Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Kebijakan belajar dari rumah (BDR) yang sebelumnya diterapkan selama kabut asap terjadi dihentikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mahakam Ulu (Disdikbud Mahulu).
2 menit baca3 kali dibaca

Penulis: Julika Hengin
KORANKALTIM.COM, UJOH BILANG - Kebijakan belajar dari rumah (BDR) yang sebelumnya diterapkan selama kabut asap terjadi dihentikan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mahakam Ulu (Disdikbud Mahulu).
Keputusan ini diambil setelah kondisi udara mulai membaik, sekaligus mempertimbangkan efektivitas pembelajaran agar pelajar tidak tertinggal materi pelajaran.
Kepala Disdikbud Mahulu Samson Batang menjelaskan, Disdikbud tidak lagi menerbitkan surat edaran perpanjangan BDR sejak awal pekan lalu dan pelajar kembali diarahkan mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.
“Syukurlah cuaca sudah mulai membaik, makanya sejak hari Senin lalu kami tidak mengeluarkan surat edaran lagi, menghentikan BDR dan tidak diperpanjang,” kata Samson kepada Korankaltim.com Jumat (16/10/2026).
Pembelajaran tatap muka perlu kembali dioptimalkan karena BDR memiliki keterbatasan dalam memastikan pelajar mengikuti proses belajar secara maksimal. Selama belajar dari rumah, guru tetap memberikan tugas tetapi para pelajar tidak selalu mendapatkan pendampingan langsung seperti ketika berada di kelas.
“Kami tidak menginginkan anak-anak itu tidak mendapat pelajaran yang seharusnya. Dengan adanya BDR, anak-anak ini mungkin banyak yang tidak serius belajar di rumah. Kami juga tidak mau ada ketinggalan materi-materi yang diberikan oleh guru,” tegas Samson.
Penghentian BDR dilakukan agar proses pembelajaran kembali berjalan sesuai jadwal, namun Disdikbud tetap mempertimbangkan kondisi kualitas udara di setiap wilayah Mahulu yang tidak selalu sama. Kepala sekolah bersama dewan guru diberikan kewenangan untuk menilai kondisi kabut asap di lingkungan masing-masing.
Jika asap kembali pekat dan dinilai mengganggu kesehatan pelajar, sekolah dapat mengambil keputusan untuk tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sebaliknya, jika kondisi udara memungkinkan, pelajar dapat kembali bersekolah dengan tetap memperhatikan perlindungan kesehatan, termasuk menggunakan masker.
“Kalau memang cuaca itu bagus, ya silakan saja. Tapi wajib menggunakan masker,” papar Samson.
Kalau kabut asap kembali memburuk, BDR masih dapat menjadi pilihan untuk melindungi pelajar dari paparan asap. Kebijakan tersebut akan mempertimbangkan kondisi di lapangan, terutama karena wilayah Mahulu cukup luas dan tingkat kepekatan asap bisa berbeda antardaerah.
Dengan penghentian BDR secara umum, Disdikbud Mahulu berharap pembelajaran tatap muka dapat kembali berjalan optimal tanpa mengabaikan faktor kesehatan apabila kondisi kabut asap kembali meningkat.
Editor: Aspian Nur
Keputusan ini diambil setelah kondisi udara mulai membaik, sekaligus mempertimbangkan efektivitas pembelajaran agar pelajar tidak tertinggal materi pelajaran.
Kepala Disdikbud Mahulu Samson Batang menjelaskan, Disdikbud tidak lagi menerbitkan surat edaran perpanjangan BDR sejak awal pekan lalu dan pelajar kembali diarahkan mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.
“Syukurlah cuaca sudah mulai membaik, makanya sejak hari Senin lalu kami tidak mengeluarkan surat edaran lagi, menghentikan BDR dan tidak diperpanjang,” kata Samson kepada Korankaltim.com Jumat (16/10/2026).
Pembelajaran tatap muka perlu kembali dioptimalkan karena BDR memiliki keterbatasan dalam memastikan pelajar mengikuti proses belajar secara maksimal. Selama belajar dari rumah, guru tetap memberikan tugas tetapi para pelajar tidak selalu mendapatkan pendampingan langsung seperti ketika berada di kelas.

“Kami tidak menginginkan anak-anak itu tidak mendapat pelajaran yang seharusnya. Dengan adanya BDR, anak-anak ini mungkin banyak yang tidak serius belajar di rumah. Kami juga tidak mau ada ketinggalan materi-materi yang diberikan oleh guru,” tegas Samson.
Penghentian BDR dilakukan agar proses pembelajaran kembali berjalan sesuai jadwal, namun Disdikbud tetap mempertimbangkan kondisi kualitas udara di setiap wilayah Mahulu yang tidak selalu sama. Kepala sekolah bersama dewan guru diberikan kewenangan untuk menilai kondisi kabut asap di lingkungan masing-masing.
Jika asap kembali pekat dan dinilai mengganggu kesehatan pelajar, sekolah dapat mengambil keputusan untuk tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka. Sebaliknya, jika kondisi udara memungkinkan, pelajar dapat kembali bersekolah dengan tetap memperhatikan perlindungan kesehatan, termasuk menggunakan masker.
“Kalau memang cuaca itu bagus, ya silakan saja. Tapi wajib menggunakan masker,” papar Samson.

Kalau kabut asap kembali memburuk, BDR masih dapat menjadi pilihan untuk melindungi pelajar dari paparan asap. Kebijakan tersebut akan mempertimbangkan kondisi di lapangan, terutama karena wilayah Mahulu cukup luas dan tingkat kepekatan asap bisa berbeda antardaerah.
Dengan penghentian BDR secara umum, Disdikbud Mahulu berharap pembelajaran tatap muka dapat kembali berjalan optimal tanpa mengabaikan faktor kesehatan apabila kondisi kabut asap kembali meningkat.
Editor: Aspian Nur









Pusat gempa berada di darat 21 km barat Kab. Garut
15 Okt 2026, 22:32:38 WIB • Kedalaman 4 km
Gempa ini dirasakan untuk diteruskan pada masyarakat
Sumber: BMKG