Langkah ini dinilai penting agar indikasi kebakaran segera diverifikasi dan ditangani sebelum meluas.
Kewaspadaan tersebut diperkuat setelah terdeteksi 95 titik panas (hotspot) di wilayah Kukar pada Senin (19/10/2026). Meski jumlahnya menurun dibandingkan beberapa bulan sebelumnya yang sempat mencapai 300–400 titik, potensi karhutla tetap perlu diwaspadai.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menjelaskan, titik panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan merupakan indikasi awal dan belum dapat dipastikan sebagai kebakaran. Karena itu, pengecekan langsung di lapangan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
“Kami mengandalkan laporan cepat dari tingkat desa, kalau ada kepulan asap atau indikasi kebakaran, masyarakat dan aparat setempat harus segera melapor agar tindak lanjut pemadaman bisa dilakukan secepat mungkin,” kata Sandi kepada KoranKaltim.com, Kamis (22/10/2026).
Untuk mempercepat proses verifikasi, BPBD Kukar telah membagikan informasi titik koordinat panas tersebut kepada pemerintah kecamatan untuk diteruskan ke tingkat desa.
“Sinergi ini kami fokuskan untuk menelusuri apakah titik panas itu dari aktivitas pembakaran disengaja atau potensi kebakaran lahan,” kata dia.
Saat ini, BPBD Kukar memberikan perhatian khusus terhadap wilayah Kecamatan Kenohan, terutama di sekitar kawasan Desa Kahala dan Lamin Telihan, di samping tetap memantau wilayah potensial lainnya.
Ia menyebut, faktor cuaca seperti hujan di beberapa titik membantu menurunkan jumlah titik hotspot, namun pengawasan dipastikan tetap dimaksimalkan.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Kukar mengimbau agar warga tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Sinergi antara pemerintah daerah, pihak kecamatan, aparat desa, dan masyarakat kami harapkan mampu menjaga wilayah Kukar dari ancaman karhutla yang lebih luas,” tutupnya.
Editor: Erwin
Langkah ini dinilai penting agar indikasi kebakaran segera diverifikasi dan ditangani sebelum meluas.
Kewaspadaan tersebut diperkuat setelah terdeteksi 95 titik panas (hotspot) di wilayah Kukar pada Senin (19/10/2026). Meski jumlahnya menurun dibandingkan beberapa bulan sebelumnya yang sempat mencapai 300–400 titik, potensi karhutla tetap perlu diwaspadai.
Sekretaris BPBD Kukar, Aspianur Sandi, menjelaskan, titik panas yang terdeteksi melalui sistem pemantauan merupakan indikasi awal dan belum dapat dipastikan sebagai kebakaran. Karena itu, pengecekan langsung di lapangan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
“Kami mengandalkan laporan cepat dari tingkat desa, kalau ada kepulan asap atau indikasi kebakaran, masyarakat dan aparat setempat harus segera melapor agar tindak lanjut pemadaman bisa dilakukan secepat mungkin,” kata Sandi kepada KoranKaltim.com, Kamis (22/10/2026).
Untuk mempercepat proses verifikasi, BPBD Kukar telah membagikan informasi titik koordinat panas tersebut kepada pemerintah kecamatan untuk diteruskan ke tingkat desa.
“Sinergi ini kami fokuskan untuk menelusuri apakah titik panas itu dari aktivitas pembakaran disengaja atau potensi kebakaran lahan,” kata dia.
Saat ini, BPBD Kukar memberikan perhatian khusus terhadap wilayah Kecamatan Kenohan, terutama di sekitar kawasan Desa Kahala dan Lamin Telihan, di samping tetap memantau wilayah potensial lainnya.
Ia menyebut, faktor cuaca seperti hujan di beberapa titik membantu menurunkan jumlah titik hotspot, namun pengawasan dipastikan tetap dimaksimalkan.
Sebagai langkah pencegahan, BPBD Kukar mengimbau agar warga tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
“Sinergi antara pemerintah daerah, pihak kecamatan, aparat desa, dan masyarakat kami harapkan mampu menjaga wilayah Kukar dari ancaman karhutla yang lebih luas,” tutupnya.
Editor: Erwin