Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Festival Hudoq Pekayang Kampung Long Pahangai II Tahun 2026, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), resmi dibuka, Selasa (20/10/2026).
2 menit baca7 kali dibaca

Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG – Festival Hudoq Pekayang Kampung Long Pahangai II Tahun 2026, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), resmi dibuka, Selasa (20/10/2026).
Festival yang diikuti 13 kontingen kampung tersebut menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan antarkampung sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi dan warisan budaya masyarakat Dayak Bahau.
Rangkaian pembukaan diawali dengan ritual adat napoq yang dilaksanakan oleh Lembaga Kampung Long Pahangai.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemasangan leku atau gelang sebagai bentuk penyambutan kepada tamu kehormatan.
Setelah itu, Bupati Mahulu Angela Idang Belawan, Wakil Bupati Suhuk, Ketua DPRD Mahulu Devung Paran serta unsur pimpinan Pemkab Mahulu lainnya berjalan mengikuti arakan menuju venue Festival Budaya Hudoq Pekayang.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan parade kontingen dari 13 kampung. Setelah parade, dilaksanakan sesi tengaran hudoq atau berbicara dengan hudoq, kemudian dilanjutkan dengan prosesi memberi makan hudoq.
Selanjutnya, Bupati Mahulu Angela Idang Belawan menyampaikan sambutan pembukaan sekaligus melakukan pemukulan tuvung sebagai tanda dibukanya Hudoq Pekayang Kecamatan Long Pahangai Tahun 2026.
Dalam sambutannya, Angela mengatakan Hudoq Pekayang memiliki makna yang dekat dengan kehidupan masyarakat Dayak Bahau.
Tradisi saling mengunjungi antarkampung menjadi sarana mempertemukan keluarga, mempererat persaudaraan dan menjaga hubungan baik yang telah diwariskan lintas generasi.
“Melalui perjumpaan seperti inilah, rasa saling mengenal dan kepedulian terhadap sesama terus dipelihara,” kata Angela.
Ia menyebut tema festival, “Hudoq Pekayang antara Manusia, Alam, dan Tradisi sebagai Penjaga Warisan Budaya Leluhur”, mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antara keberlanjutan budaya, kehidupan masyarakat dan alam.
Menurutnya, merawat alam berarti ikut menjaga ruang hidup masyarakat serta keberlanjutan tradisi yang tumbuh di dalamnya.
Angela juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai adat dalam pengembangan Hudoq Pekayang agar makna tradisi tetap terpelihara.
“Dalam memperkenalkan Hudoq Pekayang kepada masyarakat luas, tuntunan para pemangku adat harus tetap menjadi pegangan agar makna tradisi tetap terjaga,” ujarnya.
Pelestarian budaya, lanjut dia, membutuhkan keterlibatan generasi muda. Anak-anak muda Mahulu didorong untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya, mulai dari mempelajari tarian, musik, pembuatan topeng hingga cerita dan nilai yang menyertainya.
Angela berharap generasi muda dapat memperoleh kesempatan belajar langsung dari para pemangku adat dan pelaku budaya.
Dengan demikian, mereka tidak hanya mengenal bentuk tradisi, tetapi juga memahami makna serta tanggung jawab untuk meneruskannya.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, festival juga membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal.
“Perjumpaan masyarakat dari berbagai kampung juga membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal,” katanya.
Ia mengajak peserta dan pengunjung untuk mengenal hasil karya masyarakat serta berbelanja sesuai kebutuhan.
Partisipasi masyarakat dinilai dapat membantu produk kampung dikenal lebih luas dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Angela juga mengingatkan seluruh peserta dan pengunjung agar menjaga ketertiban, kebersihan lingkungan serta menghormati ketentuan adat dalam setiap prosesi festival.
Editor: Erwin
Festival yang diikuti 13 kontingen kampung tersebut menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan antarkampung sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi dan warisan budaya masyarakat Dayak Bahau.
Rangkaian pembukaan diawali dengan ritual adat napoq yang dilaksanakan oleh Lembaga Kampung Long Pahangai.
Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pemasangan leku atau gelang sebagai bentuk penyambutan kepada tamu kehormatan.
Setelah itu, Bupati Mahulu Angela Idang Belawan, Wakil Bupati Suhuk, Ketua DPRD Mahulu Devung Paran serta unsur pimpinan Pemkab Mahulu lainnya berjalan mengikuti arakan menuju venue Festival Budaya Hudoq Pekayang.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan parade kontingen dari 13 kampung. Setelah parade, dilaksanakan sesi tengaran hudoq atau berbicara dengan hudoq, kemudian dilanjutkan dengan prosesi memberi makan hudoq.
Selanjutnya, Bupati Mahulu Angela Idang Belawan menyampaikan sambutan pembukaan sekaligus melakukan pemukulan tuvung sebagai tanda dibukanya Hudoq Pekayang Kecamatan Long Pahangai Tahun 2026.
Dalam sambutannya, Angela mengatakan Hudoq Pekayang memiliki makna yang dekat dengan kehidupan masyarakat Dayak Bahau.
Tradisi saling mengunjungi antarkampung menjadi sarana mempertemukan keluarga, mempererat persaudaraan dan menjaga hubungan baik yang telah diwariskan lintas generasi.
“Melalui perjumpaan seperti inilah, rasa saling mengenal dan kepedulian terhadap sesama terus dipelihara,” kata Angela.
Ia menyebut tema festival, “Hudoq Pekayang antara Manusia, Alam, dan Tradisi sebagai Penjaga Warisan Budaya Leluhur”, mengingatkan pentingnya menjaga hubungan antara keberlanjutan budaya, kehidupan masyarakat dan alam.
Menurutnya, merawat alam berarti ikut menjaga ruang hidup masyarakat serta keberlanjutan tradisi yang tumbuh di dalamnya.
Angela juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai adat dalam pengembangan Hudoq Pekayang agar makna tradisi tetap terpelihara.






“Dalam memperkenalkan Hudoq Pekayang kepada masyarakat luas, tuntunan para pemangku adat harus tetap menjadi pegangan agar makna tradisi tetap terjaga,” ujarnya.
Pelestarian budaya, lanjut dia, membutuhkan keterlibatan generasi muda. Anak-anak muda Mahulu didorong untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya, mulai dari mempelajari tarian, musik, pembuatan topeng hingga cerita dan nilai yang menyertainya.
Angela berharap generasi muda dapat memperoleh kesempatan belajar langsung dari para pemangku adat dan pelaku budaya.
Dengan demikian, mereka tidak hanya mengenal bentuk tradisi, tetapi juga memahami makna serta tanggung jawab untuk meneruskannya.
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, festival juga membuka peluang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal.
“Perjumpaan masyarakat dari berbagai kampung juga membuka kesempatan bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan dan memasarkan produk lokal,” katanya.
Ia mengajak peserta dan pengunjung untuk mengenal hasil karya masyarakat serta berbelanja sesuai kebutuhan.
Partisipasi masyarakat dinilai dapat membantu produk kampung dikenal lebih luas dan membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Angela juga mengingatkan seluruh peserta dan pengunjung agar menjaga ketertiban, kebersihan lingkungan serta menghormati ketentuan adat dalam setiap prosesi festival.
Editor: Erwin


Pusat gempa berada di laut 6 km Barat Laut Pulau Saringi
20 Okt 2026, 18:28:11 WIB • Kedalaman 15 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG