem pengendalian banjir.
Salah satu opsi yang kini dikaji adalah membangun saluran pembuangan dari Polder Gang Indra yang mengalirkan air langsung ke Sungai Mahakam.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun menyatakan rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan teknis. Pihaknya kini mempertimbangkan pemasangan pipa dari sekitar ujung rumah pompa di Polder Gang Indra, Jalan Pangeran Antasari, menuju kawasan Banggeris sebelum air dibuang ke Sungai Mahakam.
Skema ini diharapkan mampu mengurangi penumpukan air dari kawasan Banggeris, Jalan MT Haryono, Pangeran Antasari, dan sekitarnya.
“Pelan-pelan kita akan alirkan langsung ke Mahakam,” kata Andi Harun.
Penggunaan pipa disebut lebih efisien dibandingkan pembangunan saluran terbuka berbahan beton yang memerlukan pekerjaan fisik lebih besar.
Kendati demikian, kebutuhan anggaran secara rinci belum dapat dipastikan karena perhitungan teknis masih dikaji oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda.
“Pipa diameter berapa, sekitar 800 milimeter minimal. Kita bicara dulu bahwa ini menemukan satu solusi atau rencana inovasi dalam rangka pengendalian atau pengurangan genangan air di daerah Antasari,” ujarnya.
Selain infrastruktur, penanganan genangan juga mengharuskan adanya pemeliharaan polder secara berkelanjutan, termasuk mengendalikan tumbuhan air seperti eceng gondok.
Luas wilayah Kota Tepian membuat kebutuhan tenaga, anggaran, dan peralatan mekanis menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, Pemkot Samarinda berencana menambah alat berat jenis ekskavator pada 2027 mendatang jika kemampuan anggaran memungkinkan, mengingat saat ini hanya tersedia satu hingga dua unit.
Di sisi lain, Andi Harun berharap para pelaku usaha di Samarinda dan Kaltim dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk penyediaan alat berat.
“Kalau pemerintah punya keterbatasan, tapi tetap kita anggarkan. Rencana tahun depan kalau dana kita cukup, kita akan tambah alat mekanis ekskavator,” katanya.
Samarinda sendiri telah memiliki Polder Air Hitam hingga Polder Gang Indra. Namun, pembangunan kolam retensi atau embung baru memerlukan biaya besar, terutama untuk konstruksi tanggul.
Sebagai gambaran, pembangunan kolam berkapasitas seperti Polder Gang Indra membutuhkan anggaran sekitar Rp200 miliar hingga Rp300 miliar sesuai harga saat ini.
Di tengah keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan kebijakan efisiensi dalam dua tahun terakhir, Pemkot Samarinda memilih memaksimalkan polder yang tersedia sambil meningkatkan efektivitas pemeliharaannya.
“Kita memanfaatkan anggaran yang ada sambil mengefektifkan pemeliharaan,” pungkasnya.
Editor: Erwin
Salah satu opsi yang kini dikaji adalah membangun saluran pembuangan dari Polder Gang Indra yang mengalirkan air langsung ke Sungai Mahakam.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun menyatakan rencana tersebut masih dalam tahap pembahasan teknis. Pihaknya kini mempertimbangkan pemasangan pipa dari sekitar ujung rumah pompa di Polder Gang Indra, Jalan Pangeran Antasari, menuju kawasan Banggeris sebelum air dibuang ke Sungai Mahakam.
Skema ini diharapkan mampu mengurangi penumpukan air dari kawasan Banggeris, Jalan MT Haryono, Pangeran Antasari, dan sekitarnya.
“Pelan-pelan kita akan alirkan langsung ke Mahakam,” kata Andi Harun.

Penggunaan pipa disebut lebih efisien dibandingkan pembangunan saluran terbuka berbahan beton yang memerlukan pekerjaan fisik lebih besar.
Kendati demikian, kebutuhan anggaran secara rinci belum dapat dipastikan karena perhitungan teknis masih dikaji oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Samarinda.
“Pipa diameter berapa, sekitar 800 milimeter minimal. Kita bicara dulu bahwa ini menemukan satu solusi atau rencana inovasi dalam rangka pengendalian atau pengurangan genangan air di daerah Antasari,” ujarnya.
Selain infrastruktur, penanganan genangan juga mengharuskan adanya pemeliharaan polder secara berkelanjutan, termasuk mengendalikan tumbuhan air seperti eceng gondok.
Luas wilayah Kota Tepian membuat kebutuhan tenaga, anggaran, dan peralatan mekanis menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, Pemkot Samarinda berencana menambah alat berat jenis ekskavator pada 2027 mendatang jika kemampuan anggaran memungkinkan, mengingat saat ini hanya tersedia satu hingga dua unit.
Di sisi lain, Andi Harun berharap para pelaku usaha di Samarinda dan Kaltim dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk penyediaan alat berat.
“Kalau pemerintah punya keterbatasan, tapi tetap kita anggarkan. Rencana tahun depan kalau dana kita cukup, kita akan tambah alat mekanis ekskavator,” katanya.
Samarinda sendiri telah memiliki Polder Air Hitam hingga Polder Gang Indra. Namun, pembangunan kolam retensi atau embung baru memerlukan biaya besar, terutama untuk konstruksi tanggul.
Sebagai gambaran, pembangunan kolam berkapasitas seperti Polder Gang Indra membutuhkan anggaran sekitar Rp200 miliar hingga Rp300 miliar sesuai harga saat ini.
Di tengah keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan kebijakan efisiensi dalam dua tahun terakhir, Pemkot Samarinda memilih memaksimalkan polder yang tersedia sambil meningkatkan efektivitas pemeliharaannya.
“Kita memanfaatkan anggaran yang ada sambil mengefektifkan pemeliharaan,” pungkasnya.
Editor: Erwin







Pusat gempa berada di laut 103 km selatan Pacitan
13 Okt 2026, 17:22:02 WIB • Kedalaman 10 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG