Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan usulan penambahan anggaran telah dilakukan dan pencairan telah dilakukan secara bertahap. Saat ini, anggaran yang baru disalurkman sebesar Rp175 juta dari total pengajuan Rp350 juta.
“Pengajuan BTT terakhir sebesar Rp350 juta, rencananya diperuntukkan untuk bahan bakar minyak (BBM), konsumsi petugas di lapangan, dan perbaikan peralatan. Percuma saja ada BBM dan makan minum kalau peralatannya tidak sehat,” tegasnya, Selasa (20/10/2026).
Sebelumnya, BPBD PPU telah menerima anggaran BTT awal sebesar Rp107 juta. Kemudian, BPBD kembali mengajukan tambahan sebesar Rp180 juta untuk penanganan karhutla di seluruh kecamatan.
Tingginya intensitas kejadian karhutla membuat BPBD PPU kembali mengajukan BTT sebesar Rp350 juta.
Sejak Juli hingga Oktober, BPBD PPU telah menangani 273 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 642 hektare.
Nurlaila mengakui, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah kondisi mental dan fisik personel di lapangan. Pasalnya, petugas harus bekerja tanpa henti dengan paparan asap, debu, panas serta menghadapi risiko keberadaan binatang buas.
“Tenaga yang kita butuhkan di situ luar biasa. Bisa kita lihat beberapa kejadian sampai jam 01.00 malam, tembus pagi, bahkan ada petugas yang harus bermalam di lokasi,” tuturnya.
BPBD PPU juga meminta adanya tim medis di lapangan, guna mengantisipasi kelelahan maupun kondisi darurat yang dialami petugas saat menangani karhutla.
Editor: Erwin
Kepala BPBD PPU, Nurlaila, mengatakan usulan penambahan anggaran telah dilakukan dan pencairan telah dilakukan secara bertahap. Saat ini, anggaran yang baru disalurkman sebesar Rp175 juta dari total pengajuan Rp350 juta.
“Pengajuan BTT terakhir sebesar Rp350 juta, rencananya diperuntukkan untuk bahan bakar minyak (BBM), konsumsi petugas di lapangan, dan perbaikan peralatan. Percuma saja ada BBM dan makan minum kalau peralatannya tidak sehat,” tegasnya, Selasa (20/10/2026).
Sebelumnya, BPBD PPU telah menerima anggaran BTT awal sebesar Rp107 juta. Kemudian, BPBD kembali mengajukan tambahan sebesar Rp180 juta untuk penanganan karhutla di seluruh kecamatan.
Tingginya intensitas kejadian karhutla membuat BPBD PPU kembali mengajukan BTT sebesar Rp350 juta.
Sejak Juli hingga Oktober, BPBD PPU telah menangani 273 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak mencapai 642 hektare.
Nurlaila mengakui, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah kondisi mental dan fisik personel di lapangan. Pasalnya, petugas harus bekerja tanpa henti dengan paparan asap, debu, panas serta menghadapi risiko keberadaan binatang buas.
“Tenaga yang kita butuhkan di situ luar biasa. Bisa kita lihat beberapa kejadian sampai jam 01.00 malam, tembus pagi, bahkan ada petugas yang harus bermalam di lokasi,” tuturnya.
BPBD PPU juga meminta adanya tim medis di lapangan, guna mengantisipasi kelelahan maupun kondisi darurat yang dialami petugas saat menangani karhutla.